Bertransformasi dengan Hijrah Ekologis

Bertransformasi dengan Hijrah Ekologis
Oleh : Dr. Yenrizal, M.Si.
(Akademisi Komunikasi Lingkungan/Ketua LP2M UIN Raden Fatah)
Musim hujan belum lagi reda, guyuran air dari langit, dentuman petir, masih juga terjadi setiap hari. Masa yang seharusnya sudah memasuki Pancaroba, nyatanya hujan tetap deras. Sejatinya pula hujan itu membawa berkah, namun apa daya, tak seimbangnya antara yang masuk dan keluar, menjadikan luapan dan genanganlah di berbagai tempat. Banjir.
Sejatinya, jika diingat kembali apa yang terjadi selama ini, maka konsep Hijrah dalam Islam menjadi menarik untuk dikaji. Walaupun sekarang sudah bukan lagi 1 Muharram, namun hijrah dalam makna bertransformasi ke arah yang lebih baik menjadi penting. Sejarah hijrah mengajarkan kita tentang keberanian meninggalkan kenyamanan lama demi sesuatu yang lebih bermakna. Ia adalah panggilan untuk bangkit dan memperbaiki keadaan, baik secara pribadi, sosial, spiritual, maupun ekologis.
Di tengah krisis lingkungan yang semakin memprihatinkan saat ini, semangat hijrah itu perlu kita maknai ulang dan kontekstualkan. Tengoklah sekeliling kita. Hutan-hutan ditebang tanpa jeda, sungai-sungai menghitam karena limbah, dan laut dipenuhi plastik. Isyarat dari bumi ini tak bisa lagi diabaikan. Fenomena kekinian, terutama bencana banjir yang selalu terjadi dan seolah menjadi ritual tahunan di banyak wilayah, adalah bukti nyata bahwa ada yang salah dalam hubungan kita dengan alam.
Hujan ekstrem memang faktor alam, tetapi ketidaksiapan kita—mulai dari sistem drainase yang buruk hingga hilangnya daerah resapan air akibat alih fungsi lahan yang tak terkendali—menegaskan bahwa banjir adalah cerminan perilaku manusia. Ada baiknya merenung sejenak. Jika hijrah Nabi di masa lalu adalah perjalanan menyelamatkan aqidah, maka hijrah kita hari ini adalah perjalanan perubahan menuju situasi alam yang lebih baik. Tentu bukan dengan menunggang unta melintasi padang pasir, melainkan dengan menempuh perjalanan batin dan kesadaran ekologis.
Perubahan ini bermula dari gaya hidup konsumtif menuju pola hidup sederhana dan berkelanjutan. Dari sikap acuh terhadap sampah, yang seringkali menjadi penyumbat saluran air dan pemicu banjir, menjadi kepedulian terhadap jejak ekologis kita. Dari membiarkan hutan ditebangi menjadi aksi nyata menjaga pohon dan tanah. Perubahan semacam itu memang tidak bisa dilakukan dalam semalam. Tapi seperti halnya hijrah Rasulullah yang dimulai dengan niat dan keberanian, hijrah ekologis bermula dari kesadaran akan kondisi bumi yang sedang tidak baik-baik saja. Kita harus sadar bahwa kita bukan pemilik mutlak bumi, melainkan hanya penyewa yang bertanggung jawab untuk merawatnya.
Dalam Al-Qur’an, Allah berulang kali mengingatkan tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam. Kerusakan di darat dan laut adalah akibat ulah tangan manusia sendiri. Kecenderungannya selama ini, kita seringkali sibuk memperdebatkan ritual dan simbol-simbol keagamaan, tetapi abai pada praktik nyata di lapangan. Islam sangat kaya akan ajaran ekologis, dan Nabi Muhammad adalah teladan dalam hal kesederhanaan serta cinta terhadap alam. Rasul mengajarkan hemat air meski berwudhu di sungai, melarang penebangan pohon tanpa alasan, dan menganjurkan untuk menanam pohon walau besok kiamat.
Namun, realitas hari ini justru menunjukkan agama sebatas ritual, melupakan nilai-nilai ekologis di dalamnya. Kita mungkin khusyuk dalam doa, tapi tanpa rasa bersalah membuang sampah sembarangan atau bahkan membakar sampah plastik di pekarangan. Kita rajin membaca ayat tentang penciptaan langit dan bumi, tapi tak tersentuh saat melihat sungai penuh limbah. Spiritualitas sejati tidak pernah terpisah dari kepedulian terhadap lingkungan.
Hijrah seharusnya bukan hanya sebatas slogan, melainkan aksi nyata. Ia bisa menjadi awal dari gaya hidup yang lebih bersahaja dan selaras dengan alam. Jika setiap individu Muslim memaknai tahun baru sebagai langkah awal untuk mengurangi jejak karbon dan meminimalkan limbah, kita akan menyaksikan perubahan besar. Perubahan paling sederhana bisa dimulai sekarang, misalnya dengan membawa kantong belanja sendiri, mematikan lampu yang tidak digunakan, memilih makanan lokal, atau sekadar menanam pohon di halaman rumah. Kecil memang, tapi akan punya efek besar jika setiap orang melakukannya.
Hijrah ekologis menuntut kita meninggalkan gaya hidup lama yang nyaman tapi merusak, dan beralih ke cara hidup yang lebih bertanggung jawab. Tentu tidak mudah, sebagaimana hijrah Nabi pun bukan hal yang mudah. Saat ini, yang kita butuhkan adalah transformasi nyata, bukan hanya untuk menjadi hamba yang lebih taat secara ritual, tetapi juga manusia yang berdampak positif bagi alam.
Di tengah dunia yang semakin rapuh ini, hijrah batin yang membangkitkan rasa tanggung jawab ekologis adalah kunci. Hijrah bukan hanya soal berpindah tempat. Hijrah adalah berpindah dari gelap ke terang, dari merusak ke merawat, dan dari tak peduli ke penuh kasih sayang. Hijrah untuk bumi yang lebih lestari, lebih bersih, dan lebih layak dihuni oleh semua makhluk, termasuk untuk membebaskan kita dari siklus banjir yang melelahkan.



