Buku “Transformasi Konflik: Dari Batu Hingga Algoritma” Karya Rosihan Arsyad Hadir, Membaca Evolusi Perang dari Zaman Batu hingga Era Kecerdasan Buatan

Buku “Transformasi Konflik: Dari Batu Hingga Algoritma” Karya Rosihan Arsyad Hadir, Membaca Evolusi Perang dari Zaman Batu hingga Era Kecerdasan Buatan
Oleh: Bang Bangun Lubis
JAKARTA – Dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, perang yang tidak lagi hanya berlangsung di medan tempur konvensional, hingga kemunculan kecerdasan buatan dan algoritma sebagai bagian dari strategi militer modern menjadi tema sentral dalam buku terbaru karya Laksamana Muda TNI (Purn) Rosihan Arsyad.
Buku berjudul “Transformasi Konflik: Dari Batu Hingga Algoritma – Evolusi Mesin Perang dan Strategi Global“yang diterbitkan oleh Teras Budaya, Jakarta, pada Juni 2026 tersebut hadir sebagai sebuah kajian komprehensif mengenai perjalanan panjang konflik manusia dari masa prasejarah hingga proyeksi peperangan abad ke-21.
Dengan ketebalan lebih dari 450 halaman dan terdiri atas 19 bab, buku ini tidak hanya berbicara mengenai persenjataan dan teknologi militer, tetapi juga menguraikan hubungan antara sejarah, politik internasional, ekonomi, psikologi manusia, hingga perkembangan teknologi digital yang memengaruhi wajah peperangan modern.
Rosihan Arsyad yang pernah menjabat sebagai Komandan KRI Teluk Semangka, Komandan Gugus Keamanan Laut Armada Barat (Guskamla Armabar), Kepala Staf Armada Barat (Kasarmabar), serta Gubernur Sumatera Selatan periode 1998–2003, menghadirkan sebuah perspektif yang luas mengenai transformasi konflik yang terus mengalami evolusi sepanjang sejarah peradaban manusia.
Dalam prolog buku tersebut, Rosihan mengemukakan bahwa pada hakikatnya konflik manusia tidak pernah berubah.
“Niat di dalam hati manusia tidak pernah berubah sejak Kabil mengangkat batunya. Yang berubah hanyalah instrumennya, dari bongkah batu menjadi pedang perunggu, dari senapan lontak menjadi kapal induk bertenaga nuklir, hingga akhirnya bermutasi menjadi baris kode algoritma dan rudal hipersonik,” tulisnya.
Pandangan tersebut menjadi salah satu fondasi utama yang menopang keseluruhan pembahasan dalam buku.
Membaca Akar Konflik Manusia
Pada bagian awal, Rosihan membedah akar kekerasan dan konflik yang telah menyertai perjalanan umat manusia sejak zaman purba.
Melalui berbagai temuan arkeologi dan kajian sejarah, ia menjelaskan bahwa perang bukan semata-mata produk masyarakat modern, tetapi telah menjadi bagian dari dinamika manusia sejak masa awal peradaban.
Kelangkaan sumber daya disebut sebagai salah satu pemicu utama munculnya perebutan kekuasaan dan konflik antarkelompok.
Dari sana, pembaca diajak mengikuti perjalanan panjang perkembangan mesin perang, mulai dari lahirnya senjata berbahan perunggu, strategi militer Makedonia dan Romawi, hingga revolusi yang dibawa oleh bubuk mesiu dan dominasi kekuatan laut.
Perubahan demi perubahan tersebut menunjukkan bahwa teknologi selalu menjadi faktor yang menentukan keseimbangan kekuatan di dunia.
Dari Parit Perang Dunia Hingga Kecerdasan Buatan
Buku ini juga mengulas dua perang dunia yang menjadi titik balik dalam sejarah militer modern.
Perang Dunia I digambarkan sebagai era industrialisasi pembantaian, ketika senapan mesin, artileri dan perang parit mengubah wajah peperangan menjadi lebih brutal.
Sementara Perang Dunia II menghadirkan dimensi baru melalui dominasi udara, kapal induk, serta lahirnya senjata nuklir yang kemudian mengubah tatanan politik internasional.
Rosihan mengulas secara mendalam doktrin Mutually Assured Destruction (MAD), yang menjadikan senjata nuklir sebagai alat penangkal sekaligus ancaman terbesar bagi umat manusia.
