NEWS

Menunaikan Haji: Ketika Hati Tak Lagi Sama

Ini adalah perjalanan batin. Ini bukan perjalanan biasa

Oleh: Salamah Syahabudin – Jamaah Haji Palembang / Wartawan Media WartawanIndonesia.Com

Ahad itu menjadi hari yang tidak akan mudah saya lupakan. Dari Palembang, bersama rombongan kloter 4 gelombang pertama jamaah haji Sumatera Selatan, saya melangkah menuju sebuah perjalanan yang sejak lama hanya saya sebut dalam doa. Sebuah perjalanan yang tidak sekadar memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain, tetapi membawa hati menuju ruang yang selama ini hanya saya bayangkan dalam rindu.

Saya bukan orang yang baru pertama kali datang ke Tanah Suci. Tiga kali umrah telah saya jalani. Saya mengenal langkah di pelataran masjid, saya hafal alur ibadah, dan saya pernah merasakan damai yang begitu dalam di hadapan Ka’bah. Dalam benak saya, perjalanan ke Tanah Suci bukan lagi sesuatu yang asing.

Namun ternyata, saya keliru.

Haji bukanlah umrah yang dipanjangkan. Haji adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Ia bukan sekadar pengulangan dari apa yang pernah saya lakukan, melainkan sebuah perjalanan baru yang membawa rasa yang sama sekali lain. Sejak awal keberangkatan, saya sudah merasakan perbedaan itu. Ada suasana yang sulit dijelaskan—campuran antara haru, bahagia, takut, dan entah kenapa… ada sedikit rasa sedih yang ikut menyelinap tanpa diundang.

Di dalam pesawat yang membawa kami menuju Madinah, saya mencoba menenangkan diri. Namun justru di situlah, rasa itu semakin kuat. Saya melihat wajah-wajah jamaah lain—ada yang tersenyum, ada yang terdiam, ada yang memejamkan mata sambil berzikir. Tapi saya yakin, di dalam hati masing-masing, ada gelombang yang sama: perasaan yang tidak biasa.

Ini bukan perjalanan wisata. Ini bukan sekadar perjalanan ibadah. Ini adalah perjalanan batin.

Dan perjalanan ini tidak singkat. Tiga puluh lima hari akan saya jalani di tanah yang diberkahi ini. Sebuah waktu yang cukup panjang, bukan hanya untuk menjalankan rangkaian ibadah, tetapi untuk belajar memahami diri sendiri. Delapan hari pertama akan kami habiskan di Madinah, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan menuju Makkah. Delapan hari yang sekilas terasa seperti jeda, namun sesungguhnya adalah persiapan—persiapan hati.

Baca Juga  Layanan “Jimput” Diluncurkan, Wali Kota Ratu Dewa Ajak Warga Palembang Tuntaskan Masalah Sampah Besar

Di Madinah, saya mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Kota ini tidak gaduh. Ia lembut, tenang, dan seolah memeluk setiap jiwa yang datang dengan rindu. Di sinilah Rasulullah SAW pernah berjalan, di sinilah beliau berdakwah, dan di sinilah beliau kini beristirahat dalam damai. Kesadaran itu membuat setiap langkah terasa lebih hati-hati, setiap doa terasa lebih dalam.

Saya duduk di dalam Masjid Nabawi, memandang sekeliling, dan merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Waktu seolah berjalan lebih lambat. Hati terasa lebih peka. Dan tanpa disadari, air mata sering kali jatuh begitu saja. Bukan karena sedih, tetapi karena ada rasa yang terlalu penuh untuk ditampung.

Di kota ini, saya seperti diajak untuk diam. Untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia yang selama ini begitu dekat. Untuk mendengar suara hati sendiri—suara yang sering kali tenggelam dalam kesibukan.

Namun di balik ketenangan itu, ada kesadaran yang perlahan tumbuh.

Bahwa perjalanan ini bukan sekadar tentang datang dan melihat, bukan sekadar menjalankan rangkaian ibadah yang telah diatur. Perjalanan ini adalah tentang kembali. Kembali kepada Allah dengan cara yang lebih jujur.

Saya mulai mengingat banyak hal. Kesalahan-kesalahan kecil yang dulu terasa sepele, kini muncul kembali dengan jelas. Kata-kata yang pernah terucap, sikap yang pernah dilakukan, semuanya seperti diputar ulang dalam ingatan. Dan di tengah semua itu, saya hanya bisa berdoa dalam hati: Ya Allah, jika Engkau panggil aku ke sini, jangan Engkau kembalikan aku dengan tangan kosong.

Perasaan lain yang juga muncul adalah rindu. Namun rindu kali ini berbeda. Ia bukan sekadar rindu untuk melihat Ka’bah atau berada di Tanah Suci. Ia adalah rindu untuk menjadi lebih dekat kepada Allah. Rindu untuk merasakan kehadiran-Nya dengan cara yang lebih nyata.

Baca Juga  Surprise ! Surat Menteri Kebudayaan: Peluang Alih Kelola Benteng Kuto Besak 

Delapan hari di Madinah ini terasa seperti proses penenangan sebelum memasuki fase berikutnya. Karena setelah ini, perjalanan akan berlanjut menuju Makkah—sebuah tempat yang selama ini menjadi pusat rindu, tetapi juga kini mulai menghadirkan rasa yang lain: takut.

Saya rindu untuk kembali melihat Ka’bah. Rindu untuk bersujud di hadapannya. Namun di sisi lain, ada rasa takut yang sulit dijelaskan. Takut jika hati ini belum siap. Takut jika ibadah ini tidak sebaik yang seharusnya. Takut jika perjalanan ini hanya menjadi rutinitas tanpa makna.

Makkah bukan sekadar tujuan. Ia adalah puncak. Dan setiap puncak selalu menuntut kesiapan.

Ketika saya menyadari bahwa perjalanan ini akan berlangsung selama 35 hari, saya sempat berpikir bahwa ini adalah waktu yang panjang. Namun kini saya mulai memahami bahwa ini bukan soal panjang atau singkatnya waktu, melainkan tentang bagaimana waktu itu mengubah kita.

Tiga puluh lima hari ini adalah kesempatan. Kesempatan untuk memperbaiki yang rusak, membersihkan yang kotor, dan kembali kepada Allah dengan cara yang lebih utuh. Saya tidak ingin perjalanan ini berlalu begitu saja. Saya ingin setiap harinya memiliki makna, setiap langkahnya menjadi doa, dan setiap detiknya menjadi bagian dari perubahan.

Saya tidak tahu bagaimana saya akan melalui semua ini. Saya tidak tahu seberapa kuat saya nanti, atau seberapa sabar saya akan diuji. Namun saya tahu satu hal: saya tidak sendiri. Ada ribuan jamaah lain yang berjalan bersama saya, ada doa-doa yang mengalir dari keluarga di tanah air, dan yang paling penting, ada Allah yang memanggil dan—insyaAllah—akan membimbing.

Kini saya berada di awal perjalanan ini. Segala perasaan yang datang—haru, bahagia, takut, dan sedih—bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Ia adalah bagian dari proses. Proses untuk menjadi lebih jujur kepada diri sendiri, lebih rendah hati di hadapan Allah, dan lebih siap untuk menerima apa pun yang akan terjadi.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button