FEATURE

Bumi Menagih, Langit Memberi Peringatan: Ujian Iman di Depan Tempat Sampah

Tentang iklim ini harus diluruskan biar umat cerdas

Bumi Menagih, Langit Memberi Peringatan: Ujian Iman di Depan Tempat Sampah

*lOleh: Bangun Lubis – Pemimpin Redaksi

> _“Kita menuntut udara sejuk dari langit, padahal kita bakar sampah di halaman. Kita heran suhu 35°C datang tiba-tiba, padahal AC rumah nyala 24 jam selimutan.”_

Lingkungan hidup itu bukan bab di buku IPA. Ia napas yang masuk paru-paru anak kita. Ia air yang jadi wudhu kita. Ia tanah tempat jasad kita kelak dikubur. Tapi perlakukan kita ke lingkungan masih seperti ke barang sewaan: dipakai, dikotori, lalu berharap “pemiliknya” — alam atau Tuhan — yang membereskan.

Padahal Al-Qur’an sudah kasih _job description_ sejak awal. Manusia itu _khalifah fil ardh_, wakil Allah di bumi. Bukan pemilik, tapi pengurus. Amanah. Maka Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf: 56, _“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya…”_ Bumi ini sudah disetel seimbang. Hutan jadi spons air, mangrove jadi benteng rob, atmosfer jadi selimut dengan takaran pas. Tugas kita cuma satu: jangan rusak. Tapi kasusnya, yang kita lakukan justru kebalikannya.

Antara lain yang terjadi hari ini adalah _fasad_ yang disebut QS. Ar-Rum: 41, _“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.”_ Ayat ini hidup. Banjir di Tangerang, kebakaran gudang rugi Rp10 miliar, rob merendam Pantura, gagal panen karena kemarau panjang, suhu melonjak 35°C padahal kalender bilang musim hujan. Itu bukan azab tiba-tiba. Itu “sebagian akibat” yang Allah kembalikan supaya kita “kembali ke jalan yang benar”. Jalan benar itu apa? Berhenti merusak.

Kasusnya nyata di depan mata. Indonesia menghasilkan 68,5 juta ton sampah per tahun, dan sepertiganya bocor ke sungai lalu ke laut. Sungai yang dulu tempat anak ngaji mandi sore, sekarang jadi lintasan popok dan plastik. 59% sungai kita statusnya cemar berat. Ini bukan karena kita miskin teknologi. Ini karena kita miskin rasa malu. Membuang sampah ke kali masih dianggap “dari dulu begitu”. Limbah warung dibuang ke selokan masih dibilang “kasihan usaha kecil”. Padahal Rasulullah SAW sudah melarang buang hajat di air mengalir, di bawah pohon berbuah, di jalan tempat orang lalu lalang. Kalau buang hajat saja diatur, apalagi buang diapers.

Udara juga sama. Jakarta, Tangerang, Bekasi langganan masuk kota dengan kualitas udara terburuk dunia. Sumbernya antara lain transportasi 44%, industri 31%, PLTU 14%. Kita marah anak kena ISPA, tapi tetap bakar sampah jam 5 sore. Kita demo minta udara bersih, tapi ngamuk kalau disuruh uji emisi. Kita ini mau sembuh, tapi tidak mau minum obat. Padahal Islam ajarkan _la dharara wa la dhirar_: jangan merugikan diri sendiri dan orang lain. Asap kita itu dharar bagi tetangga.

Sejumlah hal tentang iklim ini harus diluruskan biar umat cerdas.

Perubahan iklim bukan kurikulum elit. Ia sudah ngetok pintu. BMKG mencatat suhu Indonesia naik 0,03°C per tahun. Kedengarannya receh. Tapi Jakarta sudah 1,6°C lebih panas dibanding tahun 1900. Akibatnya pola hujan berantakan. Kemarau lebih panjang, sekali hujan langsung jadi banjir bandang. BNPB tidak main-main: 95% bencana di Indonesia itu hidrometeorologi. Banjir, longsor, puting beliung, kekeringan. Semua nyambung ke iklim yang sudah tidak _qadar_-nya lagi.

Al-Qur’an menyebut dalam QS. Al-Qamar: 49, _“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”_ Iklim itu ada ukurannya. CO2 di atmosfer ada batasnya. Suhu bumi ada rentangnya. Ketika kita obral batu bara, babat hutan, buang metana dari sampah, ukuran itu jebol. Maka bumi demam. Dan demamnya kita yang rasa: 35°C di bulan yang harusnya sejuk.

