PENULIS TAMU

23 April 2026 — Buku, Cahaya yang Mulai Kita Lupakan

“A room without books is like a body without a soul.”

Marcus Tullius Cicero

23 April 2026 — Buku, Cahaya yang Mulai Kita Lupakan

Oleh: Revi Rahmatnauli  – Pemerhati Literasi Indonesia

Tanggal 23 April kembali hadir sebagai penanda penting dalam perjalanan peradaban manusia—hari yang oleh dunia dikenal sebagai World Book Day. Namun, di negeri ini, gema hari besar itu seringkali terdengar lirih, hampir tenggelam di tengah riuhnya dunia digital yang semakin menguasai kehidupan.

Padahal, jika kita mau jujur, sejarah telah mencatat bahwa tidak ada satu pun peradaban besar yang lahir tanpa budaya membaca yang kuat. Buku bukan hanya kumpulan huruf. Ia adalah warisan pemikiran, jejak peradaban, dan cahaya yang menerangi jalan panjang umat manusia.

Dalam Islam, perintah pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ bukanlah tentang kekuasaan, bukan pula tentang harta. Tetapi sebuah seruan yang sederhana namun menggetarkan:

Iqra’…” — Bacalah.(QS. Al-‘Alaq: 1)

Ayat ini bukan sekadar perintah membaca teks. Ia adalah panggilan untuk memahami kehidupan, untuk merenungi ciptaan Allah, dan untuk membangun peradaban berbasis ilmu. Membaca dalam makna yang luas adalah proses menghidupkan akal dan hati secara bersamaan.

Ulama besar seperti Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu adalah cahaya yang Allah tanamkan dalam hati manusia. Dan buku adalah salah satu jalan paling terang untuk mengantarkan cahaya itu masuk ke dalam jiwa kita.

Namun, pertanyaannya kini: masihkah kita mencintai buku?

Bangsa yang Menjauh dari Buku

Realitas hari ini seringkali terasa getir. Kita hidup di zaman di mana informasi begitu melimpah, tetapi pemahaman justru semakin dangkal. Banyak yang lebih memilih membaca judul daripada isi, lebih tertarik pada sensasi daripada substansi.

Tokoh Barat, Francis Bacon, pernah mengatakan:

Reading maketh a full man.”  – Membaca menjadikan manusia itu utuh.

Namun apa yang terjadi ketika membaca mulai ditinggalkan? Manusia kehilangan keutuhan dirinya. Ia mungkin memiliki informasi, tetapi tidak memiliki kebijaksanaan. Ia bisa berbicara banyak, tetapi tidak memahami makna.

Baca Juga  How to make perfect vanilla cupcakes

Bahkan Malcolm X pernah mengingatkan:

People don’t realize how a man’s whole life can be changed by one book.”

Satu buku bisa mengubah hidup seseorang. Tetapi jika tidak ada buku yang dibaca, maka perubahan itu tidak pernah terjadi.

Di negeri ini, kita sering bangga dengan jumlah penduduk yang besar. Namun jumlah besar tanpa kualitas berpikir yang kuat hanya akan menjadi beban peradaban. Dan kualitas berpikir itu tidak mungkin lahir tanpa budaya membaca.

Ketika Buku Kalah oleh Layar

Hari ini, buku tidak lagi menjadi pusat perhatian. Ia tergeser oleh layar-layar kecil yang menyajikan hiburan instan. Anak-anak lebih akrab dengan gawai daripada dengan perpustakaan. Orang dewasa lebih sibuk menggulir layar daripada membuka lembaran buku.

Kita tidak sedang kekurangan akses terhadap ilmu. Kita justru kelebihan akses, tetapi kekurangan kemauan.

Padahal, membaca buku memiliki kedalaman yang tidak bisa digantikan oleh media lain. Buku mengajak kita untuk berpikir perlahan, merenung, dan menyelami makna. Ia tidak tergesa-gesa. Ia tidak dangkal.

Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama dahulu rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan satu hadis. Mereka menulis dengan tangan, membaca dengan penuh kesungguhan, dan menghafal dengan sepenuh hati. Dari tradisi itulah lahir peradaban yang pernah memimpin dunia.

Bandingkan dengan kita hari ini. Buku tersedia di mana-mana. Perpustakaan berdiri di berbagai tempat. Namun minat membaca masih rendah. Ini bukan soal fasilitas, tetapi soal kesadaran.

Membaca adalah Ibadah Peradaban

Membaca dalam Islam bukan hanya aktivitas intelektual. Ia juga merupakan bagian dari ibadah. Sebab dengan membaca, kita mengenal Allah melalui ciptaan-Nya, memahami ajaran-Nya, dan memperbaiki diri.

Setiap huruf yang kita baca bisa menjadi jalan menuju kebaikan. Setiap pengetahuan yang kita peroleh bisa menjadi bekal untuk memperbaiki kehidupan.

Oleh karena itu, membaca tidak boleh dipandang sebagai aktivitas sampingan. Ia harus menjadi kebutuhan. Seperti makan untuk tubuh, membaca adalah makanan bagi akal dan jiwa.

Baca Juga  Wanita, Hukum, dan Peradaban: Menimbang Barat dan Nusantara dalam Cermin Sejarah

Jika tubuh kita lapar, kita segera mencari makanan. Tetapi ketika akal kita kosong, seringkali kita tidak merasa perlu mengisinya. Di sinilah letak masalahnya.

Peran Keluarga dan Pendidikan

Membangun budaya membaca tidak bisa dilakukan secara instan. Ia harus dimulai dari keluarga. Orang tua harus menjadi teladan. Anak-anak tidak akan mencintai buku jika mereka tidak melihat orang tuanya membaca.

Sekolah juga memiliki peran penting. Guru tidak cukup hanya mengajar. Ia harus menginspirasi. Ia harus menanamkan kecintaan terhadap ilmu, bukan sekadar mengejar nilai.

Dan para pemimpin, mereka harus menunjukkan bahwa membaca adalah bagian dari kepemimpinan. Seorang pemimpin yang tidak membaca akan kesulitan memahami realitas yang kompleks.

Momentum yang Tidak Boleh Berlalu

Hari Buku Dunia seharusnya menjadi momentum untuk bangkit. Bukan sekadar perayaan, tetapi gerakan. Gerakan untuk kembali membaca. Gerakan untuk menghidupkan kembali tradisi keilmuan.

Bayangkan jika setiap keluarga memiliki satu jam membaca setiap hari. Bayangkan jika setiap sekolah benar-benar menjadikan perpustakaan sebagai jantung pendidikan. Bayangkan jika setiap individu menyisihkan waktu untuk membaca buku, bukan hanya melihat layar.

Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil.

Kita tidak kekurangan orang pintar. Kita kekurangan orang yang mau belajar dengan sungguh-sungguh. Dan belajar tidak bisa dilepaskan dari membaca.

Buku adalah sahabat yang tidak pernah mengkhianati. Ia setia menemani, membuka wawasan, dan menuntun kita menuju pemahaman yang lebih dalam.

Di tengah dunia yang semakin bising, buku menawarkan keheningan yang penuh makna. Di tengah kehidupan yang serba cepat, buku mengajarkan kita untuk berhenti sejenak dan berpikir.

Maka di hari ini, 23 April 2026, marilah kita bertanya pada diri sendiri:

Sudahkah kita membaca hari ini?

Sebab mungkin, di antara lembaran-lembaran buku yang kita abaikan,

tersimpan masa depan bangsa yang sedang menunggu untuk kita bangkitkan.

Dan mungkin pula, di sanalah cahaya itu masih setia menunggu—

untuk kembali kita temukan.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button