NEWS

Kejurnas Arung Jeram ke-21 Dibuka, FAJI Tekankan Sportivitas dan Pembentukan Karakter Atlet

BADUNG –  Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Arung Jeram ke-21 resmi digelar di Bali, Kamis (24/9/2026). Sebanyak 51 tim dari 16 provinsi ambil bagian dalam ajang tersebut. Selain menjadi arena perebutan prestasi, Kejurnas juga menjadi momentum bagi Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) untuk membentuk karakter dan menanamkan nilai sportivitas kepada para atlet.

Kejurnas resmi dibuka Ketua Umum FAJI, Mayjen TNI (Mar) Dr. Oni Junianto pada pukul 09.37 WIB di Sungai Ayung, Kabupaten Badung, Bali. Turut hadir dalam pembukaan Sekretaris Umum KONI Bali I Ketut Jagrasunu yang mewakili Ketua Umum KONI Bali, Ketua Pengprov FAJI Bali, dan beserta jajaran Pengurus Pusat FAJI serta FAJI Daerah.

Dalam sambutannya, Oni meminta seluruh atlet menjadikan pertandingan sebagai kesempatan untuk menempa diri sekaligus mengembangkan hobi menjadi prestasi. “Jadikan hobi sebagai prestasi. Sekali lagi, selamat bertanding. Junjung tinggi sportivitas dan semangat,” ujarnya.

Menurutnya, menjadi atlet arung jeram tidak hanya berkaitan dengan kemampuan fisik dan teknik, tetapi juga proses membangun mental dalam menghadapi berbagai tantangan. Terlebih, kondisi dunia yang semakin kompleks dan persaingan yang kian ketat membutuhkan karakter yang kuat. “Tanpa tantangan, tanpa menempa diri, kalian akan berat menghadapi hari-hari ke depan. Dunia semakin rumit, semakin kompleks permasalahannya. Situasi global terus berkembang dan persaingan semakin ketat,” katanya.

Ia juga mengajak para atlet mensyukuri kesempatan bertanding di tengah alam. Menurutnya, alam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari olahraga arung jeram sekaligus memberikan pengalaman tersendiri bagi para atlet. “Kalian harus bersyukur bisa menjadi atlet arung jeram dan bertanding di alam yang serba indah. Bahkan bisa dibilang tidak selalu dengan kemewahan. Namun, alam inilah yang sebenarnya menjadi kemewahan bagi kita,” tuturnya.

Karena itu, ia menegaskan bahwa Kejurnas tidak semata-mata harus dipandang sebagai persaingan untuk menentukan siapa yang menang dan kalah. Lebih dari itu, pertandingan menjadi ruang untuk membangun karakter dan mental para atlet. “Pertandingan ini bukan sekadar tentang menang dan kalah. Yang harus dibentuk adalah karakter di hati adik-adik semua,” ujarnya.

Ia pun meminta seluruh atlet bertanding secara sportif dan menunjukkan kemampuan terbaik. Pesan serupa disampaikan kepada para wasit agar menjalankan tugas secara objektif dan memberikan penilaian sebaik-baiknya.

Baca Juga  Usai Armuzna : Lengkap Sudah Menyandang Gelar Haji dan Hajjah

“Kita akan bertanding secara gentleman, bertanding secara sportif, dan menunjukkan, ‘Inilah kemampuan saya.’ Demikian juga para wasit yang akan mengawasi dan memandu kalian bertanding. Kami meminta para wasit betul-betul memberikan penilaian dengan sebaik-baiknya, sehingga kemenangan yang diraih adalah kemenangan yang benar-benar membanggakan,” katanya.

Dengan keikutsertaan 52 tim dari 16 provinsi, ia berharap seluruh peserta dapat menikmati persaingan sekaligus menjadikan Kejurnas sebagai bagian dari proses pembentukan diri. “Selamat bertanding. Junjung tinggi sportivitas dan semangat. Jadikan hobi sebagai prestasi,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Umum KONI Bali, I Ketut Jagrasunu mengatakan, FAJI merupakan cabang olahraga yang relatif baru di Bali dalam praktiknya. Namun, secara kelembagaan, FAJI telah memiliki sejarah yang cukup panjang. “Kami berharap ke depannya dapat terus bekerja sama dengan baik untuk meningkatkan prestasi arung jeram di Bali. Saya juga menyampaikan permohonan maaf karena Ketua Umum KONI Bali berhalangan hadir dan meminta saya untuk mewakili,” ujar Ketut.