Baca Juga  Menuju Nol Kekerasan dan Pelecehan Seksual di Perguruan Tinggi

Lalu kenapa prediksi “udara sejuk” bisa gagal dan malah 35°C nongol? Kasusnya begini. Antara lain karena _urban heat island_. Kota itu oven raksasa. Aspal, beton, atap seng menyerap panas siang, melepasnya malam. Pohon sebagai AC alami kita tebang, lalu ganti dengan ruko. Maka termometer di tengah kota bisa 4-7°C lebih tinggi dari desa sebelah. BMKG ukur di Kemayoran yang masih banyak lapangan, sementara kita tinggal di gang yang dikepung AC outdoor. Jadi angka resmi 28°C, gang kita 35°C. Itu bukan BMKG salah. Itu kita yang memanggang diri sendiri.

Dan atau penyebab lain: kelembapan. Suhu 23°C tapi kelembapan 95% terasa gerah pengap karena keringat tidak menguap. Badan kita baca _heat index_, bukan angka di aplikasi. Ditambah lagi atmosfer sekarang labil. Pagi berawan, siang awan tersapu angin, matahari tembus tanpa ampun, suhu loncat 8°C dalam dua jam. Ini bukan “alam ngerjain”. Ini konsekuensi kita mengubah komposisi atmosfer.

Usaha yang perlu dilakukan antara lain berhenti jadi umat yang _israf_.

QS. Al-An’am: 141 sudah wanti-wanti, _“…dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”_ Boros listrik itu _israf_. Boros air itu _israf_. Boros plastik itu _israf_. Boros BBM itu _israf_. Rasulullah SAW bahkan negur Sa’ad yang wudhu boros air. Kata Nabi dalam HR. Ibnu Majah, _“Kenapa boros begini?”_ Sa’ad kaget, _“Apakah dalam wudhu ada boros?”_ Nabi jawab, _“Ya, walaupun kamu di sungai yang mengalir.”_ Kalau wudhu saja tidak boleh boros, apalagi cuci mobil sejam pakai selang, atau set AC 16°C lalu pakai selimut. Itu bukan cuma boros listrik, tapi boros pahala.

Soal erosi dan reboisasi, Islam itu agama hijau. Sabda Nabi dalam HR. Muslim, _“Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu burung, manusia, atau binatang makan darinya, melainkan itu menjadi sedekah baginya.”_ Nanam pohon itu mesin pahala. Akarnya nahan longsor, daunnya produksi oksigen, buahnya dimakan, teduhnya dipakai orang. Bahkan dalam HR. Bukhari, _“Jika kiamat terjadi, sedangkan di tangan salah seorang kalian ada bibit kurma, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya.”_ Kiamat saja disuruh nanam. Lah kita, bumi belum kiamat, malah rajin nebang. Pantes erosi jalan terus, waduk dangkal, danau mengecil.

Kasusnya parah karena kita permisif. “Ah cuma satu plastik”. “Ah cuma bakar daun dikit”. Padahal 270 juta “cuma” jadinya Bantar Gebang setinggi 50 meter. Kita galak ke pemerintah kalau banjir, tapi diam lihat tetangga buang kasur ke kali. Kita menuntut “hak atas lingkungan hidup yang baik”, tapi lupa “kewajiban menjaga lingkungan”. Padahal HR. Abu Dawud mengancam keras: _“Barangsiapa memotong pohon bidara di padang pasir yang biasa berteduh musafir dan binatang, maka Allah akan menelungkupkan kepalanya di neraka.”_ Pohon di gurun saja dilindungi, apalagi hutan Kalimantan yang jadi paru-paru dunia. Dosa ekologis itu nyata.

Sejumlah hal yang harus jadi budaya, bukan proyek.

Pertama, hidupkan rasa malu. Di Jepang, anak SD malu buang sampah sembarangan. Di kita, yang bawa tumbler yang diledek. Balik. Bikin malu itu sosial. Satpam negur yang buang puntung. Grup RT viral-kan yang buang sampah ke selokan. Malu itu gratis, tapi efeknya lebih nendang dari denda.

Kedua, jadikan masjid dan sekolah pusat ekologi. Khutbah Jumat bahas QS. Al-A’raf: 56. Majelis taklim praktik kompos. Sekolah wajib punya biopori, panel surya, bank sampah. Kalau anak pulang bawa kebiasaan pilah sampah, emaknya ketularan. Revolusi selalu dari kelas 1 SD dan dari mimbar.

