
Geliat Dini Bumi Sriwijaya: Membaca Peta Kekuatan Tokoh dan Isu Strategis Jelang Pilgub Sumsel

Oleh: Bang Bangun Lubis – Wartawan Indonesia
Meskipun perhelatan Pemilihan Gubernur Sumatera Selatan (Pilgub Sumsel) secara hitungan kalender politik masih terbilang lama, riak-riak kontestasi telah berdesir kencang di ruang publik. Lembar-lembar media massa daerah, baik cetak maupun digital, kian intensif memuat pergerakan, pernyataan, dan simulasi nama-nama figur potensial.
Dinamika ini bukan sekadar luapan ambisi politik, melainkan representasi dari strategi matang para tokoh untuk menguji ombak elektoral (test water) di tengah lanskap geopolitik Sumsel yang terkenal multi-sentris dan sarat kepentingan regional.
Fenomena munculnya nama-nama kandidat sejak dini di media lokal mencerminkan karakter pemilih Sumatera Selatan yang kritis dan membutuhkan waktu panjang untuk melakukan penilaian (appraisal).
Politik di Bumi Sriwijaya tidak pernah bersifat tunggal; ia merupakan anyaman kompleks yang mempertemukan berbagai faksi wilayah, kekuatan suku atau komunitas (seperti Komering, Musi, Jawa-Transmigran, Pasemah, dan Palembang urban), serta pengaruh garis keturunan politik yang telah mengakar. Oleh karena itu, kehadiran media daerah bertindak sebagai panggung sekaligus laboratorium sosial tempat elektabilitas diuji dan diartikulasikan.
Poros Kekuatan Tradisional dan Eks-Birokrasi
Di barisan awal yang kerap menghiasi tajuk utama berita daerah, muncul nama Eddy Santana Putra (ESP). Sebagai mantan Wali Kota Palembang dua periode (2003–2013), ESP memiliki keunggulan komparatif yang sulit dinegasikan, yakni legacy pembangunan yang nyata di sektor urban.
Publik Palembang masih mengingat betul bagaimana kepemimpinannya berhasil mengubah wajah ibu kota provinsi menjadi lebih tertata dan modern. Kehadiran ESP di media daerah secara konsisten mengindikasikan adanya kerinduan sebagian publik terhadap figur pemimpin dengan rekam jejak eksekusi infrastruktur yang kuat.
Basis elektoral ESP yang berpusat pada masyarakat urban dan kelompok pemilih loyal menjadikannya poros kekuatan tersendiri yang mampu memecah konsentrasi suara di wilayah perkotaan.
Bergerak ke wilayah barat, sosok Cik Ujang tampil sebagai representasi petahana yang memegang kendali strategis. Berstatus sebagai Wakil Gubernur Sumatera Selatan aktif sekaligus Ketua DPD Partai Demokrat Sumsel, Cik Ujang memiliki keuntungan ganda (double advantage).
Setiap kebijakan birokrasi, kunjungan kerja, dan seremoni pemerintahan yang dilakukannya secara otomatis bertransformasi menjadi komoditas berita harian bagi media .
Pengaruh politik Cik Ujang sangat mengakar di kawasan Besemah dan sekitarnya (Lahat, Pagaralam, Empat Lawang), yang didukung penuh oleh soliditas mesin partai. Media daerah menangkap pergerakannya sebagai poros kemapanan politik yang memadukan kekuatan struktur pemerintahan dengan jejaring kultural lokal.
Sementara itu, dari kawasan timur, kekuatan elektoral yang tidak boleh diremehkan diwakili oleh Lanosin (Enos), Bupati OKU Timur saat ini. Wilayah OKU Raya, khususnya OKU Timur, dikenal sebagai lumbung suara raksasa dengan karakteristik pemilih yang sangat solid, didominasi oleh sektor pertanian dan masyarakat transmigran.
