ECONOMI & BISNIS

Laba BRI Tumbuh 17,5 Persen, Analis Soroti Peluang Rebound Saham BBRI

JAKARTA – JP Morgan memberikan pandangan positif atau overweight terhadap saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) setelah kinerja perseroan pada semester I-2026 melampaui ekspektasi analis dan konsensus pasar. Dalam riset yang diterbitkan 31 Agustus 2026, JP Morgan menilai kinerja BBRI pada kuartal II-2026 menjadi salah satu faktor yang memperkuat keyakinan terhadap prospek saham bank pelat merah tersebut.

Analis JP Morgan Harsh Wardhan Modi AC dan Daniel Andrew Tan, CFA mencatat kinerja BBRI pada kuartal II-2026 melampaui perkiraan internal sebesar 21 persen dan konsensus pasar sekitar 12 persen. “Kinerja BBRI pada 2Q26 mengalahkan perkiraan kami sebesar 21% dan perkiraan konsensus pasar sekitar 12%. Kinerja ini terutama didorong oleh sisi biaya, sementara pendapatan hanya 2% di atas perkiraan,” dikutip dari riset JP Morgan, Kamis (3/9/2026).

JP Morgan menilai kenaikan net interest income (NII) sebesar 1 persen secara kuartalan serta net interest margin (NIM) yang sesuai ekspektasi menjadi sinyal positif bagi BBRI.

Meski demikian, lembaga keuangan global tersebut mencatat sebagian peningkatan rasio keuangan dipengaruhi lonjakan loan-to-deposit ratio (LDR) menjadi 104 persen pada kuartal II-2026. Selain pendapatan bunga, perbaikan kualitas aset turut menjadi perhatian. Provisi BBRI tercatat sebesar 326 basis points (bps) secara gross dan 199 bps secara net, sementara rasio non-performing loan (NPL) turun menjadi 2,9 persen.

Adapun loans at risk (LAR) turun 52 bps secara kuartalan menjadi 9,2 persen, sedangkan LAR coverage meningkat menjadi 57 persen. Cost-to-income ratio (CIR) juga berada di level 41,5 persen atau lebih baik dari perkiraan JP Morgan. “Kenaikan Kupedes menjadi Rp15,6 triliun pada kuartal II-2026 dibandingkan Rp15 triliun pada kuartal sebelumnya menjadi kenaikan kuartalan pertama dalam enam kuartal yang cukup menjanjikan,” tulis JP Morgan.

Baca Juga  Distorsi Ekonomi Nusantara: Reaktualisasi Pasal 33, Mengoyak Selubung Populisme, dan Kedaulatan Logistik Maritim

Meski prospek dinilai positif, JP Morgan tetap melihat sejumlah tantangan, terutama keterbatasan BBRI dalam meneruskan kenaikan cost of funds kepada debitur karena dominasi portofolio kredit berbunga tetap dan semi-tetap. Pertumbuhan kredit korporasi yang memiliki yield lebih rendah juga berpotensi memberikan tekanan terhadap NIM. Namun, JP Morgan menilai risiko tersebut sebagian besar telah tercermin dalam harga saham BBRI.

Dengan valuasi saham yang berada di bawah minus dua standar deviasi (-2SD), JP Morgan melihat peluang terjadinya rebound atau reli taktis. BBRI juga dinilai memiliki modal yang cukup besar untuk mendukung pertumbuhan dan berpotensi mempertahankan rasio pembagian dividen yang tinggi.

JP Morgan menetapkan target harga BBRI sebesar Rp3.400 per saham untuk Juni 2027. Pandangan positif juga datang dari BNI Sekuritas yang memberikan target harga Rp4.500 per saham dalam horizon tiga bulan. BNI Sekuritas menilai valuasi BBRI masih relatif murah dengan forward price to book value (PBV) satu tahun sebesar 1,4 kali dan forward price earning (PE) satu tahun sebesar 8 kali.

Sementara itu, Direktur Utama BRI Hery Gunardi sebelumnya menyebut kinerja perseroan pada semester I-2026 menunjukkan momentum pertumbuhan bisnis yang kembali menguat. Hingga akhir semester I-2026, BBRI membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp31,2 triliun atau tumbuh 17,5 persen secara tahunan. “Kinerja kami, growth is back, strong, bisa dilihat pertumbuhan laba yang cukup bagus. Kualitas pertumbuhan dari sisi disiplin pertumbuhan tetap kami jaga dan kami yakin ke depan,” kata Hery dalam konferensi pers Paparan Kinerja Triwulan II 2026, Senin (31/8/2026).

Baca Juga  Palembang, Kota Sungai yang Kian Kehilangan Nafasnya

Total aset BRI mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7 persen secara tahunan. Sementara penyaluran kredit meningkat 16,2 persen menjadi Rp1.646 triliun. Sebagai bank yang memiliki fokus besar pada segmen UMKM, portofolio kredit sektor tersebut tetap mendominasi dengan nilai mencapai Rp1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6 persen secara tahunan.

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 6,7 persen menjadi Rp1.580,7 triliun. Pertumbuhan terutama ditopang dana murah, dengan giro tumbuh 8,5 persen dan tabungan meningkat 11,3 persen.

Komposisi tersebut mendorong rasio CASA meningkat dari 65,5 persen menjadi 67,6 persen serta menekan cost of fund bank only dari 3 persen pada kuartal II-2025 menjadi 2,4 persen pada kuartal II-2026. Perbaikan juga terjadi pada kualitas aset. Rasio NPL turun dari 3,07 persen menjadi 2,9 persen, sedangkan LAR menurun dari 9,6 persen pada Desember 2025 menjadi 9,1 persen pada Juni 2026.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Hery menegaskan transformasi yang dijalankan manajemen mulai memberikan dampak positif terhadap produktivitas, efisiensi, kualitas aset, dan profitabilitas perseroan. “Transformasi yang kami jalankan secara konsisten sejak manajemen baru hadir di BRI mulai menunjukkan hasil yang positif. Kami melakukan penguatan dari sisi bisnis, budaya dan efisiensi, digitalisasi, hingga manajemen risiko yang tetap kuat,” ujarnya. (mnn)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button