Baca Juga  Persuasion is often more effectual than force

Ketiga, insentif dan disinsentif yang tegas. Plastik bayar. Air tanah dikuota. Listrik boros kena progresif. Sebaliknya, iuran sampah gratis kalau pilah 100%. Motor listrik bebas pajak. PBB diskon untuk rumah yang punya sumur resapan. Manusia itu rasional. Sentuh dompetnya, berubah perilakunya. Ini sejalan dengan _maqashid syariah_ hifzhul bi’ah: menjaga lingkungan itu bagian dari menjaga jiwa dan keturunan.

Keempat, data harus jadi dakwah. World Bank bilang peningkatan data, tata ruang, dan perlindungan sosial akan mengurangi dampak iklim. Benar. Tapi data jangan di menara gading. Buat notifikasi ke HP: “AQI kelurahanmu 175, tidak sehat, anak di dalam”. “Desamu zona merah longsor, yuk kerja bakti selokan”. Ketika bencana terasa personal, orang bergerak. Ketika dosa ekologis terasa dekat, orang tobat.

Kasusnya, kita rajin, tapi salah arah

Rajin beli AC, rajin tebang pohon. Rajin bangun ruko, rajin cor halaman sampai air tidak bisa resap. Rajin protes banjir, rajin buang sampah ke got. Rajin ke masjid, tapi lupa bahwa merusak bumi itu zalim ke sesama makhluk. Padahal Allah janji di QS. Al-A’raf: 96, _“Jikalau penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami bukakan untuk mereka berkah dari langit dan bumi…”_ Berkah dari langit itu hujan yang teratur, bukan banjir. Berkah dari bumi itu tanah subur, udara sejuk, bukan 35°C. Syaratnya: iman, takwa, dan tidak merusak.

Maka 35°C itu bukan cuma soal fisika. Itu soal akhlak. Itu soal kita gagal jadi _khalifah_. Kita lebih pilih jadi konsumen. Kita lebih nyaman jadi perusak yang taubatnya ditunda. Kita lupa bahwa tiap tetes air yang kita boroskan, tiap watt listrik yang kita hamburkan, tiap plastik yang kita buang, akan dihisab. Kalau wudhu saja dihisab, apalagi jejak karbon.

Usaha yang perlu dilakukan sekarang adalah tobat ekologis. Satu orang satu pohon. Satu rumah satu biopori. Satu kantor zero _styrofoam_. Satu kampung bebas sampah. Satu masjid jadi _eco-masjid_. Satu sekolah jadi _green school_. Sederhana, murah, tapi kalau 100 juta orang lakukan, Indonesia adem besok pagi.

Karena bumi tidak butuh kita. Kita yang butuh bumi. Dan bumi sedang menagih janji kita sebagai _khalifah_. Kalau kita tunaikan, suhu turun. Kalau kita ingkari, jangan kaget kalau prediksi sejuk gagal terus, dan yang datang malah 35°C, 40°C, sampai kita tidak kuat berdiri.

Pilihannya ada di tempat sampah kita. Di keran air kita. Di saklar lampu kita. Di tangan kita yang memegang bibit kurma. Mau tanam, atau mau biarkan kiamat iklim datang lebih cepat?

RUJUKAN DATA & DALIL:

Antara lain data: Laporan CERAH & Koaksi Indonesia 2022 menyebut ekonomi Indonesia paling rentan iklim dan kelompok miskin korban pertama. Laporan World Bank menyebut pentingnya data dan tata ruang untuk kurangi dampak iklim. Blog IKADI 27 April 2026 mencatat Tangerang hadapi bencana & kebakaran Rp10 miliar meski sudah ada FPRB. Data BMKG: suhu naik 0,03°C/tahun, Jakarta naik 1,6°C sejak 1900. BNPB: 95% bencana hidrometeorologi. KLHK: 59% sungai cemar berat, sampah 68,5 juta ton/tahun.

Dalil: QS. Al-A’raf: 56 tentang larangan merusak bumi. QS. Ar-Rum: 41 tentang kerusakan akibat tangan manusia. QS. Al-Qamar: 49 tentang segala sesuatu menurut ukuran. QS. Al-An’am: 141 tentang larangan israf. QS. Al-A’raf: 96 tentang berkah bagi yang takwa. HR. Muslim tentang sedekah menanam pohon. HR. Bukhari tentang tanam meski kiamat. HR. Ibnu Majah tentang larangan boros wudhu. HR. Abu Dawud tentang larangan tebang pohon di padang pasir.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button