
Menjaga Iman di Tengah Dunia yang Tak Pernah Diam
Oleh: Bangun Lubis – Pemimpin Redaksi
Di suatu pagi yang tampak biasa, manusia bergegas memulai hari. Jalanan ramai, telepon genggam penuh notifikasi, pekerjaan menunggu untuk diselesaikan, dan pikiran dipenuhi target yang belum tercapai. Dunia bergerak cepat—bahkan terlalu cepat—hingga sering kali kita tidak sempat bertanya: ke mana sebenarnya arah hidup ini?
Kesibukan hari ini bukan lagi sekadar aktivitas, melainkan telah menjadi identitas. Siapa yang paling sibuk, ia dianggap paling berhasil. Siapa yang paling produktif, ia dipandang paling bernilai. Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang sering terabaikan: bagaimana keadaan iman kita?
Rasulullah SAW telah mengingatkan umatnya jauh sebelum zaman ini tiba. Beliau bersabda: “Bersegeralah kalian melakukan amal-amal saleh sebelum datang fitnah seperti potongan malam yang gelap…”* (HR. Muslim)
Hadis ini seakan menggambarkan zaman kita hari ini. Fitnah itu tidak selalu datang dalam bentuk kekacauan besar. Ia hadir dalam bentuk kesibukan yang melalaikan, kenyamanan yang menipu, dan dunia yang terasa begitu memikat hingga membuat manusia lupa pada tujuan sejatinya.
Ketika Dunia Menguasai Hati
Tidak ada yang salah dengan bekerja keras. Tidak ada yang salah dengan mencari nafkah, membangun karier, atau meraih kesuksesan. Islam bahkan mendorong umatnya untuk menjadi kuat, mandiri, dan produktif.
Namun masalah muncul ketika dunia tidak lagi berada di tangan, melainkan masuk ke dalam hati.
Ketika seseorang mulai mengukur nilai hidupnya dari materi yang dimiliki, jabatan yang diraih, atau pengakuan manusia, saat itulah ia sedang berada di titik yang berbahaya.
Allah SWT mengingatkan:“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah…”* (QS. Al-Munafiqun: 9)
Ayat ini tidak melarang kita mencintai dunia. Tetapi ia memberi peringatan tegas: jangan sampai dunia mengambil alih hati kita. Karena ketika hati telah dikuasai dunia, maka iman perlahan akan tersisih.
Iman yang Memudar Tanpa Disadari
Iman tidak hilang secara tiba-tiba. Ia tidak lenyap dalam satu kejadian besar. Ia memudar perlahan, hampir tanpa terasa.
Dimulai dari menunda shalat karena kesibukan. Lalu merasa biasa saja ketika melewatkan dzikir. Kemudian merasa tidak bersalah ketika sehari berlalu tanpa membaca Al-Qur’an. Lama-kelamaan, hati menjadi terbiasa dengan kelalaian.
Seorang sahabat pernah berkata, “Kami dahulu merasa berdosa karena satu kesalahan kecil. Kini manusia melakukan banyak kesalahan, tetapi menganggapnya biasa.”
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya iman itu bisa usang dalam hati sebagaimana pakaian menjadi usang…”(HR. Thabrani)
Betapa dalam makna hadis ini. Jika pakaian saja perlu diperbarui agar tetap layak dipakai, maka iman pun demikian. Ia membutuhkan perawatan.
Namun ironisnya, manusia lebih sibuk memperbarui penampilan luar daripada memperbarui kondisi batinnya.
Kisah yang Menggugah
Ada sebuah kisah yang begitu menggugah dari Umar bin Khattab.
Suatu malam, beliau berkeliling memantau keadaan rakyatnya. Dalam perjalanan itu, ia melihat seorang ibu sedang memasak sesuatu untuk anak-anaknya yang menangis kelaparan. Namun ternyata, yang dimasak hanyalah air dan batu, sekadar untuk menenangkan anak-anaknya agar mereka tertidur.
Mendengar itu, Umar menangis. Ia segera kembali ke Baitul Mal, memikul sendiri karung gandum di pundaknya. Ketika seorang pembantunya menawarkan bantuan, Umar berkata:
“Apakah engkau akan memikul dosaku di hari kiamat?”
