Pandai Berterima Kasih: Jangan Pernah Menyia-nyiakan Kebaikan Orang Lain

Pandai Berterima Kasih: Jangan Pernah Menyia-nyiakan Kebaikan Orang Lain
Oleh: Bang Bangun Lubis – Dosen Stisipol Candradimuka Palembang
Ada manusia yang begitu mudah mengingat luka, tetapi begitu cepat melupakan jasa. Ia masih mengingat kata-kata yang menyakitkan bertahun-tahun lamanya, namun lupa kepada tangan yang pernah mengangkatnya saat terjatuh. Ia masih menyimpan kekecewaan yang kecil, tetapi menghapus dari ingatannya berbagai kebaikan yang pernah diterimanya.
Padahal, salah satu tanda kemuliaan akhlak seorang mukmin adalah pandai berterima kasih dan menghargai kebaikan orang lain.
Dalam perjalanan hidup, tidak ada seorang pun yang benar-benar berjalan sendirian. Kesuksesan yang diraih, kesulitan yang mampu dilewati, bahkan senyum yang masih bisa diberikan hari ini, sering kali tidak lepas dari bantuan, doa, dukungan, dan pengorbanan orang lain.
Ada orang tua yang diam-diam mendoakan anaknya setiap malam.
Ada guru yang sabar mengajari ketika muridnya belum memahami pelajaran.
Ada sahabat yang tetap bertahan saat banyak orang memilih menjauh.
Ada tetangga yang datang membantu ketika musibah menimpa.
Ada seseorang yang mungkin tidak pernah disebut namanya, tetapi pernah menjadi jalan datangnya pertolongan Allah kepada kita.
Karena itu, jangan pernah menyia-nyiakan kebaikan mereka.
Allah SWT berfirman: “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).”(QS. Ar-Rahman: 60)
Ayat ini mengandung pelajaran yang sangat indah. Kebaikan selayaknya dibalas dengan kebaikan. Jika tidak mampu membalas dengan harta, balaslah dengan perhatian. Jika tidak mampu membalas dengan bantuan, balaslah dengan doa. Jika belum mampu memberikan apa pun, setidaknya jangan melupakan jasanya.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadis ini mengajarkan bahwa syukur kepada Allah tidak hanya diucapkan dengan lisan melalui kalimat *Alhamdulillah*. Syukur juga diwujudkan dalam cara kita memperlakukan sesama manusia.
Bagaimana mungkin seseorang mengaku bersyukur kepada Allah, sementara ia tidak menghargai orang yang pernah membantunya?
Bagaimana mungkin seseorang memuji nikmat Allah, tetapi melupakan orang yang menjadi perantara datangnya nikmat tersebut?
Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwa termasuk akhlak seorang muslim adalah mengakui dan menghargai kebaikan orang lain. Sebab penghargaan terhadap jasa manusia merupakan bagian dari kesempurnaan akhlak dan keimanan.
Orang yang pandai berterima kasih biasanya memiliki hati yang lembut. Ia tidak merasa semua keberhasilannya berasal dari dirinya sendiri. Ia sadar bahwa di balik pencapaiannya ada banyak tangan yang pernah membantunya.
Sebaliknya, orang yang sulit berterima kasih sering kali terjebak dalam kesombongan. Ia merasa semua yang diraih adalah hasil kerja kerasnya semata. Ia lupa bahwa Allah telah mengirim banyak orang untuk membantunya di sepanjang perjalanan hidup.
Betapa banyak orang yang ketika miskin begitu dekat dengan sahabat-sahabatnya. Namun ketika kaya, ia lupa siapa yang pernah menemaninya saat susah.
Betapa banyak orang yang ketika membutuhkan pertolongan begitu ramah dan penuh penghargaan. Namun setelah berhasil, ia bahkan enggan menyapa orang yang pernah berjasa kepadanya.
Padahal kehidupan terus berputar.
Hari ini kita ditolong, besok mungkin kita yang menolong.
Hari ini kita kuat, esok mungkin kita membutuhkan bantuan orang lain.
Karena itu jangan pernah meremehkan arti sebuah hubungan baik.
Jangan pernah memutus silaturahim dengan orang yang pernah berjasa.
Jangan pernah melukai hati orang yang pernah menolong kita.
Ibnu Qayyim رحمه الله mengatakan bahwa hati manusia secara fitrah mencintai orang yang berbuat baik kepadanya. Oleh karena itu, mengenang dan menghargai jasa orang lain termasuk akhlak yang dicintai Allah.
Pasti kesombongan mengajak untuk tidak.mencitai dan berterimakasih kepada orang lain. Bagaimana ingin dicintai Allah, jika kita tak mampu brrbuat baik dan membalas kebaikan orang walau sedikit
Kita mungkin tidak mampu membalas semua kebaikan yang pernah kita terima. Namun kita selalu mampu mendoakan mereka.
Doa adalah hadiah yang tidak membutuhkan biaya, tetapi nilainya sangat besar di sisi Allah.
Doakan orang tua yang telah membesarkan kita.
Doakan guru yang telah mengajarkan ilmu kepada kita.
Doakan sahabat yang pernah menemani masa sulit kita.
Doakan siapa saja yang pernah menjadi sebab datangnya pertolongan Allah dalam hidup kita.
Karena sesungguhnya manusia yang besar bukanlah mereka yang memiliki jabatan tinggi atau kekayaan melimpah. Manusia yang besar adalah mereka yang tetap rendah hati ketika berhasil, tetap menghormati orang-orang yang pernah berjasa, dan tetap mengingat kebaikan orang lain meskipun telah berlalu bertahun-tahun.
Kelak ketika usia bertambah dan rambut mulai memutih, yang paling menghangatkan hati bukanlah banyaknya harta yang dimiliki. Yang menghangatkan hati adalah kenangan tentang hubungan-hubungan baik yang pernah dijaga dengan penuh penghormatan dan rasa terima kasih.
Maka jadilah pribadi yang pandai berterima kasih.
Jangan hanya mengingat kesalahan orang lain.
Ingatlah juga kebaikan mereka.
Jangan hanya menghitung luka yang pernah diterima.
Hitunglah pula pertolongan yang pernah diberikan.
Sebab hati yang selalu mengingat kebaikan orang lain adalah hati yang dekat dengan syukur. Dan hati yang dekat dengan syukur adalah hati yang dekat dengan Allah.
Allah SWT berfirman:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”(QS. Ibrahim: 7)
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai berterima kasih, tidak melupakan jasa orang lain, senantiasa menghargai setiap kebaikan yang diterima, dan termasuk golongan orang-orang yang bersyukur. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.



