Massa ForBALI Adakan Aksi Parade Budaya Geruduk DPRD Bali, Bentangkan Spanduk Sangut

INDONESIASATU.CO.ID:

DENPASAR- ForBALI bersama Pasubayan Desa Adat se- Bali menggelar Aksi "ParadeBudaya" Jumat (24/5) mendesak DPRD Bali agar bersikap tegas menolak reklamasi Teluk Benoa. Sekitar pukul 14.00 Wita Massa ForBALI berkumpul di Parkir Timur Renon. Ribuan Massa ForBALI konvoi menuju Monumen Perjuangan Bajra Sandi mendapatkan pengawalan 3 Unit Kendaraan bermotor dari pihak Kepolisian. " Kami perempuan forBali konsisten menolak Reklamasi Teluk Benoa walau mendapat nyinyiran terutama di Dunia Maya", Ujar Perwakilan forBALI Basis Karangasem Ayu Fitrie menyampaikan orasinya dilanjutkan perform GOLDVOICE menghibur massa forBALI.

Berlanjut massa forBALI menuju Kantor DPRD Provinsi Bali sambil meneriakan "Adi wiryatama Kami datang lagi". Setelah sampai di depan Kantor DPRD Provinsi Bali Massa forBALI kali ini memasang sebuah spanduk dengan karakter Sangut di bentangkan di depan Gedung Dewan. Spanduk tersebut merupakan bentuk satir terhadap sikap dewan yang dinilai oportunis.

“Sangut adalah salah satu karakter dalam pewayangan Bali, karakter yang oportunis, yang mau menyelamatkan dirinya sendiri. Sebagai suatu sindiran (untuk dewan), bahwa mereka selama ini berkarakter seperti Sangut,” kata KoordinatorUmum ForBALI, I Wayan “Gendo” Suardana saat orasi di Depan Kantor DPRD Provinsi Bali.

"Rakyat Bali membutuhkan wakil rakyat yang berani bersikap untuk rakyat. Itu sebabnya, ForBALI akan terus mendesak untuk segera menggelar rapat paripurna dan memutuskan menolak reklamasi Teluk Benoa Kemudian segera bersurat kepada Presiden RI Joko Widodo untuk meminta pembatalan Perpres No.51 Tahun 2014, serta meminta Presiden untuk mengembalikan kawasan perairan Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi",tegas Gendo.Mengingat, DPRD Bali seharusnya memperjuangkan aspirasi rakyat. “Selama 6 tahun DPRD Bali tidak ngapa-ngapain, Ketua DPRD Bali hanya mengambil momentum-momentum yang menguntungkan dia,” imbuhnya.

Saat Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan menolak reklamasi Teluk Benoa sambil mengepalkan tangan kiri pada 24 Agustus 2018 Ketua DPRD Bali ikut menolak sekaligus menyindir gerakan Bali Tolak Reklamasi, tapi tidak pernah melakukan tindakan yang serius secara kelembagaan. Begitu juga tidak pernah mengambil mekanisme politik sebagaimana fungsinya sebagai wakil rakyat. “Bagi kami itu adalah karakter Sangut,” pungkasnya.

Massa forBALI kemudian di hibur oleh alunan musik Navicula Band. Sebelum acara Parade Budaya berakhir Direktur WALHI Bali I Made Juli Untung Pratama menyampaikan pernyataan sikap Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) sebagai berikut :

1. Menuntut DPRD Bali untuk segera menggelar rapat paripurna dan memutuskan untuk menolak reklamasi Teluk Benoa dan bersurat kepada Presiden Joko Widodo untuk meminta Presiden mengubah mengembalikan Kawasan Perairan Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi.

2. Mendesak setiap partai politik yang telah menyatakan menolak reklamasi Teluk Benoa, melalui Dewan Pimpinan Pusat (DPP) untuk : mengeluarkan sikap secara tertulis menolak reklamasi Teluk Benoa, keputusan masing-masing DPP Partai tersebut wajib diperjuangkan dan diwujudkan dalam bentuk keputusan politik di level kekuasaan, baik di DPR-RI,DPRD Bali dan DPRD Kabupaten/Kota se-Bali melalui mekanisme rapat paripurna khusus untuk membahas mengenai Reklamasi Teluk benoa.

3. Menuntut Gubernur Bali Wayan Koster untuk segera memastikan agar Presiden Joko Widodo untuk secepat mungkin melakukan revisi Perpres No.51 Tahun 2014 sebagaimana surat yang disampaikan oleh Gubernur kepada Presiden.

4. Menuntut Susi Pudjiastuti selaku Menteri Kelautan dan Perikanan Mencabut Izin Lokasi Reklamasi Teluk Benoa yang telah di terbitkan pada tanggal 28 November 2018 kepada PT.TWBI serta meminta maaf secara terbuka kepada rakyat Bali atas perbuatannya yang telah menerbitkan Izin Lokasi Reklamasi teluk Benoa yang baru.

5. Meminta Presiden Joko Widodo untuk membatalkan Perpres No.51 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 45 tahun 2011 tentang rencana tata ruang kawasan perkotaan SARBAGITA dengan memberlakukan kembali Perpres 45 Tahun 2011 tentang rencana tata ruang kawasan perkotaan SARBAGITA, atau setidak-tidaknya mengembalikan status kawasan Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi. (GUN)

  • Whatsapp

Index Berita