
Palembang, Kota Sungai yang Kian Kehilangan Nafasnya
Oleh: Bangun Lubis – Pemimpin Redaksi

Palembang bukan sekadar kota. Ia adalah peradaban yang tumbuh dari air. Dari riak Sungai Musi, dari bisik anak-anak sungai yang dahulu begitu banyak, dari kehidupan yang sejak awal telah bersahabat dengan arus dan pasang surut.
Orang-orang tua kita tidak membangun kota ini dengan melawan air, tetapi dengan memahami air. Mereka tahu ke mana air mengalir, kapan ia pasang, kapan ia surut. Rumah dibangun menyesuaikan, jalan dibuat mengikuti, dan kehidupan pun tumbuh selaras.
Karena itu, Palembang pernah begitu layak disebut sebagai “Venesia dari Timur”.
Namun hari ini, kita seperti sedang berjalan menjauh dari jati diri itu.
Ketika Air Kehilangan Jalannya
Beberapa waktu terakhir, wajah Palembang berubah setiap kali hujan turun. Bukan lagi sekadar basah, tetapi cemas.
Hujan dua hingga tiga jam sudah cukup menghadirkan genangan di mana-mana. Jalan-jalan utama terendam. Kendaraan melambat, bahkan berhenti. Aktivitas terganggu. Dan kota yang biasanya hidup, seketika terasa lumpuh.
Media sosial Palembang Informasi mencatat bagaimana hampir seluruh kawasan terdampak. Simpang Polda, Angkatan 45, Sekip, Talang Ratu hingga KM 5—semuanya seperti berada dalam satu cerita yang sama: air yang tak kunjung pergi.
Lebih menyentuh lagi, ada kalimat yang beredar di salah satu unggahan:Tidak ada jalan pulang dari jalan-jalan Palembang.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menggambarkan kegelisahan yang nyata. Dan jika kita mau jujur, ini bukan sekadar karena hujan.
Ketika Musi Ikut Menahan
Ada satu hal yang sering luput dari perhatian, namun sangat menentukan: Sungai Musi itu sendiri.
Sebagai induk dari seluruh aliran air di Palembang, Musi bukan hanya menerima air—ia juga menentukan apakah air itu bisa mengalir atau tidak.
Dalam kondisi tertentu, ketika permukaan air Sungai Musi naik—baik karena hujan di hulu maupun pengaruh pasang—maka aliran dari anak-anak sungai dan drainase kota menjadi terhambat. Air seperti tertahan di dalam.
Bayangkan sebuah rumah dengan saluran pembuangan yang tersumbat di ujungnya. Air dari dalam tetap mengalir, tetapi tidak bisa keluar. Maka yang terjadi adalah genangan. Itulah yang kini sering dialami Palembang.
Air hujan turun, mengalir ke drainase. Tetapi ketika bertemu Sungai Musi yang sedang tinggi, aliran itu berhenti. Air pun kembali, meluas, dan menggenang lebih lama.
Inilah sebabnya mengapa banjir di Palembang tidak hanya cepat datang, tetapi juga lambat surut.
Kota yang Tumbuh, Ruang Air yang Menyempit
Pertumbuhan kota adalah keniscayaan. Palembang berkembang, penduduk bertambah, kebutuhan akan rumah meningkat. Di berbagai sudut kota, pembangunan perumahan terus berlangsung.
Namun pertanyaannya: apakah pertumbuhan itu berjalan seiring dengan pemahaman terhadap alam?
Banyak anak sungai yang dahulu menjadi jalur alami kini hilang. Ada yang ditimbun, ada yang menyempit, ada pula yang berubah fungsi menjadi lahan bangunan. Rawa-rawa—yang sejatinya adalah ruang air—perlahan menghilang. Padahal, dalam sistem alam, air selalu mencari ruangnya.
Ketika ruang itu diambil, maka air akan mencari jalan lain. Dan seringkali, jalan itu adalah rumah kita sendiri.
Di sinilah kita perlu jujur melihat bahwa persoalan ini bukan semata kesalahan satu pihak. Ada kebutuhan besar akan hunian, ada dorongan ekonomi, ada pula keterbatasan pengawasan.
Namun tetap saja, kota tidak boleh tumbuh tanpa arah. Koordinasi antara pemerintah dan para pengembang menjadi sangat penting. Pembangunan tidak bisa hanya dilihat dari sisi fisik bangunan, tetapi juga harus memperhitungkan sistem air yang menopangnya.
Tambal Sulam atau Lompatan Besar?
