SISI LAIN

Membangun Karakter Bangsa Tangguh Sejak Usia Dini: Jalan Keluar Menuju Indonesia Maju

Tokoh utama tidak pernah lahir dalam gelimang harta atau langsung memiliki kesaktian.

Membangun Karakter Bangsa Tangguh Sejak Usia Dini: Jalan Keluar Menuju Indonesia Maju

Oleh: Laksda TNI Purn Rosihan Arsyad

Terdapat sebuah anomali paradoksikal dalam sistem pendidikan dasar dan ekosistem budaya kita hari ini: punggung anak-anak sekolah dasar dibebani oleh tas berisi tumpukan buku pelajaran yang teramat berat, sementara ruang batin dan karakter mereka perlahan dikosongkan. Kita tengah menyaksikan pergeseran tektonik dalam pembentukan karakter bangsa, di mana nilai-nilai kegigihan, etika, dan pengorbanan yang dahulu ditanamkan lewat literatur dan keteladanan kini tergerus oleh tontonan dangkal yang mendewakan materi dan gratifikasi instan.

​Membaca karya sastra dan epik kepahlawanan di masa muda bukanlah sekadar aktivitas pengisi waktu, melainkan sebuah dialektika batin dan pendidikan moral yang terselubung. Dari karya-karya Karl May, melalui tokoh Winnetou, Old Shatterhand di wilayah Indian, hingga Kara Ben Nemsi di Balkan, generasi terdahulu belajar tentang persahabatan lintas ras, keberanian, dan pembelaan terhadap kaum yang lemah. Mahakarya silat Chin Yung (Cin Lung), seperti Siauw Tiaw Eng Hiong (Memanah Burung Rajawali) dan Sin Tiaw Hiap Lu (Kembalinya Pendekar Rajawali), mengajarkan bahwa integritas, ketangguhan menghadapi penderitaan, dan kehormatan jauh lebih berharga daripada kekuasaan atau emas.

​Bahkan, karya-karya anak bangsa seperti Api di Bukit Menoreh atau Wiro Sableng, hingga novel sastra Layar Terkembang, Siti Nurbaya, dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, memiliki satu benang merah filosofis yang sama: Proses dan Pengorbanan. Tokoh utama tidak pernah lahir dalam gelimang harta atau langsung memiliki kesaktian. Mereka harus melalui ujian moral yang berat.

​Saat ini, “perjalanan kesatria” (the hero’s journey) itu telah digantikan oleh kultus kekayaan tanpa keringat, narasi Cinderella complex di sinetron, dan pesona visual K-Pop yang menawarkan ilusi kesempurnaan tanpa memperlihatkan proses kerja keras di baliknya. Anak-anak diajak untuk menghargai orang dari kekayaannya, bukan dari sifat dan karakternya. Sebuah realitas yang sungguh memprihatinkan (pathetic).

​Jika kita sepakat bahwa sumber daya manusia adalah pusat gravitasi dari kemajuan negara, maka krisis karakter ini adalah ancaman eksistensial. Untuk meretas jalan keluar menuju Indonesia Maju, kita harus membedah anatomi persoalan ini secara sistemik dan struktural.

Baca Juga  Anis Matta Optimistis Partai Gelora Lolos ke Senayan pada Pemilu 2029

​Anatomi Krisis: Kognitif vs. Karakter

​Kesalahan fundamental pendidikan dasar kita terletak pada obsesi prematur terhadap pencapaian kognitif akademis, dengan mengorbankan pembentukan karakter. Jika kita membedah data dan pendekatan pedagogi negara-negara Asia Timur yang kini mendominasi kemajuan teknologi global, polanya sangat kontras dengan Indonesia.

  • Model Disiplin Fundamental: Di Jepang, pendidikan usia dini dan awal sekolah dasar tidak difokuskan pada calistung (membaca, menulis, berhitung) tingkat lanjut, melainkan pada sōji—tradisi membersihkan ruang kelas dan sekolah bersama-sama. Ini menanamkan tanggung jawab, rasa memiliki, dan kesetaraan.
  • Fokus Motorik dan Etos Kerja: Di Tiongkok, kurikulum dini didominasi oleh latihan kedisiplinan, olahraga, pengembangan motorik, serta seni dan musik. Bermain di ruang terbuka dipandang sebagai simulasi kehidupan nyata yang paling efektif untuk melatih kerja sama, pengambilan keputusan, dan embrio kepemimpinan.

