SISI LAIN

Antara SWIFT, CIPS, dan Bridge: Pilihan Strategis Indonesia Menuju Kemandirian Ekonomi

 

​Oleh: Rosihan Arsyad  – Laksamana Muda TNI (Purn) / Pengamat Strategi Pertahanan dan Geopolitik

Anatomi konflik global telah bermutasi. Jika di masa lalu kedaulatan sebuah negara diukur dari daya gentar armada perang di lautan dan kekuatan tempur di darat, hari ini garis pertahanan terdepan telah bergeser ke ranah algoritmik dan infrastruktur finansial. Kita tidak lagi hanya menghadapi ancaman proyektil, melainkan senjata bentuk baru: weaponization of finance atau persenjataan sistem keuangan.

​Dalam konstelasi yang semakin multipolar ini, dominasi absolut Dolar AS yang ditopang oleh sistem pengiriman pesan finansial SWIFT tengah menghadapi tantangan eksistensial. Kemunculan CIPS (Cross-Border Interbank Payment System) dari Tiongkok, serta yang paling revolusioner, proyek mBridge (Sistem Transfer Keuangan Digital Antar-Bank Sentral), memaksa negara-negara Global South—termasuk Indonesia—untuk memetakan ulang kompas strateginya.

​Bagi Republik ini, pertanyaannya bukan sekadar sistem mana yang biaya administrasinya lebih murah, melainkan sistem mana yang mampu menjamin kedaulatan ekonomi kita di tengah badai rivalitas negara adidaya.

​Hegemoni SWIFT dan Kerentanan Struktural

​Selama beberapa dekade, SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication) menikmati status monopoli sebagai “sistem saraf pusat” keuangan global. Namun, status netralitasnya telah lama gugur. Ketika Amerika Serikat dan sekutunya memiliki tuas untuk memutus akses sebuah negara dari SWIFT—seperti yang terjadi pada Iran dan Rusia—sistem ini bertransformasi menjadi instrumen geopolitik yang mematikan.

​Bagi Indonesia, ketergantungan absolut pada SWIFT dan Dolar AS dalam perdagangan bilateral menyimpan kerentanan struktural yang akut. Setiap kali kita mengimpor mesin dari Tiongkok atau mengekspor batu bara, transaksi tersebut harus transit melintasi Samudra Pasifik, dikonversi ke Dolar AS, sebelum akhirnya dicairkan ke Renminbi (RMB) atau Rupiah.

​Proses ganda ini menciptakan “pajak tak terlihat” berupa selisih kurs ganda (double spread) dan waktu penyelesaian yang panjang. Lebih fatal lagi, dominasi ini membuka pintu masuk bagi inflasi impor (imported inflation). Saat Bank Sentral AS menaikkan suku bunga, Rupiah terguncang, dan biaya industri nasional melonjak tajam—bukan karena fundamental ekonomi kita lemah, melainkan karena ketergantungan kita pada likuiditas mata uang mereka.

Baca Juga  Bertumbuh Bersama: Jalan Terang Mencerdaskan Anak dan Orang Tua

​CIPS: Jalan Tol Alternatif yang Pragmatis

​Sebagai respons atas kerentanan tersebut, Tiongkok membangun CIPS. Ini bukan sekadar sistem kliring; ini adalah benteng pertahanan ekonomi Tiongkok untuk memastikan rantai pasok Belt and Road Initiative tidak lumpuh jika sewaktu-waktu AS menjatuhkan “nuklir finansial”.

​Bagi Indonesia, CIPS menawarkan pragmatisme tingkat tinggi. Melalui skema Local Currency Transaction (LCT) yang disepakati oleh Bank Indonesia dan People’s Bank of China (PBOC), transaksi bilateral kini bisa memotong jalur perantara Dolar. Importir dan eksportir menanggung biaya yang jauh lebih efisien dengan penyelesaian seketika (real-time).

​Namun, kita harus objektif. CIPS bukanlah pengganti SWIFT secara global. CIPS adalah ekosistem yang dirancang khusus untuk internasionalisasi RMB. Jika Indonesia hanya beralih dari SWIFT ke CIPS secara eksklusif, kita hanya menukar satu bentuk ketergantungan hegemoni dengan bentuk kebergantungan yang lain.

​Disrupsi mBridge: Menuju Multipolaritas Finansial

​Titik balik sesungguhnya (game changer) dalam arsitektur keuangan global terletak pada proyek mBridge. Diinisiasi oleh Bank for International Settlements (BIS) bersama bank sentral Tiongkok, Hong Kong, Thailand, Uni Emirat Arab, dan kini diikuti oleh pengamat dari puluhan negara bagian termasuk Arab Saudi, mBridge adalah platform lintas batas berbasis Mata Uang Digital Bank Sentral (Central Bank Digital Currency / CBDC).

​Jika SWIFT adalah telegram masa lalu dan CIPS adalah mesin faks berkecepatan tinggi, maka mBridge adalah jaringan blockchain masa depan. Sistem ini memungkinkan bank sentral dari berbagai negara bertransaksi langsung satu sama lain secara peer-to-peer dalam hitungan detik, tanpa perlu melewati bank koresponden pihak ketiga mana pun.

Baca Juga  Antara Sunyi Perpustakaan dan Perintah “Iqra' - Membaca: Jalan Sunyi Menuju Kebangkitan Peradaban

​Keunggulan mBridge sangat radikal: sistem ini terdesentralisasi. Tidak ada satu pun negara yang bisa secara sepihak mematikan saklar akses negara lain. Ini adalah bentuk paling murni dari demokratisasi dan de-dolarisasi infrastruktur keuangan global.

​Arah Kompas Nusantara: Bebas Aktif secara Moneter

​Di tengah persimpangan SWIFT, CIPS, dan mBridge, apa yang harus menjadi pilihan strategis Indonesia?

​Jawabannya adalah menerapkan doktrin politik luar negeri Bebas Aktif di ranah moneter dan infrastruktur finansial. Kedaulatan tidak berarti mengisolasi diri, melainkan memiliki fleksibilitas dan otonomi untuk memilih instrumen terbaik demi kepentingan nasional.

​Pertama, Indonesia harus mengoptimalkan penggunaan CIPS dan LCT untuk mitra dagang strategis secara bilateral guna melindungi devisa negara dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

​Kedua, Bank Indonesia harus terus memperkuat penetrasi QRIS Cross-Border dan inisiatif Project Nexus sebagai fondasi kedaulatan transaksi ritel di kawasan ASEAN. Kita harus menjadi tuan rumah di perairan regional kita sendiri.

​Ketiga, Republik ini harus secara agresif mengambil peran dalam pengembangan mBridge atau platform CBDC sejenis, guna memastikan Rupiah Digital nantinya memiliki infrastruktur interoperabilitas yang setara di kancah global.

​Pada akhirnya, mengemudikan Republik di tengah badai krisis global membutuhkan lebih dari sekadar diplomasi di atas meja perundingan. Memilih untuk mendiversifikasi rute transaksi keuangan bukan sekadar soal efisiensi bisnis; ini adalah manifestasi dari pertahanan nasional semesta. Kedaulatan ekonomi Indonesia di abad ke-21 hanya akan terwujud jika kita mampu melepaskan diri dari monopoli sistem tunggal, dan berani menavigasi arus multipolaritas finansial dengan kompas kemandirian kita sendiri.

26 April 2026

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button