Selama ini, penanganan banjir seringkali bersifat reaktif. Ketika banjir datang, saluran dibersihkan, pompa diaktifkan, genangan diatasi. Namun setelah itu, kita kembali pada pola lama.
Padahal, yang dibutuhkan Palembang bukan sekadar respons cepat, tetapi lompatan besar dalam perencanaan. Kota ini membutuhkan visi jangka panjang.
Perencanaan yang melihat air sebagai sistem utuh—dari hulu hingga hilir, dari anak sungai hingga Sungai Musi. Perencanaan yang tidak hanya memikirkan hari ini, tetapi puluhan tahun ke depan.
Mungkin sudah saatnya Palembang memiliki blueprint besar sebagai kota air modern:
* Menghidupkan kembali jalur-jalur air yang masih memungkinkan
* Membangun kolam retensi sebagai penampung sementara
* Mengatur sistem pintu air untuk mengendalikan aliran saat Musi pasang
* Mengembangkan teknologi pompa air di titik-titik rawan
* Menjadikan kawasan sungai sebagai ruang publik yang hidup dan terawat
Karena sesungguhnya, banyak kota di dunia yang berhasil hidup berdampingan dengan air—bukan dengan menghindarinya, tetapi dengan mengelolanya secara cerdas.
Belajar dari Masa Lalu, Menata Masa Depan
Palembang adalah kota tua. Usianya panjang. Ia telah melewati berbagai zaman—dari kejayaan Sriwijaya hingga modernitas hari ini.
Namun ada satu hal yang tidak berubah: air selalu menjadi bagian dari hidupnya. Maka, ketika hari ini kita menghadapi persoalan banjir, mungkin yang perlu kita lakukan bukan hanya mencari solusi baru, tetapi juga mengingat kembali kebijaksanaan lama.
Bahwa air harus diberi ruang.
Bahwa sungai harus dijaga.
Bahwa kota harus tumbuh dengan kesadaran, bukan sekadar kebutuhan.
Dengan segala persoalan yang ada—ditambah dengan kenyataan bahwa Sungai Musi pun kadang naik dan menahan aliran—maka semakin jelas bahwa Palembang membutuhkan perencanaan yang benar-benar cerdas, terukur, dan berjangka panjang.
Bukan lagi tambal sulam.
Bukan lagi solusi sesaat.
Tetapi sebuah kesungguhan untuk menjaga kota ini tetap hidup—sebagai kota sungai yang beradab, nyaman, dan membanggakan.
Jangan Biarkan Kota Ini Kehilangan Dirinya
Jika kita terus mengabaikan sungai, maka kita sedang menghapus identitas Palembang sedikit demi sedikit.
Dan jika suatu hari nanti anak cucu kita hanya mengenal Palembang sebagai kota yang mudah banjir—bukan lagi kota sungai yang indah—maka itu adalah kegagalan kita hari ini.
Masih ada waktu.
Masih ada Musi yang mengalir.
Masih ada sisa anak sungai yang bisa diselamatkan.
Masih ada kesadaran yang bisa dibangun.
Tinggal satu pertanyaan untuk kita semua: apakah kita mau benar-benar menjaganya?
Jejak yang Terlupakan: Kolam Retensi dan Hilangnya Rawa
Jika kita menengok ke belakang, sesungguhnya persoalan air di Palembang bukanlah hal baru. Bahkan sejak masa kolonial, pemerintah Hindia Belanda sudah memahami bahwa kota ini tidak bisa dipisahkan dari karakter airnya.
Mereka membangun berbagai sistem pengendalian air, salah satunya adalah kolam-kolam retensi—tempat penampungan sementara ketika air melimpah. Kolam ini berfungsi menahan air hujan agar tidak langsung membanjiri kawasan permukiman, sekaligus memberi waktu bagi air untuk mengalir secara perlahan ke Sungai Musi.
Selain itu, kawasan rawa yang luas pada masa itu bukan dianggap sebagai lahan kosong yang harus “ditaklukkan”, tetapi sebagai bagian penting dari sistem alami kota. Rawa adalah ruang air. Ia menyerap, menahan, dan mengatur aliran.
Namun hari ini, banyak dari kolam retensi itu telah hilang atau menyempit. Sebagian berubah fungsi, sebagian tertimbun, dan sebagian lagi tidak lagi berfungsi optimal.
Lebih dari itu, kawasan rawa yang dahulu menjadi “paru-paru air” kota kini telah banyak yang ditimbun untuk pembangunan permukiman baru. Perkembangan kota memang tidak bisa dihindari, tetapi ketika rawa—yang seharusnya menjadi ruang resapan—hilang, maka air kehilangan tempat untuk singgah.