Keberhasilan Enos dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah dan memelihara kedekatan dengan akar rumput membuatnya menjadi magnet pemberitaan. Media kerap mengulas potensinya sebagai representasi pemimpin daerah yang siap “naik kelas” ke level provinsi, baik sebagai figur nomor satu maupun penentu kemenangan strategis jika dipasangkan sebagai calon wakil gubernur untuk menambal suara di wilayah selatan/timur Sumsel.
Kekuatan Trah Politik dan Dominasi Kepala Daerah Aktif
Pemberitaan media daerah semakin riuh dengan hadirnya nama Dody Alex Noerdin. Nama besar keluarga Alex Noerdin tidak dapat dipungkiri masih memiliki daya pikat dan sentimen emosional yang mendalam di benak sebagian besar masyarakat Sumatera Selatan, khususnya di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Sebagai mantan Bupati Muba, Dody mewarisi memori kolektif masyarakat tentang era keemasan program sekolah dan berobat gratis yang legendaris di Sumsel. Kemunculan nama Dody Alex Noerdin di media-media lokal memicu diskusi hangat mengenai kebangkitan kembali pengaruh politik trah Noerdin yang selama puluhan tahun menjadi salah satu jangkar utama pembangunan di provinsi ini.
“Tidak hanya diramaikan oleh figur-figur lama, konstelasi politik Pemilihan Gubernur Sumatra Selatan kini kian dinamis dengan mencuatnya nama Walikota Palembang, Ratu Dewa. Tren elektabilitas dan popularitas Ratu Dewa yang terus menanjak di level lokal, perlahan mulai menarik perhatian dalam radar bursa kepemimpinan di tingkat provinsi. Rekam jejaknya dalam memimpin ibu kota provinsi dinilai banyak pihak menjadi modal taktis yang patut diperhitungkan oleh koalisi partai politik.”
Daya Tarik Ratu Dewa: Nama Walikota Palembang, Ratu Dewa, juga ikut masuk dalam tren kontestasi Pilgub Sumsel. Sebagai figur yang mengakar di pusat pertumbuhan ekonomi dan suara terbesar di Sumsel (Kota Palembang), pergerakan popularitasnya dinilai berpotensi mengubah peta kekuatan dan arah koalisi para kandidat cagub-cawagub.
Selanjutnya, media daerah juga memberikan porsi sorotan yang besar kepada Muchendi Mahzareki, sosok muda potensial yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Sumsel dan santer dikaitkan dengan kepemimpinannya sebagai Bupati Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Muchendi mewakili generasi baru politisi Sumsel yang membawa narasi kesegaran, inovasi, dan pendekatan yang lebih adaptif terhadap pemilih muda (milenial dan Gen Z) yang porsinya kian mendominasi daftar pemilih tetap. Kekuatan Muchendi terletak pada kombinasi antara silsilah politik keluarga (sebagai putra mantan Wakil Gubernur Ishak Mekki) dan kemampuannya membangun komunikasi politik yang cair melintasi sekat-sekat organisasi kepemudaan serta olahraga di Sumsel.
Tidak ketinggalan, nama Askolani, Bupati Banyuasin, turut mencuat sebagai salah satu trending dalam bursa pembicaraan politik regional. Kabupaten Banyuasin, sebagai wilayah penyangga utama Palembang yang memiliki dinamika perairan dan daratan yang unik, berhasil dikelola dengan pendekatan program yang menyentuh langsung kebutuhan infrastruktur dasar perdesaan selama masa jabatannya.
Media sering mengulas keberhasilan komunikasi politik Askolani yang dinilai (populis), menjadikannya figur yang diperhitungkan memiliki daya tawar tinggi dalam penentuan koalisi-koalisi besar ke depan.
Kejutan Tingkat Nasional: Efek Helmy Yahya dalam Pusaran Kontestasi
Di antara seluruh nama yang beredar, kemunculan kembali Helmy Yahya di panggung opini publik Sumatera Selatan dapat dikategorikan sebagai sebuah kejutan politik (political surprise) yang menyegarkan sekaligus mengubah peta kalkulasi. Diskusi terbatas kadang mengemuka dengan kenncangnya.
