ARTIKELESAIPENULIS TAMUSISI LAIN

Indonesia Diambang Kehilangan Wajah Ramahnya

INDONESIA DI AMBANG KEHILANGAN WAJAH RAMAHNYA

Oleh: Bangun Lubis

 

Di sebuah sudut kota kecil, seorang anak muda berbicara lantang kepada orang yang lebih tua. Kata-katanya tajam, nadanya tinggi, tanpa jeda hormat yang dulu menjadi ciri khas percakapan bangsa ini. Di tempat lain, media sosial dipenuhi ujaran yang kasar, saling serang tanpa adab, seolah-olah kata-kata kehilangan ruhnya sebagai jembatan hati.

Pertanyaannya sederhana, namun menggugah: Apakah Indonesia sedang kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang beradab, santun, dan ramah?

Kegelisahan ini bukan sekadar romantisme masa lalu. Ia adalah kegelisahan peradaban. Sebab yang sedang tergerus bukan hanya tata krama, melainkan identitas batin sebuah bangsa.

Warisan Melayu: Lembut yang Menguatkan

Sejak dahulu, tanah Nusantara—terutama dalam lingkar budaya Melayu—dikenal dengan kehalusan budi. Orang Melayu tidak hanya diajarkan berbicara, tetapi bagaimana berbicara. Tidak hanya diajarkan bergaul, tetapi bagaimana menjaga perasaan orang lain.

Ungkapan seperti “bahasa menunjukkan bangsa” bukan sekadar peribahasa kosong. Ia adalah filosofi hidup. Kata-kata adalah cermin jiwa. Dari tutur, orang membaca hati.

Dalam tradisi Melayu, ada nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun:

* Mendahulukan salam sebelum bicara

* Menundukkan suara di hadapan orang tua

* Menghindari konflik terbuka

* Mengutamakan musyawarah

* Menjaga keharmonisan sosial

Ini bukan kelemahan. Justru di situlah kekuatan. Sebuah peradaban yang besar adalah peradaban yang mampu menahan diri.

Adab dalam Perspektif Ilmu dan Filsafat

Pemikir besar dunia telah lama menempatkan etika sebagai fondasi peradaban.

Aristotle menyebut bahwa keutamaan manusia lahir dari kebiasaan. Seseorang menjadi baik bukan karena tahu kebaikan, tetapi karena membiasakan diri dalam kebaikan. Dalam hal ini, sikap ramah, santun, dan penuh hormat bukanlah bawaan lahir, tetapi hasil latihan jiwa.

Sementara Immanuel Kant mengajarkan bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan, bukan alat. Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti menghargai orang lain, tidak merendahkan, tidak menyakiti—bahkan dalam perbedaan.

Lebih jauh, Norbert Elias dalam teorinya tentang proses peradaban menegaskan bahwa kemajuan manusia ditandai oleh kemampuan mengendalikan diri. Semakin tinggi peradaban, semakin halus perilakunya.

Jika hari ini kita menyaksikan kata-kata kasar menjadi biasa, caci maki menjadi hiburan, dan rasa hormat mulai luntur, maka pertanyaannya bukan lagi “apa yang terjadi pada masyarakat?”, tetapi “ke mana arah peradaban kita?”

Islam: Adab Sebagai Inti Kehidupan

Dalam Islam, adab bukan pelengkap. Ia adalah inti. Al-Ghazali menegaskan bahwa akhlak adalah gambaran dari kondisi hati. Jika hati bersih, maka perilaku akan lembut. Jika hati rusak, maka ucapan akan menyakitkan.

Lebih jauh, Ibn Khaldun melihat bahwa kehancuran suatu bangsa sering kali dimulai dari rusaknya moral dan hilangnya rasa hormat di antara warganya.

Pemikir kontemporer seperti Syed Muhammad Naquib al-Attas bahkan menyebut krisis utama umat saat ini adalah hilangnya adab. Ketika manusia tidak lagi tahu bagaimana menempatkan sesuatu pada tempatnya—termasuk dalam berbicara dan berinteraksi—maka kekacauan nilai pun tak terhindarkan.

