Harga Emas Di Palembang Turun Hingga Ratusan Ribu

PALEMBANG– Perdagangan emas di Kota Palembang, Sumatra Selatan, mengawali pekan dengan kejutan bagi para investor dan masyarakat.
Setelah sempat bertahan stabil sepanjang akhir pekan, harga emas perhiasan maupun logam mulia murni kompak anjlok signifikan pada Senin (29/6/2026).
Penurunan ini memicu reaksi cepat di pasar lokal, di mana sejumlah toko emas di kawasan perdagangan utama Palembang langsung melakukan penyesuaian harga demi mengikuti dinamika pasar global yang sedang tertekan.
Berdasarkan laporan langsung yang dihimpun dari lapangan oleh Tribun Sumsel, harga emas perhiasan dengan kadar populer mengalami penurunan hingga ratusan ribu rupiah per suku (satuan berat lokal yang setara dengan 6,7 gram). Penurunan ini menjadi angin segar bagi konsumen yang ingin membeli, namun sekaligus menjadi alarm bagi mereka yang mengandalkan komoditas ini sebagai instrumen lindung nilai jangka pendek.
Peta Penurunan Harga Emas Perhiasan
Di Toko Emas Makmur Jaya, yang menjadi salah satu barometer perdagangan emas perhiasan di Palembang, harga emas kadar 92 persen dibanderol Rp14.000.000 per suku. Angka ini menunjukkan penurunan yang cukup tajam sebesar Rp200.000 per suku jika dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya yang masih bertahan di angka Rp14.200.000 per suku. Langkah penurunan harga ini langsung diikuti oleh toko-toko lain di sekitarnya untuk menjaga daya saing di tengah pasar yang fluktuatif.
Tidak jauh berbeda, pergerakan harga di Toko Emas Rajamas yang berada di kawasan Lembang juga menunjukkan tren koreksi. Di toko ini, harga emas perhiasan disesuaikan menjadi Rp14.100.000 per suku. Nilai tersebut tercatat turun sebesar Rp100.000 per suku dibandingkan harga akhir pekan yang sempat menyentuh Rp14.200.000.
Sementara itu, pergeseran harga juga terjadi di kawasan niaga legendaris Jalan T.P. Rustam Effendi. Di Toko Emas Laris, para pedagang memisahkan jenis perhiasan untuk menentukan harga jual terkini. Untuk produk emas berbentuk cincin, harga dipatok pada angka Rp14.100.000 per suku. Namun, bagi masyarakat yang mengincar perhiasan dalam bentuk kalung maupun gelang, harga jualnya dipatok sedikit lebih rendah, yakni menyentuh angka Rp14.000.000 per suku.
Logam Mulia Antam dan Pegadaian Ikut Terkapar
Tren negatif ini ternyata tidak hanya melanda sektor emas perhiasan yang memiliki komponen biaya pembuatan. Emas murni batangan berstandar nasional dan internasional juga ikut terkapar. Berdasarkan data resmi dari Galeri 24 Pegadaian dan PT Aneka Tambang (Antam) per Senin (29/6/2026), grafik harga jual maupun harga beli kembali (buyback) kompak menunjukkan penurunan vertikal.
Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang (Antam) hari ini dipasarkan dengan harga Rp2.645.000 per gram. Jika dikomparasikan dengan harga kemarin yang berada di angka Rp2.660.000 per gram, maka terjadi penurunan sebesar Rp15.000 dalam hitungan satu hari. Penurunan lebih dalam justru terjadi pada harga *buyback* Antam, di mana korporasi menerima pembelian kembali di angka Rp2.360.000 per gram, atau terpangkas Rp18.000 dari harga sebelumnya.
Di sisi lain, produk emas batangan yang dirilis oleh Galeri 24 Pegadaian mencatatkan harga jual Rp2.627.000 per gram pada awal pekan ini. Nilai tersebut merosot Rp11.000 dibandingkan harga perdagangan kemarin yang bertengger di posisi Rp2.638.000 per gram. Untuk skema *buyback* di Pegadaian, harga yang berlaku saat ini adalah Rp2.463.000 per gram, turun sekitar Rp10.000 dari harga sebelumnya yang mencapai Rp2.473.000 per gram.
Sentimen Global: Suku Bunga
Menanggapi fenomena anjloknya harga komoditas bernilai tinggi ini, Awi, pemilik Toko Emas Makmur Jaya, memberikan analisisnya mengenai faktor utama di balik ketidakstabilan pasar. Menurutnya, penurunan tajam ini merupakan imbas langsung dari sikap para pelaku pasar global yang tengah mencermati dinamika geopolitik internasional, khususnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, fluktuasi tajam pada harga minyak mentah dunia turut memberikan tekanan psikologis bagi aset-aset berbasis safe haven.
Faktor krusial lainnya yang membuat pergerakan emas tertekan adalah sikap kehati-hatian investor dalam menanti rilis data ekonomi makro Amerika Serikat. Fokus pasar finansial dunia pekan ini sepenuhnya tertuju pada rilis Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor manufaktur dan jasa dari berbagai negara maju, tingkat inflasi di kawasan Euro, serta data sektor ketenagakerjaan Amerika Serikat, termasuk data Non-Farm Payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran terbaru. Sederet data tersebut dinilai sangat vital karena akan menjadi kompas utama bagi Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed), dalam menentukan arah kebijakan suku bunga acuan ke depan.
Perubahan sentimen di tingkat global inilah yang pada akhirnya bertransmisi secara cepat hingga ke pasar-pasar tradisional dan pertokoan emas di Kota Palembang pada awal pekan ini.