Akibatnya menjadi jelas: setiap hujan yang turun tidak lagi punya ruang untuk ditampung. Air langsung mengalir ke permukiman, memenuhi jalan, dan menambah beban pada sistem drainase yang sudah terbatas.
Dalam kondisi seperti ini, ketika Sungai Musi juga sedang tinggi dan menahan aliran, maka kota seperti “terkepung air” dari berbagai arah.
Pelajaran yang Seharusnya Kita Ambil
Apa yang dilakukan oleh pemerintah Belanda pada masa lalu, tentu bukan tanpa kekurangan. Namun dalam hal pengelolaan air, ada pelajaran penting yang bisa kita ambil: mereka merancang kota dengan memahami alamnya.
Hari ini, kita justru sering berjalan sebaliknya—membangun tanpa cukup memberi ruang pada air.
Padahal, kota seperti Palembang tidak bisa diperlakukan seperti kota daratan kering. Ia membutuhkan pendekatan khusus: pendekatan kota rawa, kota sungai, kota air.
Maka, ke depan, sangat penting untuk:
* Menginventarisasi kembali kolam retensi yang masih ada, dan menghidupkannya kembali
* Melindungi sisa kawasan rawa agar tidak terus berkurang
* Mengintegrasikan kembali fungsi tampungan air dalam setiap rencana pembangunan
* Menghentikan praktik penimbunan lahan tanpa perhitungan hidrologis yang matang
Karena jika tidak, maka setiap pembangunan baru sesungguhnya sedang menambah potensi masalah baru.
Menata dengan Kesadaran, Bukan Sekadar Kebutuhan
Palembang hari ini berada di persimpangan: antara terus tumbuh tanpa kendali, atau tumbuh dengan kesadaran.
Kebutuhan akan perumahan memang nyata. Pembangunan memang penting. Tetapi semua itu harus berjalan dalam kerangka yang lebih besar—yakni menjaga keseimbangan kota.
Air tidak bisa dilawan. Ia hanya bisa dikelola. Dan kota yang bijak bukanlah kota yang bebas dari air, tetapi kota yang mampu hidup berdampingan dengan air secara cerdas.
Maka, mungkin sudah saatnya kita kembali melihat rawa bukan sebagai lahan kosong, kolam retensi bukan sebagai ruang tak berguna, dan sungai bukan sebagai sisa masa lalu. Melainkan sebagai bagian dari masa depan Palembang itu sendiri.
Baik, saya rangkai ulang dan panjangkan bagian ini menjadi satu subbagian utuh, dengan alur naratif yang kuat seperti bagian awal tulisan Bapak:
Jejak yang Terlupakan: Kolam Retensi, Rawa, dan Kesalahan yang Kita Ulangi
Jika kita mau jujur melihat sejarah, Palembang sebenarnya bukan kota yang “tidak siap” menghadapi air. Justru sejak lama, kota ini telah dipahami sebagai wilayah yang hidup berdampingan dengan air.
Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, pengelolaan air di Palembang dilakukan dengan pendekatan yang cukup sistematis. Mereka tidak hanya mengandalkan sungai sebagai jalur pembuangan, tetapi juga membangun berbagai kolam retensi—tempat penampungan sementara air hujan dalam jumlah besar.
Kolam-kolam ini bukan sekadar lubang besar berisi air. Ia adalah bagian dari sistem. Air yang turun dari langit tidak langsung dibuang ke Sungai Musi, tetapi ditahan terlebih dahulu, diendapkan, lalu dialirkan secara perlahan. Dengan cara ini, tekanan terhadap sungai utama bisa dikurangi, dan genangan di permukiman dapat diminimalisir.
Selain itu, kawasan rawa yang luas di Palembang juga tidak dianggap sebagai masalah. Rawa justru dipandang sebagai bagian penting dari sistem hidrologi kota. Ia menyerap air, menahan limpasan, dan menjadi ruang alami bagi air untuk “beristirahat” sebelum melanjutkan perjalanannya.
Pendek kata, kota ini dulu dirancang dengan kesadaran: bahwa air harus diberi tempat. Namun hari ini, kesadaran itu seperti memudar.
Banyak kolam retensi yang dahulu dibangun kini tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Ada yang menyempit karena tekanan pembangunan, ada yang tertutup, bahkan ada yang hilang sama sekali. Fungsinya sebagai penyangga air perlahan menghilang, digantikan oleh bangunan dan kepentingan jangka pendek.
