NEWSSISI LAIN

Jamaah Haji Reguler Kloter 4 Palembang Tiba di Arafah, Tangis Haru Pecah Menjelang Wukuf

Kini mereka telah berada di Arafah, tempat paling sakral dalam rangkaian ibadah haji

Salamah

Jamaah Haji Reguler Kloter 4 Palembang Tiba di Arafah, Tangis Haru Pecah Menjelang Wukuf

Laporan Wartawan WartawanIndonesia.com, Salamah Syahabudin, dari Arafah, Makkah

 

WartawanIndonesia.com, Arafah — Hamparan padang luas yang selama ini hanya hadir dalam doa, cerita, dan kerinduan, akhirnya benar-benar dipijak oleh jamaah haji reguler Kloter 4 gelombang pertama Kota Palembang. Satu per satu bus yang membawa para tamu Allah itu memasuki kawasan tenda Arafah dengan penuh ketertiban dan pengawalan petugas haji.

Suasana haru langsung terasa begitu jamaah turun dari kendaraan. Banyak di antara mereka menengadahkan tangan ke langit, sebagian lainnya menangis pelan sambil mengucap syukur karena Allah SWT masih memberikan kesempatan hadir di tempat yang sangat mulia tersebut.

Kini mereka telah berada di Arafah, tempat paling sakral dalam rangkaian ibadah haji. Tempat di mana jutaan manusia dari berbagai bangsa berkumpul dalam pakaian ihram yang sama, tanpa perbedaan jabatan, kekayaan, maupun kedudukan sosial. Semua hadir sebagai hamba yang lemah di hadapan Allah SWT.

Dalam laporan WartawanIndonesia.com, seluruh jamaah Kloter 4 Palembang dilaporkan dalam kondisi sehat. Meski cuaca cukup panas dan perjalanan menuju Arafah memerlukan tenaga serta kesabaran, para jamaah tetap menunjukkan semangat ibadah yang tinggi.

Ketika memasuki tenda-tenda Arafah, wajah-wajah penuh harapan tampak begitu jelas. Ada yang langsung duduk sambil membaca Al-Qur’an, ada pula yang memeluk sesama jamaah karena tak mampu menahan rasa haru. Sebagian jamaah lansia bahkan tampak menitikkan air mata saat menyadari bahwa mereka benar-benar telah sampai di tempat yang selama ini hanya mereka impikan dalam sujud-sujud panjang.

Alhamdulillah… akhirnya sampai juga di Arafah,” ucap seorang jamaah , Ibu Ana asal Palembang dengan suara bergetar.

Bagi umat Islam, Arafah bukan sekadar tempat persinggahan. Di sinilah puncak ibadah haji berlangsung. Rasulullah SAW bahkan menyebut bahwa inti dari haji adalah wukuf di Arafah. Karena itu, setiap jamaah berusaha memanfaatkan waktu dengan memperbanyak doa, dzikir, istighfar, serta memohon ampun atas seluruh dosa-dosa kehidupan.

Di tengah teriknya matahari, justru terasa kesejukan spiritual yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Banyak jamaah mengaku merasakan ketenangan luar biasa ketika pertama kali melihat kawasan Arafah.

Petugas haji Indonesia bersama pembimbing Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Multazam Palembang, Ustadz Piter Abdullah, terus mendampingi jamaah agar tetap tenang dan menjaga kesehatan. Mereka mengingatkan jamaah agar cukup minum air, tidak terlalu banyak berjalan di bawah terik matahari, serta menjaga kondisi fisik menjelang puncak Armuzna.

Seluruh jamaah juga diimbau memperbanyak doa, sebab waktu wukuf merupakan salah satu waktu terbaik untuk bermunajat kepada Allah SWT.

Baca Juga  Menjaga Keseimbangan Fisik dan Spiritual, Kunci Jamaah Haji Menjalankan Ibadah dengan Sempurna

Di dalam tenda, suasana ibadah begitu terasa. Talbiyah terus bergema dari bibir jamaah. Zhikir pun terucap tetus menerus.

Labbaik Allahumma Labbaik…

Kalimat itu terus diucapkan berulang-ulang dengan penuh kekhusyukan. Seolah seluruh hati sedang benar-benar datang memenuhi panggilan Allah SWT.

Sebagian jamaah terlihat membuka buku doa, sementara lainnya memilih diam menunduk sambil menangis dalam dzikir panjang. Ada yang mendoakan anak-anaknya di tanah air, ada yang memohon kesehatan, memohon ampunan dosa, bahkan ada yang hanya mampu menangis tanpa kata karena merasa begitu kecil di hadapan Allah SWT.

Seorang jamaah perempuan lanjut usia tampak memegang erat tasbih di tangannya. Sesekali ia menyeka air mata sambil terus berdoa.

“Saya tidak tahu apakah tahun depan masih hidup atau tidak. Jadi saya ingin memohon ampun sebanyak-banyaknya kepada Allah,” katanya lirih.

Perjalanan menuju Arafah sendiri berlangsung cukup tertib. Pemerintah Arab Saudi bersama petugas haji dari berbagai negara melakukan pengaturan ketat agar perpindahan jutaan jamaah tidak menimbulkan kepadatan berlebihan.

Pergerakan jamaah dilakukan secara bertahap. Kloter demi kloter diberangkatkan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Hal ini dilakukan demi menjaga keamanan dan kenyamanan seluruh jamaah haji dunia yang jumlahnya mencapai jutaan orang.