Rasulullah SAW adalah teladan utama. Beliau tidak hanya menyampaikan kebenaran, tetapi menyampaikannya dengan kelembutan. Bahkan kepada yang membencinya sekalipun, beliau tetap menjaga adab.

Modernitas dan Krisis Kesantunan

Tidak dapat dipungkiri, dunia berubah. Teknologi berkembang, informasi mengalir tanpa batas. Namun dalam arus deras ini, ada sesuatu yang ikut hanyut: kehalusan rasa.

Media sosial, misalnya, memberi ruang bagi semua orang untuk berbicara. Namun sayangnya, tidak semua orang siap dengan adab dalam berbicara. Anonimitas melahirkan keberanian tanpa tanggung jawab. Kata-kata dilontarkan tanpa dipikirkan. Luka ditinggalkan tanpa disadari.

Budaya instan juga turut berperan. Segala sesuatu ingin cepat, termasuk dalam merespons. Tidak ada lagi jeda untuk berpikir, tidak ada lagi ruang untuk merenung. Akibatnya, reaksi lebih dominan daripada refleksi.

Individualisme pun menguat. Orang lebih fokus pada diri sendiri, pada kepentingannya, pada eksistensinya. Rasa kebersamaan yang dulu menjadi ciri khas masyarakat Indonesia perlahan memudar.

Tanda-Tanda yang Mengkhawatirkan

Jika kita jujur melihat sekitar, ada beberapa gejala yang patut direnungkan:

* Anak muda yang kehilangan rasa hormat kepada orang tua

* Perdebatan publik yang lebih banyak diisi emosi daripada argumen

* Bahasa yang semakin kasar di ruang digital

* Menurunnya budaya saling menyapa dan peduli

* Hilangnya rasa malu dalam berbuat tidak pantas. Ini bukan sekadar perubahan gaya hidup. Ini adalah pergeseran nilai.

Belajar dari Masa Lalu, Menatap Masa Depan

Namun, harapan tidak pernah benar-benar hilang. Sejarah membuktikan bahwa bangsa ini pernah berdiri kokoh dengan nilai-nilai luhur. Dari kampung-kampung sederhana hingga istana kerajaan, adab menjadi nafas kehidupan.

Kita tidak perlu kembali ke masa lalu. Tetapi kita perlu membawa nilai-nilai masa lalu ke masa depan.

Modernitas tidak harus bertentangan dengan kesantunan. Teknologi tidak harus menghilangkan adab. Justru di tengah dunia yang semakin keras, kelembutan menjadi semakin berharga.

Menghidupkan Kembali Adab: Dari Diri Sendiri

Perubahan tidak selalu harus besar. Ia bisa dimulai dari hal-hal kecil:

* Mengucapkan salam dengan tulus

* Mendengarkan tanpa memotong pembicaraan

* Menahan diri dari berkata kasar

* Menghormati perbedaan pendapat

* Menjaga etika di media sosial

Adab bukan teori. Ia adalah praktik sehari-hari.

Dan yang paling penting, adab harus diajarkan. Dari orang tua kepada anak, dari guru kepada murid, dari pemimpin kepada masyarakat. Pendidikan tanpa adab adalah kosong. Ilmu tanpa akhlak adalah berbahaya.

Peran Tokoh dan Pemimpin

Bangsa ini juga membutuhkan teladan. Pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab. Tokoh yang tidak hanya vokal, tetapi juga santun.

Karena masyarakat belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi dari apa yang diteladankan.

Menjaga yang Tersisa

Indonesia mungkin sedang diuji. Diuji oleh zaman, oleh perubahan, oleh arus global yang tak terbendung.

Namun selama masih ada orang-orang yang memilih untuk tetap santun di tengah kerasnya dunia,

yang tetap ramah di tengah dinginnya interaksi,

yang tetap menjaga adab meski tak lagi populer—maka harapan itu masih ada. Kita tidak sedang kehilangan identitas. Kita hanya sedang diuji, apakah kita mau menjaganya.

Karena pada akhirnya, sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa maju teknologinya, tetapi dari seberapa luhur akhlaknya.

Dan Indonesia, sejatinya, adalah bangsa yang besar karena budi pekertinya.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button