ARTIKEL

Bahagia Itu Tidak Harus dengan Kekayaan

Realitanya, tidak sedikit orang yang bergelimang harta, tetapi malam-malamnya dipenuhi dengan kegelisahan, kecemasan

Kebahagiaan Tidak Harus Berupa Kekayaan: Menemukan Kedamaian Pikiran dalam Islam


Oleh: Bang Bangun Lubis

Banyak orang mengira kunci kebahagiaan adalah tumpukan uang, rumah megah, atau mobil mewah.

Namun kenyataannya, tidak sedikit orang yang bergelimang harta, tetapi malam-malam mereka justru dipenuhi dengan kecemasan, kekhawatiran, dan kehampaan.

Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati (*sa’adah*) tidak terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada apa yang kita rasakan di dalam hati.

Kekayaan Hati adalah Kekayaan yang Sejati

Nabi Muhammad ﷺ memberikan resep kebahagiaan yang sangat indah melalui sebuah hadis sahih. Beliau meluruskan kekeliruan masyarakat mengenai definisi “kaya”.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah ﷺ bersabda: *”Kekayaan itu bukanlah dari banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sejati adalah kekayaan hati (jiwa yang selalu merasa cukup).”* (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang yang memiliki kekayaan hati (*ghina an-nafs*) akan selalu merasa tenang karena mereka tidak diperbudak oleh dunia. Sebaliknya, sebanyak apa pun kekayaan yang dimiliki seseorang, jika hatinya miskin, ia akan selalu merasa kekurangan dan malam-malamnya akan dipenuhi ketakutan akan kehilangan dunianya.

Baca Juga  Antara Sunyi Perpustakaan dan Perintah “Iqra' - Membaca: Jalan Sunyi Menuju Kebangkitan Peradaban

Zikir sebagai Penenang Jiwa yang Gelisah

Mengapa orang kaya bisa menjadi gelisah? Karena mereka mencari kedamaian pada hal-hal materi yang bersifat fana. Padahal, Sang Pencipta Hati telah menegaskan bahwa kedamaian hanya dapat dicapai dengan mengingat-Nya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”* (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini merupakan tamparan sekaligus obat bagi siapa saja yang merasa hampa di tengah kemewahan. Kasur yang empuk bisa dibeli dengan uang, tetapi tidur yang nyenyak dan hati yang damai adalah anugerah yang hanya Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

Formula Kebahagiaan: Qana’ah dan Melihat ke Bawah

Baca Juga  Surprise ! Surat Menteri Kebudayaan: Peluang Alih Kelola Benteng Kuto Besak 

Agar terhindar dari penyakit cemas dan kufur nikmat, Islam mengajarkan sifat Qana’ah (merasa cukup dengan apa yang ada) dan memberikan panduan praktis dalam menjalani hidup.
Rasulullah ﷺ bersabda:

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu dan janganlah memandang orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih pantas agar mapan sehingga kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.”* (HR. Muslim)

Kekayaan dalam Islam bukanlah sesuatu yang dilarang, bahkan bisa menjadi sarana ibadah yang mulia jika berada di tangan orang yang saleh. Namun, menjadikan kekayaan sebagai tujuan utama kebahagiaan adalah sebuah kekeliruan besar.

Kebahagiaan itu sederhana dan gratis. Ia datang ketika kita rida dengan ketetapan Allah, bersyukur atas setiap rezeki, dan menjaga hati agar tetap berpaut kepada-Nya.

Uang bisa membeli hiburan, tetapi tidak bisa membeli kebahagiaan. Kebahagiaan sejati dianugerahkan ke dalam hati orang-orang yang bersujud kepada-Nya dalam kepasrahan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button