Meski demikian, suasana spiritual tetap terasa sangat kuat. Sepanjang perjalanan menuju Arafah, jamaah terus melantunkan talbiyah dan dzikir.

Banyak jamaah yang mengaku perjalanan tersebut menjadi salah satu momen paling menggetarkan hati selama hidup mereka.

“Rasanya seperti sedang menuju padang mahsyar,” ujar seorang jamaah pria bergumam  sambil memandang ribuan manusia berpakaian ihram putih. Hanya dua lembar kain putih

Ucapan itu memang bukan tanpa alasan. Arafah sering disebut sebagai gambaran kecil dari hari kebangkitan manusia kelak. Semua manusia berkumpul dalam keadaan sederhana, berharap rahmat dan ampunan Allah SWT.

Karena itu, banyak jamaah memanfaatkan kesempatan ini untuk memperbaiki diri dan memperdalam hubungan spiritual kepada Sang Pencipta.

Petugas kesehatan yang mendampingi jamaah Kloter 4 Palembang juga terus memantau kondisi jamaah, terutama lansia dan mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu. Hingga laporan ini diturunkan, seluruh jamaah dilaporkan dalam keadaan stabil dan mampu mengikuti rangkaian ibadah dengan baik.

Kebersamaan antarjamaah juga terlihat sangat kuat. Mereka saling membantu dan memperhatikan satu sama lain. Jamaah yang lebih muda tampak membantu jamaah lansia membawa perlengkapan atau menyiapkan kebutuhan di tenda.

Suasana kekeluargaan itu membuat perjalanan spiritual di Tanah Suci terasa semakin hangat.

Di sini tidak ada lagi perbedaan. Semua saling membantu,” kata salah seorang jamaah, Ibu Ana

Setelah menjalani wukuf di Arafah, jamaah akan melanjutkan perjalanan menuju Muzdalifah untuk mabit dan mengumpulkan batu kerikil yang nantinya digunakan dalam lempar jumrah di Mina.

Baca Juga  Menunaikan Haji: Ketika Hati Tak Lagi Sama

Rangkaian Armuzna—Arafah, Muzdalifah, dan Mina—merupakan bagian paling penting dan paling menguras tenaga dalam ibadah haji. Karena itu, jamaah diingatkan untuk menjaga fisik serta mengatur aktivitas agar tetap kuat menjalani seluruh tahapan ibadah.

Meski kelelahan mulai terasa, semangat para jamaah justru semakin tumbuh. Mereka merasa sedang menjalani perjalanan suci yang mungkin hanya sekali dalam seumur hidup.

Di berbagai sudut tenda Arafah, doa-doa terus dipanjatkan. Ada doa yang terucap lirih, ada pula yang hanya hadir dalam air mata. Semua jamaah seolah sedang berbicara sangat dekat dengan Allah SWT.

Langit Arafah sore itu tampak begitu terang. Angin gurun berembus pelan menyapu tenda-tenda putih yang dipenuhi jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia.

Tak ada kemewahan di tempat itu. Yang ada hanyalah kesederhanaan, keikhlasan, dan penghambaan total kepada Allah SWT.

Bagi jamaah asal Palembang, hadir di Arafah menjadi pengalaman batin yang sulit dilupakan. Banyak di antara mereka yang telah menunggu puluhan tahun untuk bisa menunaikan ibadah haji.

Ada yang menabung sedikit demi sedikit sejak muda, ada pula yang baru mendapat kesempatan setelah menunggu antrean belasan tahun.

Kini, semua penantian panjang itu seolah terbayar lunas ketika kaki mereka benar-benar berada di Padang Arafah.

Tangis haru pun sulit dibendung.

Beberapa jamaah bahkan memilih duduk sendiri untuk lebih khusyuk berdoa. Mereka larut dalam perenungan panjang tentang kehidupan, dosa, keluarga, hingga kematian.

Di tempat inilah manusia benar-benar merasa tidak memiliki apa-apa selain rahmat Allah SWT.

Petugas KBIHU Multazam Palembang, Piter Abdullah,  terus memberikan arahan kepada jamaah agar tetap fokus menjalani ibadah dan tidak memaksakan diri dalam aktivitas fisik yang berlebihan.

Mereka juga mengingatkan jamaah agar menjaga kebersamaan serta mematuhi seluruh arahan petugas demi kelancaran ibadah.

Sementara itu, gema talbiyah masih terus terdengar dari berbagai penjuru tenda.

Suara itu menyatu dengan doa-doa jutaan manusia yang datang dari berbagai negara.

Semua berharap mendapatkan haji yang mabrur.

Semua berharap pulang membawa hati yang lebih bersih.

Dan semua berharap Allah SWT menerima seluruh ibadah yang mereka lakukan di Tanah Suci.

Kini, jamaah haji reguler Kloter 4 gelombang pertama Kota Palembang telah berada di Arafah. Sebuah tempat yang bukan hanya menjadi titik geografis dalam ibadah haji, tetapi juga menjadi titik perenungan dan penghambaan manusia kepada Rabb-nya.

Di tengah jutaan manusia yang berkumpul, mereka menyadari bahwa hidup di dunia hanyalah sementara.

Dan di Padang Arafah itu pula, banyak hati yang kembali menemukan jalannya menuju Allah SWT.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button