FEATURESISI LAIN

Manusia di Ambang Kehampaan: Membaca Kegelisahan Zaman dengan Kesadaran Spiritual

Dunia yang Diburu, Akhirat yang Dilupakan

Di Negeri yang Ramai Tapi Sunyi: Mencari Makna di Tengah Kemunduran Etika dan Kegaduhan Zaman

Oleh: Bangun Lubis – Pemimpin Redaksi

Indonesia hari ini adalah negeri yang tampak hidup—ramai oleh suara, penuh oleh aktivitas, dan sibuk oleh berbagai kepentingan. Jalanan padat, ruang digital sesak oleh opini, dan panggung politik tak pernah sepi dari retorika.

Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang perlahan memudar: ketenangan batin, kejernihan berpikir, dan terutama—kesadaran akan makna hidup itu sendiri.

Kita hidup dalam keramaian, tetapi sesungguhnya sedang mengalami kesunyian yang panjang.

Ketika Kemajuan Kehilangan Makna

Kemajuan teknologi telah mengubah wajah kehidupan secara drastis. Informasi mengalir deras, akses semakin mudah, dan berbagai kebutuhan dapat dipenuhi dengan cepat.

Namun, kemudahan itu tidak serta-merta menghadirkan kedamaian. Justru yang muncul adalah kegelisahan baru—kecemasan yang sulit dijelaskan, kelelahan yang tidak selalu bersumber dari kerja fisik, dan perasaan kosong yang tidak bisa diisi oleh materi.

Filsuf Prancis Blaise Pascal pernah mengingatkan bahwa manusia sering lari dari dirinya sendiri karena tidak mampu menghadapi kesunyian. Dalam konteks Indonesia hari ini, pelarian itu hadir dalam bentuk yang beragam: dari kecanduan media sosial hingga obsesi pada citra dan pengakuan.

Padahal, Al-Qur’an telah memberikan jawaban yang sederhana namun mendalam:

> “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Masalahnya bukan pada dunia yang terlalu ramai, tetapi pada hati yang kehilangan pusatnya.

Dunia yang Diburu, Akhirat yang Dilupakan

Dalam kehidupan sosial, kita menyaksikan bagaimana ukuran keberhasilan semakin menyempit. Kekayaan, jabatan, dan popularitas menjadi tolok ukur utama.

Segala sesuatu dinilai dari apa yang tampak, bukan dari apa yang bermakna.

Arthur Schopenhauer pernah menyebut bahwa kehidupan manusia adalah rangkaian keinginan yang tak pernah selesai. Ketika satu terpenuhi, yang lain segera muncul. Dalam realitas Indonesia hari ini, hal itu tampak jelas—keinginan terus bertambah, tetapi kepuasan semakin sulit dicapai.

Baca Juga  At Value-Focused Hotels, the Free Breakfast Gets Bigger

Islam memandang fenomena ini dengan sangat jernih. Dunia tidak dilarang untuk dikejar, tetapi tidak boleh dijadikan tujuan akhir. Ketika dunia menjadi pusat orientasi, maka manusia akan kehilangan keseimbangan.

Akibatnya, yang muncul adalah kelelahan tanpa makna—bekerja keras, tetapi tidak tahu untuk apa semua itu.

Bahasa yang Kasar, Akhlak yang Menipis

Salah satu gejala paling mengkhawatirkan di Indonesia saat ini adalah menurunnya kualitas akhlak dalam ruang publik.

Perdebatan tidak lagi bertujuan mencari kebenaran, tetapi memenangkan ego. Kritik berubah menjadi caci maki. Perbedaan pendapat melahirkan permusuhan.

Dalam ruang digital, siapa pun merasa berhak berbicara apa saja—tanpa batas, tanpa tanggung jawab.

Filsuf Jerman Immanuel Kant menekankan bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan, bukan alat. Namun dalam praktiknya, manusia sering dijadikan objek untuk diserang, dihina, bahkan dihancurkan reputasinya.

Rasulullah SAW telah memberikan prinsip yang sangat mendasar:

> “Berkatalah yang baik, atau diam.”

Jika prinsip ini benar-benar dijalankan, sebagian besar kegaduhan hari ini mungkin tidak akan pernah terjadi.

Kepemimpinan yang Kehilangan Amanah

Di tingkat yang lebih luas, krisis juga tampak dalam dunia kepemimpinan. Janji sering diucapkan, tetapi mudah dilupakan. Kekuasaan diraih dengan berbagai cara, tetapi tidak selalu digunakan untuk kemaslahatan. Kepercayaan publik pun perlahan terkikis.

Plato dalam pemikirannya menegaskan bahwa pemimpin seharusnya adalah mereka yang memiliki kebijaksanaan, bukan sekadar ambisi kekuasaan.

Dalam Islam, konsep ini jauh lebih tegas:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.”

Ketika amanah diabaikan, maka dampaknya tidak hanya pada sistem, tetapi pada kehidupan masyarakat luas—kemiskinan, ketidakadilan, dan hilangnya rasa percaya.

Keluarga Kehilangan Arah

Di tengah tekanan modernitas, keluarga sebagai institusi dasar juga menghadapi tantangan serius.

Baca Juga  After all is said and done, more is said than done

Relasi menjadi rapuh. Waktu bersama semakin berkurang. Anak-anak tumbuh dalam dunia yang penuh informasi, tetapi miskin bimbingan.

Padahal, keluarga seharusnya menjadi tempat pertama di mana nilai ditanamkan—tempat di mana manusia belajar tentang kasih sayang, tanggung jawab, dan akhlak.

Ketika keluarga kehilangan fungsi ini, maka krisis tidak lagi bersifat individual, tetapi menjadi krisis sosial yang lebih luas.

Makna Hidup yang Terlupakan

Di tengah semua kegaduhan ini, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara serius: untuk apa manusia hidup?

Filsuf Viktor Frankl menegaskan bahwa manusia bisa bertahan dalam kondisi paling sulit sekalipun jika ia memiliki makna hidup. Tanpa makna, kehidupan akan terasa kosong, betapapun nyaman secara lahiriah.

Islam menjawab pertanyaan ini dengan sangat jelas:

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”* (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Makna hidup tidak terletak pada apa yang dimiliki, tetapi pada hubungan dengan Sang Pencipta.

Kehidupan tidak pernah lepas dari ujian. Namun sering kali manusia melihat ujian sebagai beban semata, bukan sebagai jalan kembali.

Friedrich Nietzsche pernah menyatakan bahwa penderitaan dapat menguatkan manusia. Dalam Islam, pandangan ini diperdalam:

Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”* (QS. Al-Insyirah: 6)

Artinya, setiap kesulitan membawa potensi kebaikan—jika manusia mampu memaknainya dengan benar.

 

Membutuhkan Kesadaran Baru

Indonesia tidak kekurangan sumber daya. Tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan semangat.

Yang mulai langka adalah kesadaran.

Kesadaran untuk jujur.

Kesadaran untuk adil.

Kesadaran untuk hidup dengan makna.

Di tengah kegaduhan yang terus berlangsung, kita mungkin tidak membutuhkan lebih banyak suara—

tetapi lebih banyak keheningan untuk berpikir. Sebab dari keheningan itulah lahir kejernihan. Dan dari kejernihan, manusia bisa kembali menemukan arah.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button