Korelasi Syariat, Tarekat, Hakikat, dan Makrifat: Jalan Menuju Kedekatan dengan Allah
Mengerti dan Jalankan. Bukan sesuatu yang sulit

Korelasi Syariat, Tarekat, Hakikat, dan Makrifat: Jalan Menuju Kedekatan dengan Allah
Oleh: Bangun Lubis
Dalam perjalanan spiritual seorang Muslim, dikenal empat istilah yang sering dibicarakan para ulama dan ahli tasawuf, yaitu syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.
Keempatnya bukanlah jalan yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dan membentuk satu kesatuan yang utuh menuju keridhaan Allah SWT.
Sayangnya, tidak sedikit orang yang memahami keempat istilah ini secara keliru. Ada yang menganggap bahwa ketika seseorang telah mencapai makrifat, ia tidak lagi terikat dengan syariat. Pemahaman seperti ini jelas bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, serta ajaran para ulama salaf dan para sufi yang lurus.
Syariat: Pondasi Kehidupan Seorang Muslim
Syariat adalah seluruh aturan Allah yang mengatur kehidupan manusia, baik yang berkaitan dengan ibadah, akhlak, muamalah maupun hukum-hukum lainnya.
Allah SWT berfirman: “Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) berada di atas suatu syariat dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)
Shalat, puasa, zakat, haji, kejujuran, amanah, dan seluruh kewajiban agama termasuk bagian dari syariat.
Syariat ibarat sebuah kapal. Tanpa kapal, seseorang tidak mungkin dapat mengarungi lautan menuju tujuan yang diinginkan.
Karena itu, siapa pun yang ingin mendekat kepada Allah tidak boleh meninggalkan syariat. Bahkan Rasulullah SAW yang merupakan manusia paling mulia tetap melaksanakan shalat malam hingga kedua kaki beliau bengkak.
Tarekat: Jalan Menempuh Kedekatan dengan Allah
Tarekat berarti jalan atau metode untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui latihan-latihan ruhani yang tidak bertentangan dengan syariat.
Allah berfirman: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69)
Tarekat menekankan pembinaan hati melalui zikir, muhasabah, memperbanyak ibadah sunnah, membersihkan diri dari sifat riya, hasad, ujub, dan berbagai penyakit hati lainnya.
Para ulama mengatakan:
“Syariat tanpa hakikat adalah kosong, sedangkan hakikat tanpa syariat adalah batil.”
Dengan kata lain, perjalanan ruhani harus selalu berpijak pada Al-Qur’an dan Sunnah.
Hakikat: Memahami Makna di Balik Amal
Hakikat adalah pemahaman mendalam terhadap tujuan dan makna ibadah.
Orang yang memahami hakikat shalat tidak hanya sekadar melakukan gerakan lahiriah, tetapi merasakan kehadiran Allah dalam shalatnya.
Allah berfirman: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi sarana membentuk ketakwaan.
Zakat bukan hanya mengeluarkan sebagian harta, tetapi membersihkan jiwa dari sifat kikir.
Hakikat ibadah adalah hadirnya keikhlasan, ketundukan, dan rasa cinta kepada Allah.
Imam Malik rahimahullah pernah berkata: “Barang siapa bertasawuf tanpa fikih maka ia menjadi zindik. Barang siapa berfikih tanpa tasawuf maka ia menjadi fasik. Dan barang siapa menghimpun keduanya maka ia telah mencapai kebenaran.”
Makrifat: Mengenal Allah dengan Hati yang Bersih
Makrifat berasal dari kata *ma’rifah*, yaitu mengenal Allah dengan lebih mendalam melalui keimanan, ilmu, dan pengalaman ruhani.
Makrifat bukan berarti melihat Allah secara kasat mata atau memperoleh kedudukan yang membuat seseorang bebas dari kewajiban agama.
Justru orang yang semakin mengenal Allah akan semakin takut kepada-Nya.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)
Makrifat melahirkan kerendahan hati, rasa syukur, kesabaran, serta kecintaan kepada Allah yang semakin besar.
Para nabi dan rasul adalah manusia yang paling mengenal Allah. Namun mereka juga merupakan orang-orang yang paling tekun beribadah.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Aku adalah orang yang paling mengenal Allah di antara kalian dan yang paling bertakwa kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Walaupun demikian, beliau tetap shalat, berpuasa, berzikir, dan berdoa hingga akhir hayatnya.
Hubungan Syariat, Tarekat, Hakikat, dan Makrifat
Para ulama tasawuf menggambarkan hubungan keempatnya seperti sebuah pohon.
* Syariat adalah akar.
* Tarekat adalah batang.
* Hakikat adalah bunga.
* Makrifat adalah buah.
Buah tidak akan muncul tanpa akar dan batang yang kuat.
Begitu pula seseorang tidak mungkin mencapai makrifat tanpa melaksanakan syariat dengan benar.
Imam Junaid al-Baghdadi, seorang tokoh besar tasawuf, mengatakan:> “Semua jalan menuju Allah tertutup kecuali bagi orang yang mengikuti jejak Rasulullah SAW.”
Karena itu, siapa saja yang mengaku telah mencapai makrifat lalu meninggalkan shalat, puasa atau kewajiban lainnya, maka pengakuan tersebut tidak benar.
Makrifat Bukan Alasan Meninggalkan Syariat
Inilah tema yang sangat penting untuk dipahami.
Makrifat bukanlah alasan untuk meninggalkan syariat, melainkan puncak pemahaman dari setiap ibadah dan amal yang dilakukan.
Semakin tinggi makrifat seseorang, semakin besar pula ketundukannya kepada Allah.
Semakin dalam pengenalannya kepada Allah, semakin khusyuk shalatnya.
Semakin kuat cintanya kepada Allah, semakin ia menjaga halal dan haram.
Bukan sebaliknya. Karena itu para ulama mengatakan: “Tidak ada hakikat tanpa syariat, dan tidak ada makrifat tanpa ketaatan.”
Syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat merupakan tahapan yang saling berkaitan dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah SWT.
Syariat mengajarkan apa yang harus dilakukan.
Tarekat menunjukkan bagaimana menempuh jalan menuju Allah.
Hakikat menghadirkan makna dan keikhlasan di dalam amal.
Sedangkan makrifat merupakan buah dari kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Semua itu berpuncak pada satu tujuan, yaitu menjadi hamba yang semakin taat, semakin ikhlas, dan semakin mencintai Allah SWT.
Karena sesungguhnya, orang yang benar-benar mengenal Allah bukanlah orang yang merasa sudah sampai, melainkan orang yang semakin merasa kecil di hadapan-Nya dan semakin tekun beribadah hingga akhir hayatnya.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyuk, amal yang diterima, serta akhir kehidupan yang husnul khatimah.” Aamiin.