Ia lalu memasak sendiri makanan untuk keluarga tersebut, dan tidak pergi sebelum memastikan anak-anak itu kenyang dan tertawa.
Apa yang bisa kita pelajari dari kisah ini?
Umar adalah pemimpin besar. Ia memiliki kekuasaan, tanggung jawab, dan kesibukan yang luar biasa. Namun semua itu tidak membuatnya lalai dari iman. Justru kesibukan itu ia jadikan jalan untuk mendekat kepada Allah. Inilah perbedaan antara orang yang menjaga iman dan yang terlalai oleh dunia.
Tidak semua kesibukan bernilai ibadah.
Ini adalah kenyataan yang perlu disadari. Banyak orang merasa telah menjalani hidup yang penuh makna hanya karena mereka sibuk. Padahal belum tentu kesibukan itu bernilai di sisi Allah.
Imam Hasan al-Basri pernah berkata: “Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap hari yang berlalu, maka berkuranglah bagian dari dirimu.”
Kalimat ini sederhana, tetapi sangat dalam. Waktu yang kita miliki bukan hanya untuk diisi, tetapi untuk dipertanggungjawabkan.
Kesibukan yang tidak diarahkan kepada Allah hanya akan menjadi kelelahan tanpa makna. Sebaliknya, aktivitas yang sederhana bisa menjadi ibadah jika diniatkan dengan benar.
Dunia yang Menipu
Rasulullah SAW bersabda: “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Ia tahu bahwa kehidupan ini hanya sementara.
Namun dunia tidak menipu dengan cara yang kasar. Ia menipu dengan halus. Ia memberi kenyamanan, lalu membuat manusia lupa. Ia memberi kesibukan, lalu membuat manusia lalai. Ia memberi keberhasilan, lalu membuat manusia merasa cukup tanpa Allah. Di sinilah letak ujian yang sebenarnya.
Sahabat Nabi, Abu Darda, pernah menasihati seseorang yang terlalu sibuk dengan dunia:
“Sesungguhnya aku khawatir engkau akan menjadi orang yang paling menyesal di hari kiamat—yaitu orang yang paling banyak mengumpulkan dunia, tetapi paling sedikit amalnya.”
Nasihat ini terasa sangat relevan hari ini. Berapa banyak orang yang berhasil dalam urusan dunia, tetapi kosong dalam urusan akhirat? Berapa banyak yang dikenal manusia, tetapi tidak dikenal di sisi Allah?
Menghidupkan Iman
Menjaga iman bukan berarti meninggalkan dunia. Justru sebaliknya, kita harus hidup di dunia dengan cara yang benar.
Pertama, menjaga shalat tepat waktu. Ini adalah tiang utama. Siapa yang menjaga shalatnya, maka ia sedang menjaga hubungannya dengan Allah.
Kedua, memperbanyak dzikir. Di tengah kesibukan, lidah tetap bisa menyebut nama Allah.
Ketiga, membaca Al-Qur’an secara konsisten. Walau sedikit, tetapi terus-menerus.
Keempat, meluruskan niat dalam setiap aktivitas. Jadikan pekerjaan sebagai ibadah, bukan sekadar rutinitas.
Kelima, mencari lingkungan yang baik. Karena iman sangat dipengaruhi oleh lingkungan.
Cobalah bertanya pada diri sendiri:
- Apakah kita masih merasa bersalah ketika lalai?
- Apakah hati kita masih tersentuh ketika mendengar ayat Al-Qur’an?
- Apakah kita masih merindukan ibadah?
Jika jawabannya mulai samar, maka itulah tanda bahwa iman perlu diperbaiki.
Namun jangan putus asa. Karena selama kita masih ingin kembali, maka pintu itu masih terbuka.
Hidup ini tidak panjang. Dunia ini tidak abadi. Kesibukan ini suatu saat akan berhenti. Dan ketika semua itu berakhir, yang tersisa hanyalah amal.
Maka sebelum terlambat, sebelum hati menjadi keras, sebelum waktu benar-benar habis—marilah kita kembali.
- Kembali memperbaiki iman.
- Kembali mendekat kepada Allah.
- Kembali menata hidup dengan tujuan yang benar.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa sibuk kita di dunia yang akan ditanya. Tetapi seberapa dekat kita kepada Allah.
–