Lebih jauh lagi, kawasan rawa yang dahulu begitu luas kini telah banyak berubah wajah. Lahan-lahan basah yang seharusnya menjadi ruang resapan air ditimbun untuk pembangunan perumahan, ruko, dan berbagai kawasan pemukiman baru.
Memang, kebutuhan akan hunian adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Kota berkembang, jumlah penduduk meningkat, dan ruang tinggal menjadi kebutuhan utama. Namun persoalannya bukan pada pembangunan itu sendiri, melainkan pada cara kita membangun.
Ketika rawa ditimbun tanpa perhitungan yang matang, maka sesungguhnya kita sedang menghilangkan “penampung alami” air. Ketika kolam retensi dibiarkan hilang, maka kita sedang membuang sistem pengaman yang telah dirancang sejak lama.
Akibatnya menjadi nyata di hadapan kita hari ini. Air hujan yang turun tidak lagi memiliki ruang untuk ditahan. Ia langsung mengalir ke permukaan, menuju jalan-jalan dan permukiman. Drainase yang ada tidak mampu menampung seluruh limpasan itu. Dan ketika pada saat yang sama Sungai Musi sedang tinggi, aliran air menjadi tertahan.
Maka terjadilah apa yang kini sering kita rasakan: kota seperti dikepung air.
Air datang dari atas, tidak tertampung di tengah, dan tidak bisa mengalir ke bawah.
Dalam kondisi seperti ini, genangan bukan lagi kejadian sesaat, tetapi bisa bertahan berjam-jam, bahkan lebih lama di beberapa titik. Aktivitas masyarakat terganggu, ekonomi melambat, dan kenyamanan hidup menurun.
Apa yang dilakukan oleh pemerintah Belanda di masa lalu tentu bukan tanpa kepentingan. Namun dalam hal tata kelola air, ada satu hal yang patut kita akui: mereka membangun dengan memahami karakter alam.
Mereka tidak memaksa air mengikuti kota, tetapi menyesuaikan kota dengan air. Sementara hari ini, kita sering melakukan sebaliknya.
Kita membangun di atas rawa tanpa cukup memikirkan ke mana air akan pergi. Kita menutup anak sungai tanpa menyediakan jalur pengganti. Kita mengurangi kolam retensi tanpa menciptakan sistem baru yang setara.
Dan pada akhirnya, kita bertanya: mengapa banjir semakin sering terjadi?
Padahal jawabannya ada di sekitar kita.
Saatnya Mengembalikan Keseimbangan
Palembang tidak kekurangan pengetahuan. Ia juga tidak kekurangan pengalaman. Yang dibutuhkan saat ini adalah keberanian untuk kembali pada prinsip dasar: bahwa kota ini adalah kota air.
Dengan memahami itu, maka langkah ke depan harus lebih terarah dan berani: Kolam retensi yang tersisa harus diselamatkan, bahkan jika perlu ditambah kembali. Kawasan rawa yang masih ada harus dilindungi secara serius, bukan justru dialihfungsikan tanpa kendali. Setiap pembangunan baru harus diwajibkan memiliki sistem pengelolaan air yang jelas dan terintegrasi.
Lebih dari itu, diperlukan perencanaan besar yang tidak lagi bersifat tambal sulam. Perencanaan yang melihat Palembang dalam jangka panjang—20, 30, bahkan 50 tahun ke depan.
Karena jika tidak, maka setiap pembangunan hari ini berpotensi menjadi masalah di masa depan.
Menjaga yang Tersisa, Membangun yang Lebih Bijak
Pada akhirnya, kita tidak bisa mengembalikan seluruh rawa yang telah hilang. Kita juga tidak bisa menghidupkan kembali semua anak sungai yang telah tertutup.
Namun kita masih bisa menjaga yang tersisa. Kita masih bisa memperbaiki yang ada. Kita masih bisa membangun dengan lebih bijak.
Palembang adalah kota tua yang telah melewati banyak zaman. Ia tidak seharusnya runtuh hanya karena kita lalai memahami airnya sendiri.
Maka, menjaga kolam retensi, melindungi rawa, dan mengembalikan fungsi air bukan hanya soal teknis—tetapi juga soal kesadaran.
Kesadaran bahwa kota ini tidak bisa hidup tanpa air: Dan kesadaran bahwa air, jika tidak diberi ruang, akan mengambil ruangnya sendiri.
Dengan cara yang seringkali tidak kita harapkan.