​Di Indonesia, pelajaran disiplin, apresiasi seni yang memadai, dan fasilitas olahraga di tingkat dasar kerap dipinggirkan. Memaksakan hafalan teori berat kepada anak usia dini tanpa landasan etika dan ketahanan mental hanya akan mencetak generasi yang mungkin secara akademis mampu, namun rapuh secara mental (strawberry generation) dan rentan mengalami disorientasi moral di usia dewasa.

​Menghancurkan Tembok “Ego Sektoral”

​Mengubah paradigma ini tidak bisa dilakukan dengan imbauan moral semata. Kendala terbesar dalam mereformasi ekosistem pendidikan dan kebudayaan di Indonesia adalah Ego Sektoral antar kementerian dan lembaga yang sudah membudaya dan mengakar kuat. Kementerian Pendidikan berjalan dengan silabusnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan regulasi frekuensinya, dan lembaga penyiaran terjebak dalam tirani rating komersial.

​Di sinilah letak peran absolut Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Menko PMK tidak boleh hanya menjadi administrator kebijakan, melainkan harus bertindak sebagai dirigen strategis yang memaksakan integrasi lintas sektoral:

  1. Sinkronisasi Kurikulum dan Ekosistem Media: Memastikan bahwa apa yang dipelajari anak-anak di sekolah diperkuat, bukan diruntuhkan, oleh apa yang mereka konsumsi di layar kaca dan gawai.
  2. Regulasi Penyiaran yang Tegas: Menko PMK harus mampu mengoordinasikan pembatasan tayangan tak mendidik—seperti sinetron anak orang kaya yang manja dan memamerkan harta—pada jam tayang utama, serta memberikan insentif bagi rumah produksi yang menciptakan konten edukatif dan inspiratif.
Baca Juga  Pertarungan "Presiden Damai" dan Pembersihan Total di Washington: Judi Politik Terakhir Donald Trump Menjelang Pemilu Paruh Waktu 2026

​Revitalisasi Ruang Publik: Mengembalikan Hak Berfantasi

​Anak-anak membutuhkan figur teladan imajiner. Cerita yang menggugah fantasi positif memberikan mereka cetak biru tentang bagaimana seorang manusia tangguh bertindak saat menghadapi ketidakadilan. Ketika hak berfantasi ini direbut oleh tontonan hedonistik, mereka kehilangan panduan moral.

​Di sinilah Televisi Republik Indonesia (TVRI) harus dikembalikan pada khittah-nya sebagai pendidik bangsa. Seperti halnya BBC di Inggris atau NHK di Jepang, TVRI harus mengambil alih ruang publik dengan siaran berkualitas.

  • Dokumenter dan Investigasi Berbobot: Menyajikan program setara National Geographic atau 60 Minutes untuk memperluas cakrawala analitis masyarakat.
  • Animasi dan Nilai Keluarga: Menghidupkan kembali roh dan nilai dari tayangan legendaris seperti Pak Raden, Si Unyil, serial Upin & Ipin, atau Little House on the Prairie yang mengajarkan ketangguhan, kesederhanaan, dan kehangatan keluarga.
  • Menanggalkan Ilusi Pembangunan: Lembaga penyiaran publik harus mengurangi porsi berita trivial atau sekadar menjadi terompet keberhasilan pemerintah yang penuh ilusi. Rakyat membutuhkan realitas yang mendidik, bukan sekadar propaganda semu.

​Kesimpulan: Karakter sebagai Lapis Pertama Pertahanan

​Membangun karakter bangsa bukanlah proyek jangka pendek yang hasilnya bisa diresmikan dengan gunting pita. Ia adalah proses inkubasi strategis. Disiplin, etika, dan ketangguhan moral adalah lapis pertama pertahanan nasional kita menghadapi arus globalisasi dan gempuran algoritma budaya asing.

​Menyatukan visi antara kurikulum pendidikan yang memanusiakan anak dengan ekosistem media yang mencerahkan bukanlah sebuah utopia, melainkan prasyarat mutlak. Tanpa keberanian memecah ego sektoral dan merombak cara kita mendidik anak usia dini, cita-cita “Indonesia Maju” hanya akan menjadi jargon kosong yang tenggelam dalam riuhnya peradaban yang makin dangkal.

Yasyi Hill, 26 Juni 2026 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button