Menurutnya, menjadi tuan rumah Kejurnas merupakan sebuah kebanggaan sekaligus kesempatan bagi Bali untuk belajar, khususnya dalam aspek pembinaan dan penyelenggaraan pertandingan. “Bagi kami di Bali, penyelenggaraan Kejurnas ini merupakan sebuah kebanggaan sekaligus penghargaan yang luar biasa. Kami sangat bersyukur mendapat kesempatan menjadi tuan rumah dan bisa belajar banyak, terutama dalam hal pembinaan dan penyelenggaraan pertandingan,” katanya.

Sebelumnya, Ketut menjelaskan bahwa Ketua Pengprov FAJI Bali Wayan Suweca mengungkapkan Bali sempat kalah satu suara dari DI Yogyakarta dalam pemilihan tuan rumah Babak Kualifikasi PON 2027 pada Rakernas FAJI.

Dengan nada berkelakar, Ketut menyebut hasil tersebut justru membuka kesempatan bagi atlet Bali untuk jalan-jalan berkunjung ke Yogyakarta pada tahun depan. Ia pun melihat keputusan tersebut sebagai bagian dari kebijakan jangka panjang FAJI untuk memastikan olahraga arung jeram terus berkembang dan semakin banyak daerah terlibat.

“Yang lebih penting, kami melihat ada kebijakan jangka panjang dari FAJI Pusat agar olahraga arung jeram dapat terus eksis dan berkembang. Ke depan, FAJI diharapkan tidak hanya diikuti oleh segelintir provinsi, tetapi bisa berkembang dan semakin banyak daerah yang terlibat,” tegasnya.

Baca Juga  Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025 Disetujui sebagai Bahan Evaluasi 

Ketut pun menyambut seluruh peserta yang datang ke Bali dan berharap mereka tidak hanya fokus pada pertandingan, tetapi juga menikmati suasana Pulau Dewata. “Selamat datang kepada seluruh peserta di Bali. Setelah rangkaian pertandingan selesai, jangan lupa menikmati keindahan Bali. Saya mengucapkan selamat bertanding dan semoga Kejurnas Arung Jeram ini berjalan sukses,” katanya.

Pada official training (OT) hari pertama, sejumlah daerah mulai menunjukkan kesiapan menghadapi persaingan. Salah satunya Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengaku siap belajar sekaligus bersaing meski masih menjadi salah satu daerah yang relatif baru dalam perkembangan arung jeram. “Kami memang adik bungsu, tetapi kami siap belajar dan bersaing,” ujar perwakilan tim NTT.

Sementara itu, tim R4 putri KU-19 asal Aceh yang untuk pertama kalinya mencoba karakter sungai di Pulau Jawa mengaku menghadapi tantangan tersendiri saat menjalani latihan di Sungai Ayung.

Nadya Zhakilla (18) mengatakan karakter Sungai Ayung berbeda dengan sungai-sungai di Aceh maupun daerah lain di Sumatera. Menurutnya, Sungai Ayung memiliki banyak bebatuan yang membuat tim harus lebih berhati-hati. “Bedanya dengan sungai di Aceh atau daerah Sumatera, di sana airnya dalam. Jadi, tidak kesulitan dengan banyak batu,” ucap Nadya.

Ia juga menyoroti salah satu titik di lintasan yang berada di dekat goa kecil. Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian dari sisi keselamatan, terutama ketika debit air meningkat. “Ada titik yang ada jeramnya dekat dengan goa kecil. Kalau airnya sedang deras, takutnya malah tersedot masuk ke dalam goa. Jadi, butuh ditambahkan safety di sana,” tambahnya.

Aceh sendiri menurunkan tim baru pada nomor R4 putri KU-19. Nadya, Intan Zahra (18), dan Fariska Maulina (18) sepakat bahwa Jawa Barat dan Jawa Timur menjadi dua tim yang patut diwaspadai dalam nomor tersebut. “Dua provinsi ini lawan terberat. Namun, kami akan berusaha mencatatkan hasil terbaik untuk bisa bersaing,” tegas Intan.

Memasuki hari pertama pertandingan, Jumat (25/9/2026), persaingan Kejurnas Arung Jeram ke-21 akan mempertandingkan nomor sprint untuk kategori U-19, U-23, dan senior putra serta putri. (rel)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button