Helmy Yahya, yang dikenal luas secara nasional sebagai “Raja Kuis” Indonesia, mantan Direktur Utama TVRI, komunikator ulung, dan akademisi, bukanlah orang baru dalam jagat politik Sumsel. Pengalamannya bertarung dalam kontestasi Pilgub pada periode-periode sebelumnya memberikan ia modal berupa popularitas yang telah matang dan investasi emosional di tingkat akar rumput.
Mengapa nama Helmy Yahya begitu cepat menjadi trending di media? Jawabannya terletak pada diferensiasi figur. Di saat calon-calon lain didominasi oleh latar belakang birokrat murni dan politisi lokal, Helmy Yahya hadir dengan portofolio sebagai tokoh Sumsel yang sukses berkiprah di tingkat nasional dengan seebrek pengalaman dan ilmu di bidangnya.
Ia membawa segudang pengalaman profesional, jaringan bisnis yang luas, serta pemahaman mendalam di bidang industri kreatif, komunikasi publik, dan manajemen modern. Media melihat sosok Helmy sebagai jawaban atas tantangan modernisasi Sumatera Selatan di era global, di mana daerah tidak hanya membutuhkan administrator, tetapi juga seorang komunikator dan inovator yang mampu membawa investasi serta mengangkat harkat kebudayaan Sumsel ke panggung internasional.
Esensi Jurnalistik: “Jenaka Analitik”
Dari perspektif jurnalistik, dinamika politik Sumatera Selatan adalah juga seni mengawinkan keterwakilan wilayah.
Siapa pun yang mampu mengintegrasikan basis suara urban Palembang, soliditas wilayah Barat (Besemah/Lahat), lumbung suara Timur (OKU Raya), serta pengaruh emosional jalur Muba-Banyuasin, dialah yang akan memegang kunci kemenangan di Bumi Sriwijaya.
Fenomena ramainya pemberitaan ini menunjukkan bahwa media daerah di Sumatera Selatan menjalankan fungsinya secara aktif sebagai ruang sirkulasi informasi politik. Keberanian media memunculkan nama-nama ini—mulai dari figur senior, penguasa basis wilayah, trah politik kuat, hingga tokoh nasional—merupakan indikator positif bagi iklim demokrasi lokal.
Hal ini memberikan kesempatan kepada masyarakat selaku pemilih untuk melakukan kurasi awal, mempelajari rekam jejak, dan memperdebatkan gagasan-gagasan yang dibawa oleh masing-masing tokoh sebelum tahapan resmi dimulai.
Perpaduan antara nama-nama lokal yang menguasai teritori dengan tokoh nasional sekaliber Helmy Yahya menjamin bahwa jalannya kontestasi politik di Sumatera Selatan tidak akan berjalan monoton.
Ini adalah pertempuran ide, adu kuat basis kultural, dan pembuktian efektivitas mesin politik yang sangat seru untuk terus diikuti dinamikanya oleh seluruh pemerhati sosial-politik di tanah air. Esensi sejati dari riuh rendah pemberitaan ini adalah bagaimana para tokoh mampu mengonversi popularitas media menjadi elektabilitas nyata di bilik suara, sembari tetap menjaga kondusivitas iklim demokrasi di Bumi Sriwijaya.
Catatan Tambahan Pemetaan: Pendapat Lama dan Analisa Masyarakat Umum
Jika Anda mencermati pola di atas, media saat ini sedang memainkan peran balancing (penyeimbang). Mereka menguji skenario:
1.Skenario Regionalis: Memasangkan tokoh Barat (seperti Cik Ujang) dengan tokoh Timur (seperti Enos atau Muchendi).
2. Skenario Teknokrat-Populis: Mengombinasikan figur birokrat kuat (seperti ESP atau Askolani) dengan tokoh berwawasan nasional/kreatif seperti Helmy Yahya atau trah historis seperti Dody Alex Noerdin.
Apakah ada kombinasi tertentu dari nama-nama di atas yang menurut Anda paling banyak mendapat respons positif atau memicu perdebatan hangat di warung-warung kopi di Palembang saat ini? Wallohu”alam.