Memasuki abad ke-21, pembahasan berkembang menuju perang siber, peperangan elektronik, kecerdasan buatan, deepfake, drone, serta perang zona abu-abu yang semakin sulit dibedakan antara kondisi damai dan konflik.
Menurut Rosihan, perang modern tidak lagi mengenal batas yang tegas antara militer dan sipil.
Medan pertempuran kini dapat berada di ruang digital, media sosial, ekonomi, bahkan jaringan informasi yang memengaruhi opini publik.
Relevansi bagi Indonesia
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah kemampuannya mengaitkan perkembangan konflik global dengan kepentingan strategis Indonesia.
Rosihan menyoroti pentingnya Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), posisi Indonesia di kawasan Indo-Pasifik, serta kebutuhan untuk membangun kemampuan maritim yang kuat.
Ia juga menekankan pentingnya kemandirian teknologi nasional agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi mampu menjadi pemain yang memiliki daya tawar dalam percaturan global.
Selain itu, buku ini mengingatkan bahwa diplomasi yang kuat perlu didukung oleh kemampuan pertahanan dan kesiapan menghadapi ancaman non-konvensional yang semakin berkembang.
Karya yang Kaya Analisis
Buku “Transformasi Konflik: Dari Batu Hingga Algoritma” tidak disusun sebagai katalog persenjataan semata.
Rosihan menggunakan pendekatan yang memadukan sejarah, geopolitik, strategi militer, ekonomi, hingga perkembangan teknologi.
Melalui berbagai metafora seperti “Mesin Ketik Kematian”, “Palu dan Landasan”, hingga “Obeng Seribu Mil”, pembahasan yang kompleks menjadi lebih mudah dipahami oleh pembaca umum.
Pendekatan tersebut membuat buku ini memiliki nilai akademik sekaligus menarik untuk dibaca oleh kalangan nonmiliter.
Buku ini juga menghadirkan kritik terhadap dominasi kekuatan besar dunia dan fenomena Military-Industrial Complex yang dinilai turut memengaruhi arah konflik global.
Dalam pembahasannya, Rosihan menyoroti perang ekonomi, perebutan rantai pasok, hingga persaingan teknologi semikonduktor yang menjadi bagian dari persaingan geopolitik kontemporer.
Masih Memiliki Tantangan
Di balik berbagai kelebihannya, buku ini juga memiliki tingkat kepadatan informasi yang tinggi.
Dengan cakupan pembahasan yang sangat luas, pembaca memerlukan konsentrasi dan ketekunan untuk mengikuti alur pemikiran yang disajikan.
Banyak istilah teknis, akronim militer dan berbagai peristiwa sejarah yang membuat buku ini lebih cocok dibaca secara bertahap.
Selain itu, sebagian besar contoh yang digunakan masih berfokus pada negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Uni Soviet dan Tiongkok.
Meski demikian, hal tersebut tidak mengurangi nilai penting buku sebagai referensi mengenai perkembangan konflik dan strategi global.
Bacaan Penting di Tengah Ketidakpastian Dunia
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia, perang Rusia-Ukraina, konflik di Timur Tengah, serta persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok, buku ini menjadi relevan untuk dibaca oleh berbagai kalangan.
Tidak hanya bagi personel TNI dan Polri, tetapi juga para pembuat kebijakan, akademisi, mahasiswa, peneliti hubungan internasional, hingga masyarakat umum yang ingin memahami perubahan wajah konflik global.
Melalui buku ini, Rosihan Arsyad ingin mengingatkan bahwa perdamaian bukanlah sesuatu yang dapat diterima begitu saja.
Perdamaian membutuhkan keseimbangan, kesiapan dan kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan zaman.
Pada akhirnya, “Transformasi Konflik: Dari Batu Hingga Algoritma” hadir bukan sebagai ramalan tentang kiamat peperangan, melainkan sebagai peringatan dini agar bangsa-bangsa, termasuk Indonesia, memiliki kedewasaan strategis dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan.
Dengan memahami anatomi konflik secara lebih mendalam, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi penonton dalam pusaran geopolitik dunia, tetapi mampu berdiri sebagai bangsa yang tangguh, adaptif, dan tetap menjaga kedaulatannya di tengah perubahan zaman yang terus bergerak dari batu menuju algoritma.



