SISI LAIN

Antara Sunyi Perpustakaan dan Perintah “Iqra’ – Membaca: Jalan Sunyi Menuju Kebangkitan Peradaban

Oleh: Bangun Lubis — Pemimpin Redaksi

Antara Sunyi Perpustakaan dan Perintah “Iqra’ – Membaca: Jalan Sunyi Menuju Kebangkitan Peradaban

Ada rasa takjub yang sulit disembunyikan ketika mendengar pandangan seorang sahabat sederhana, Drs. H. Sukardjo Marum.

Ia bukan profesor, bukan pula peneliti besar. Ia hanyalah seorang pengusaha mebel. Namun dari kesehariannya yang tampak biasa itu, lahir kegelisahan yang luar biasa: kegelisahan tentang hilangnya budaya membaca di tengah generasi kita.

Di sebuah mushalla kecil di kawasan Citra Damai, Palembang, ia pernah berujar lirih,

Kita ini sedang kehilangan sesuatu yang sangat penting… yaitu minat membaca.”

Kalimat itu sederhana. Tetapi mengandung gema yang panjang—sepanjang sejarah peradaban manusia.

Generasi yang Menjauh dari Buku

Apa yang dirasakan Sukardjo bukan sekadar perasaan personal. Banyak kajian menguatkan kenyataan itu. Laporan dari UNESCO sering dikutip menyebut rendahnya minat baca masyarakat di Indonesia. Sementara itu, studi dari OECD melalui program PISA menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca pelajar Indonesia masih tertinggal dibanding banyak negara lain.

Perpustakaan—yang seharusnya menjadi pusat peradaban—perlahan menjadi sunyi. Rak-rak buku berdiri rapi, tetapi kehilangan sentuhan tangan pembaca. Kursi-kursi kosong seakan menjadi saksi bahwa kita sedang menjauh dari sumber ilmu.

Kita hidup di zaman informasi, tetapi miskin pemahaman. Kita membaca cepat, tetapi jarang merenung. Kita tahu banyak hal, tetapi tidak mendalam.

Pemandangan Berbeda dari Negeri Lain

Berbeda jauh dengan apa yang disaksikan di negara seperti China.

Di kota-kota besar seperti Shanghai dan Beijing, antrean panjang untuk masuk perpustakaan adalah pemandangan biasa. Orang rela menunggu satu hingga dua jam hanya untuk mendapatkan kesempatan duduk dan membaca.

Data dari Chinese Academy of Press and Publication menunjukkan bahwa minat baca masyarakat China terus meningkat setiap tahun. Pemerintahnya secara konsisten mendorong gerakan literasi nasional, menjadikan membaca sebagai bagian dari budaya hidup

Di sana, membaca bukan sekadar. aktivitas akademik—tetapi kebutuhan sehari-hari. Dan dari sanalah lahir kemajuan teknologi, inovasi, dan kekuatan ekonomi yang kini diakui dunia.

Membaca: Perintah  yang Terlupakan

Namun sesungguhnya, jauh sebelum dunia modern berbicara tentang literasi, Islam telah lebih dahulu menegaskannya.

Ketika wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad  melalui Malaikat Jibril, perintah yang disampaikan bukanlah ibadah ritual, melainkan satu kata yang menjadi fondasi peradaban:

> “Iqra’!” (Bacalah!).(QS. Al-Qur’an, Surah Al-‘Alaq: 1)

Perintah ini bukan sekadar membaca teks. Ia adalah panggilan untuk membaca kehidupan, memahami ilmu, dan menelusuri tanda-tanda kebesaran Allah.

Ironisnya, umat yang pertama kali diperintahkan membaca, justru kini mulai menjauh dari tradisi itu.

Suara Para Ilmuwan Dunia

Para ilmuwan besar dunia sepakat bahwa membaca adalah fondasi kemajuan manusia.

Francis Bacon pernah berkata,

Reading maketh a full man.

Membaca menjadikan manusia utuh—utuh dalam berpikir, utuh dalam bersikap.

Albert Einstein, sang jenius fisika, tumbuh dari kebiasaan membaca yang kuat sejak kecil. Ia memahami bahwa pengetahuan adalah jendela untuk melihat dunia lebih luas.

Carl Sagan menyebut buku sebagai “keajaiban” yang memungkinkan manusia berbicara lintas zaman.

Di Indonesia, Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan tanpa budaya membaca hanya akan melahirkan generasi yang lemah dalam berpikir.

Sementara Nurcholish Madjid mengingatkan bahwa kemunduran umat Islam salah satunya karena meninggalkan tradisi ilmu—dan ilmu itu lahir dari membaca.

Membaca: Jalan Menuju Peradaban

Sejarah telah membuktikan, tidak ada bangsa besar tanpa budaya membaca.

Peradaban Islam pernah mencapai puncaknya ketika tradisi membaca begitu kuat. Lahir tokoh-tokoh seperti:

  • Ibnu Sina
  • Al-Khwarizmi
  • Al-Farabi

Mereka adalah pembaca yang tekun. Mereka menghabiskan waktu dengan buku, bukan sekadar hiburan. Dari tangan mereka lahir ilmu yang menjadi dasar perkembangan dunia modern.

Begitu pula bangsa lain. Jepang bangkit setelah Perang Dunia II dengan memperkuat pendidikan dan literasi. Korea Selatan dan China melesat dengan investasi besar pada ilmu pengetahuan.

Semua itu bermula dari satu hal sederhana: membaca.

Refleksi buat Kita

Hari ini kita dihadapkan pada pilihan yang tidak sederhana:

apakah kita ingin menjadi generasi yang hanya menikmati kemajuan, atau generasi yang menciptakan kemajuan?

Sukardjo Marum mungkin tidak menulis jurnal ilmiah. Namun kegelisahannya adalah refleksi yang sangat dalam. Ia melihat sesuatu yang mungkin luput dari perhatian banyak orang: bahwa masa depan bangsa ini sedang diuji oleh seberapa kuat budaya membacanya.

Membaca bukan sekadar hobi. Ia adalah kebutuhan. Bahkan dalam Islam, ia adalah perintah.

Kita mungkin tidak bisa langsung mengubah bangsa ini. Tetapi kita bisa memulai dari diri sendiri:

  • Membuka satu buku
  • Membaca satu halaman
  • Memahami satu makna

Karena dari satu halaman, bisa lahir satu pemikiran.

Dari satu pemikiran, bisa lahir satu perubahan.

Dan dari satu perubahan, bisa lahir peradaban.

Di tengah sunyinya perpustakaan kita hari ini, semoga masih ada yang mau mendengar panggilan itu:

Iqra’…” — Bacalah.

Sebab di sanalah awal dari segala cahaya.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button