Indonesia Jangan Menjadi Penonton di Tengah Perang Peradaban Baru

Indonesia Jangan Menjadi Penonton di Tengah Perang Peradaban Baru
Oleh: Rosihan Arsyad – Ketua Dewan Redaksi
Dunia sedang bergerak menuju sebuah zaman yang penuh ketidakpastian. Persaingan Amerika Serikat dan China kini tidak lagi sekadar perebutan pasar dagang, investasi, atau dominasi teknologi. Persaingan itu telah menjelma menjadi pertarungan pengaruh global yang dapat menentukan arah masa depan umat manusia. Dalam banyak aspek, dunia hari ini sedang memasuki fase baru dari perang peradaban modern.
Di tengah situasi itu, Indonesia tidak boleh hanya berdiri sebagai penonton.
Kita sering merasa aman karena tidak terlibat langsung dalam konflik besar dunia. Padahal, secara geopolitik, Indonesia berada di salah satu titik paling strategis di muka bumi. Jalur laut Nusantara, Selat Malaka, Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), hingga kawasan Indo-Pasifik merupakan urat nadi perdagangan dan energi global. Bila konflik besar benar-benar terjadi, kawasan ini akan menjadi lintasan utama perebutan pengaruh dan pengendalian militer dunia.
Kita harus memahami bahwa bentuk peperangan masa depan sudah berubah. Perang tidak selalu dimulai dengan dentuman meriam atau invasi besar-besaran. Perang modern bisa hadir melalui blokade ekonomi, gangguan rantai pasok energi, serangan siber, sabotase digital, manipulasi kecerdasan buatan, hingga penguasaan data global.
Hari ini, dunia sedang menyaksikan perlombaan besar dalam pengembangan Artificial Intelligence (AI). Pada satu sisi, AI memberikan manfaat besar bagi kemajuan manusia. Namun pada sisi lain, AI mulai dimasukkan ke dalam sistem pertahanan dan pengambilan keputusan militer. Ini adalah perkembangan yang harus diawasi dengan serius.
Ketika algoritma mulai menentukan arah senjata, membaca ancaman, dan memproses keputusan tempur dalam hitungan detik, maka ruang pengendalian manusia semakin menyempit. Kesalahan kecil dalam sistem dapat memicu eskalasi besar yang sulit dihentikan. Dunia tidak boleh membiarkan teknologi berkembang tanpa etika dan pengawasan global.
Karena itu, ancaman terbesar masa depan bukan hanya perang fisik, tetapi juga hilangnya kendali manusia terhadap teknologi yang diciptakannya sendiri.
Bagi Indonesia, tantangan ini harus dijawab dengan cara berpikir baru. Kita tidak cukup hanya membangun pertahanan konvensional. Kita membutuhkan strategi nasional yang lebih adaptif, modern, dan berbasis ketahanan jangka panjang.
Pertama, Indonesia harus memperkuat ketahanan nasional secara menyeluruh. Kemandirian pangan, energi, industri strategis, konektivitas antarpulau, dan pertahanan siber harus menjadi prioritas utama. Negara kepulauan sebesar Indonesia tidak boleh bergantung penuh pada rantai pasok global yang sangat rentan terhadap konflik internasional.
Kedua, Indonesia harus memperkuat peran ASEAN sebagai jangkar stabilitas kawasan. Asia Tenggara jangan hanya menjadi arena perebutan pengaruh negara-negara besar. ASEAN harus mampu berdiri sebagai kekuatan penyeimbang yang menjaga kawasan tetap damai, terbuka, dan inklusif.
Ketiga, Indonesia perlu mengambil peran lebih aktif dalam memperjuangkan tata dunia yang lebih adil bersama negara-negara Global South. Negara-negara berkembang tidak boleh terus menjadi objek permainan geopolitik global. Kita memiliki kekuatan sumber daya alam, jalur perdagangan, dan populasi besar yang dapat menjadi modal penting untuk membangun keseimbangan dunia baru.
Lebih jauh lagi, dunia membutuhkan kesepakatan internasional yang jelas mengenai pembatasan militerisasi AI dan pengembangan Artificial Super Intelligence (ASI). Teknologi harus tetap menjadi alat untuk membantu peradaban manusia, bukan ancaman yang menghancurkan peradaban itu sendiri.
Indonesia memiliki sejarah panjang dalam diplomasi perdamaian dunia. Semangat Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non-Blok harus dihidupkan kembali dalam bentuk yang lebih relevan dengan tantangan zaman modern. Diplomasi Indonesia tidak boleh pasif. Kita harus menjadi bagian dari solusi global.
Pada akhirnya, masa depan dunia tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan manusia menjaga akal sehat, etika, dan keseimbangan peradaban.
Indonesia harus bersiap menghadapi dunia baru yang jauh lebih kompleks. Bukan dengan rasa takut, melainkan dengan visi, persatuan, dan keberanian untuk menentukan arah sejarahnya sendiri.
Karena bangsa yang besar tidak menunggu masa depan datang menghampirinya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membaca zaman dan mempersiapkan dirinya sebelum badai benar-benar tiba.



