ARTIKEL

Mengapa Sebagian Orang Menolak Ajaran Islam dan Memilih Kekafiran?

Mengapa Sebagian Orang Menolak Ajaran Islam dan Memilih Kekafiran?

Oleh: Bangun Lubis

Di sepanjang sejarah manusia, kebenaran selalu hadir bersama penolakan. Ketika Allah SWT mengutus para nabi dan rasul untuk menyampaikan petunjuk, tidak semua manusia menerimanya.

Sebagian beriman, sebagian lagi menolak. Fenomena ini bukan hanya terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW, tetapi juga terjadi sejak zaman Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, hingga hari ini.

Pertanyaannya, mengapa ada orang yang menolak ajaran Islam padahal bukti-bukti kebenarannya begitu banyak? Mengapa ada yang memilih jalan kekafiran meskipun telah sampai kepadanya ayat-ayat Allah dan penjelasan para ulama?

Al-Qur’an memberikan jawaban yang sangat mendalam mengenai persoalan ini. Penolakan terhadap kebenaran sering kali bukan karena kurangnya bukti, melainkan karena kondisi hati manusia itu sendiri.

Allah SWT berfirman:

“Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman walaupun engkau sangat menginginkannya.” (QS. Yusuf [12]: 103)

Ayat ini menunjukkan bahwa tidak semua manusia akan menerima kebenaran meskipun penjelasan telah disampaikan dengan sebaik-baiknya. Bahkan Rasulullah SAW yang memiliki akhlak paling mulia pun menghadapi penolakan dari sebagian manusia.

Penyebab pertama yang dijelaskan Al-Qur’an adalah kesombongan. Kesombongan merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Kisah pertama tentang penolakan terhadap perintah Allah terjadi pada diri Iblis. Ketika Allah memerintahkan para malaikat dan Iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam AS sebagai bentuk penghormatan, Iblis menolak.

Allah SWT berfirman:

“Ia berkata: Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf [7]: 12)

Iblis tidak mengingkari keberadaan Allah. Ia mengetahui Allah adalah Tuhan. Namun kesombongan membuatnya menolak kebenaran. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kesombongan sering menjadi penghalang terbesar seseorang menerima petunjuk Allah.

Selain kesombongan, hawa nafsu juga menjadi penyebab manusia menolak ajaran agama. Islam mengatur kehidupan dengan batasan halal dan haram. Tidak semua orang siap menerima aturan tersebut. Sebagian lebih memilih mengikuti keinginannya daripada mengikuti petunjuk Allah.

Baca Juga  Risalah 1 Juni: Mengurai Silang Sengkang Bangsa Ini

Allah SWT berfirman:

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 23)

Ayat ini menggambarkan manusia yang menjadikan keinginannya sebagai ukuran kebenaran. Apa yang disukai dianggap benar, sedangkan yang bertentangan dengan keinginannya dianggap salah.

Penyebab berikutnya adalah fanatisme terhadap tradisi dan kebiasaan lama. Banyak kaum terdahulu yang menolak para nabi karena merasa cukup dengan ajaran nenek moyang mereka.

Allah SWT berfirman:

> “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami hanya mengikuti jejak mereka.”(QS. Az-Zukhruf [43]: 22)

Sikap seperti ini masih dapat ditemukan hingga sekarang. Ada orang yang enggan menerima kebenaran karena takut dianggap berbeda oleh lingkungan atau khawatir kehilangan penerimaan sosial.

Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa kecintaan yang berlebihan terhadap dunia dapat menjadi penyebab seseorang menolak petunjuk Allah. Jabatan, kekuasaan, popularitas, dan harta terkadang membuat manusia enggan menerima kebenaran karena merasa akan kehilangan berbagai keuntungan duniawi.

Hal ini pernah terjadi pada sebagian tokoh Quraisy di Makkah. Mereka mengetahui kejujuran Rasulullah SAW, bahkan menjulukinya Al-Amin. Namun ketika Islam mengancam kedudukan dan pengaruh mereka, sebagian memilih menolak risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah hasad atau dengki. Dalam sejarah Islam, sebagian Ahli Kitab mengetahui tanda-tanda kenabian Muhammad SAW sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Namun kedengkian membuat mereka menolak.

Allah SWT berfirman:

“Mereka mengenalnya sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.” (QS. Al-Baqarah [2]: 146)

Menurut para mufasir, sebagian ulama Yahudi mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang dijanjikan dalam kitab-kitab terdahulu. Akan tetapi karena beliau berasal dari bangsa Arab, bukan dari keturunan Bani Israil, sebagian mereka memilih mengingkari kebenaran tersebut.

Baca Juga  Batang Hari Sembilan Harmonisasi Hubungan Manusia dan Alam Konseptual Dalam Simbur Cahaya.

Peristiwa ini berkaitan dengan firman Allah:

“Maka ketika datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya.”(QS. Al-Baqarah [2]: 89)

Dalam penjelasan para ulama tafsir, ayat ini turun mengenai sebagian kaum Yahudi yang sebelumnya menanti kedatangan nabi akhir zaman. Namun ketika nabi tersebut benar-benar datang, mereka menolaknya karena kesombongan dan kedengkian.

Dari sini kita belajar bahwa ilmu saja tidak cukup untuk membawa seseorang kepada hidayah. Banyak orang mengetahui kebenaran tetapi tidak mau mengikutinya. Karena itu para ulama selalu menekankan pentingnya membersihkan hati selain menuntut ilmu.

Namun kajian tentang orang-orang yang menolak Islam tidak boleh membuat kita sibuk menghakimi orang lain. Sebaliknya, kajian ini harus menjadi sarana introspeksi diri. Jangan sampai sifat sombong, cinta dunia, fanatisme buta, atau hawa nafsu tumbuh dalam hati kita tanpa disadari.

Allah SWT mengingatkan:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”(QS. Al-Hasyr [59]: 18)

Pada akhirnya, hidayah adalah anugerah terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba. Tidak ada yang dapat menjamin dirinya akan selalu berada di atas kebenaran kecuali dengan pertolongan Allah. Karena itu Rasulullah SAW sering berdoa:

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”(HR. Tirmidzi)

Semoga Allah SWT menjaga hati kita dari kesombongan, hawa nafsu, kedengkian, dan segala penyakit hati yang dapat menjauhkan kita dari kebenaran. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang menerima petunjuk, mengamalkannya, dan wafat dalam keadaan beriman. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button