NEWS

Rupiah Melemah : BI Jangan Tutup Mata dan Telinga

Rupiah Melemah : BI Jangan Tutup Mata dan Telinga

 

Wakil Ketua Bidang Ekonomi Kerakyatan dan UMKM GMNI Jakarta Timur, Bima Sadiropa Sijabat, menyoroti tekanan besar yang sedang dialami rupiah akibat penguatan dolar Amerika Serikat dan menguatnya mata uang regional, termasuk ringgit Malaysia.

Kondisi tersebut dinilai tidak hanya memengaruhi pasar keuangan nasional, tetapi juga mulai berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat dan sektor usaha kecil menengah di Indonesia.

“Situasi pelemahan rupiah hari ini harus menjadi perhatian serius pemerintah dan Bank Indonesia. Ketika dolar AS terus menguat dan mata uang regional seperti ringgit Malaysia ikut mengalami penguatan, maka posisi rupiah semakin tertekan. Dampaknya bukan hanya dirasakan investor, tetapi langsung menyentuh rakyat kecil, pelaku UMKM, hingga stabilitas harga kebutuhan pokok,” ujar Bima Sadiropa Sijabat.

 

Berdasarkan perkembangan pasar keuangan terbaru pada perdagangan 21 Mei 2026, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.652 hingga Rp17.738 per dolar AS. Bahkan dalam beberapa hari terakhir rupiah sempat menyentuh level Rp17.706 per dolar AS dan menjadi salah satu titik pelemahan terdalam sepanjang sejarah perdagangan rupiah.

 

Sementara itu, berdasarkan data kurs perbankan nasional terbaru, nilai tukar ringgit Malaysia berada di kisaran Rp4.388 hingga Rp4.618 per 1 ringgit Malaysia. Penguatan ringgit tersebut memperlihatkan adanya tekanan regional terhadap mata uang Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.

 

Di sisi pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami tekanan signifikan. Pada pembukaan perdagangan 21 Mei 2026, IHSG tercatat melemah hingga 1,82 persen ke level 6.203 dan bahkan sempat bergerak turun lebih dalam ke area 6.181. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah ikut memengaruhi sentimen investor di pasar saham nasional.

Baca Juga  Bertumbuh Bersama: Jalan Terang Mencerdaskan Anak dan Orang Tua

 

Menurut Bima, pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi global, tingginya suku bunga Amerika Serikat, meningkatnya tensi geopolitik dunia, serta perpindahan modal investor ke aset berbasis dolar menjadi penyebab utama penguatan dolar AS secara global. Sementara dari sisi domestik, tingginya kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri, dan keluarnya arus modal asing membuat rupiah semakin rentan mengalami tekanan.

 

“Ketika investor global lebih memilih menyimpan aset dalam bentuk dolar AS, maka negara berkembang seperti Indonesia akan menghadapi tekanan besar terhadap nilai tukarnya. Ini yang sedang terjadi hari ini,” jelasnya.

 

Ia menilai Bank Indonesia sejauh ini telah menjalankan tugas dan kewenangannya sesuai amanat Undang-Undang, yakni menjaga stabilitas nilai rupiah, menjaga inflasi, serta menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Langkah BI menaikkan suku bunga acuan, melakukan intervensi di pasar valuta asing, memperkuat transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga menjaga cadangan devisa merupakan kebijakan yang tepat untuk menahan tekanan terhadap rupiah.

 

Namun demikian, Bima menegaskan bahwa stabilitas rupiah tidak bisa hanya dibebankan kepada Bank Indonesia semata. Pemerintah pusat harus memperkuat sektor riil dan ekonomi domestik agar Indonesia tidak terlalu bergantung terhadap faktor eksternal.

Menurutnya, terdapat beberapa langkah konkret yang perlu segera dilakukan agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam, antara lain:

Memperkuat produksi dan industri nasional agar ketergantungan impor berkurang.

Baca Juga  Dari Dapur ke Keluarga: Menata Ulang Arsitektur Makan Bergizi Gratis dengan Akal Sehat Fiskal

Menjaga devisa hasil ekspor tetap berada di dalam negeri.

Memperkuat sektor UMKM sebagai penopang utama ekonomi nasional.

Mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok masyarakat.

Meningkatkan kepercayaan investor melalui kepastian hukum dan stabilitas politik nasional.

Memperluas penggunaan transaksi mata uang lokal antarnegara guna mengurangi dominasi dolar AS.

Bima juga mengingatkan bahwa apabila dolar AS terus mengalami kenaikan dan rupiah semakin melemah, maka dampaknya akan sangat luas terhadap masyarakat Indonesia. Harga barang impor akan meningkat, biaya produksi industri naik, harga BBM berpotensi terdorong, utang luar negeri pemerintah dan swasta membengkak, serta inflasi dapat semakin tinggi.

“Yang paling terdampak tentu masyarakat kecil dan pelaku UMKM. Ketika bahan baku naik, ongkos produksi naik, tetapi daya beli masyarakat melemah, maka ekonomi rakyat akan mengalami tekanan berlapis. Ini yang harus diantisipasi sejak sekarang,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kondisi pelemahan rupiah yang terjadi bersamaan dengan penurunan IHSG menunjukkan adanya kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi nasional. Oleh sebab itu, pemerintah harus segera mengambil langkah strategis dan terukur agar kepercayaan pasar tetap terjaga.

“Indonesia harus memperkuat fondasi ekonominya sendiri. Ketahanan pangan, energi, industri nasional, dan penguatan UMKM harus menjadi prioritas utama agar ekonomi nasional tidak mudah terguncang hanya karena tekanan mata uang asing. Negara tidak boleh hanya fokus menjaga angka pertumbuhan, tetapi juga harus memastikan rakyat tetap mampu bertahan di tengah situasi ekonomi global yang tidak menentu,” tutup Bima Sadiropa Sijabat selaku Wakil Ketua Bidang Ekonomi Kerakyatan dan UMKM GMNI Jakarta Timur.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button