SISI LAIN

Kewajiban Suami dan Istri dalam Islam: Membangun Rumah Tangga yang Sakinah

Tujuan utama pernikahan adalah menghadirkan sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang).

Kewajiban Suami dan Istri dalam Islam: Membangun Rumah Tangga yang Sakinah

Oleh: Bangun Lubis

Rumah tangga dalam Islam bukan sekadar ikatan antara seorang laki-laki dan perempuan. Pernikahan adalah ibadah, amanah, sekaligus jalan menuju ketenangan hidup. Karena itu, Allah SWT telah menetapkan hak dan kewajiban bagi suami dan istri agar kehidupan rumah tangga berjalan dengan penuh kasih sayang, saling menghormati, dan saling membantu dalam kebaikan.

Di zaman sekarang, tidak sedikit keluarga yang menghadapi berbagai persoalan. Sebagian muncul karena masalah ekonomi, sebagian lagi karena kurangnya komunikasi, bahkan tidak sedikit yang berawal dari tidak dipahaminya hak dan kewajiban masing-masing. Padahal, Islam telah memberikan pedoman yang sangat lengkap.

Allah SWT berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama pernikahan adalah menghadirkan sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang). Rumah tangga bukan tempat saling menyakiti, melainkan tempat kembali ketika lelah menghadapi kehidupan.

Kewajiban Suami

Islam menempatkan suami sebagai pemimpin keluarga. Namun kepemimpinan dalam Islam bukan berarti kekuasaan yang sewenang-wenang, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

 

Allah berfirman:

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah memberikan nafkah dari hartanya.”(QS. An-Nisa’: 34)

Seorang suami berkewajiban memberikan nafkah yang halal sesuai kemampuannya, melindungi keluarganya, mendidik istri dan anak-anak dalam agama, serta memperlakukan istrinya dengan penuh kelembutan.

Baca Juga  Anatomi Kejam Sang Predator : Menelisik Kasus Taufik Hidayat Dari Sisi Hukum dan Psikologi Forensik

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.”(HR. At-Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seorang laki-laki bukan hanya keberhasilannya di luar rumah, tetapi juga bagaimana ia memperlakukan keluarganya.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan, memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian, jangan memukul wajahnya, jangan mencelanya, dan jangan mendiamkannya kecuali di dalam rumah.”(HR. Abu Dawud No. 2142)

Hadis ini menegaskan bahwa Islam melarang suami merendahkan martabat istrinya. Kehormatan seorang istri harus dijaga sebagaimana suami menjaga kehormatannya sendiri.

Kewajiban Istri

Sebagaimana suami memiliki kewajiban, istri pun memiliki amanah yang mulia. Seorang istri diperintahkan menjaga kehormatan diri, menaati suami dalam perkara yang baik, menjaga harta keluarga, serta mendidik anak-anak dengan penuh kasih sayang.

Allah SWT berfirman:

“…Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada karena Allah telah menjaga mereka.”(QS. An-Nisa’: 34)

Ketaatan kepada suami bukan berarti mengabaikan ketaatan kepada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.”(HR. Ahmad)

Artinya, seorang istri menaati suami selama tidak diperintahkan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat.

Suami dan Istri adalah Pakaian bagi Satu Sama Lain

Salah satu gambaran paling indah tentang hubungan suami dan istri terdapat dalam Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman: “Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.”(QS. Al-Baqarah: 187)

Pakaian berfungsi menutupi kekurangan, melindungi, menghangatkan, dan memperindah. Begitu pula suami dan istri. Mereka tidak seharusnya membuka aib pasangannya kepada orang lain, melainkan saling menjaga dan melengkapi.

Baca Juga  Anatomi Ancaman "Super Flu": Membangun Benteng Pertahanan Kesehatan Nasional

Saling Bermusyawarah dan Menghormati

Rumah tangga yang bahagia bukan berarti tidak pernah mengalami masalah. Perbedaan pendapat pasti terjadi. Namun Islam mengajarkan agar persoalan diselesaikan dengan musyawarah, kesabaran, dan saling memaafkan.

Allah SWT berfirman: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut (ma’ruf).”(QS. An-Nisa’: 19)

Pergaulan yang ma’ruf mencakup tutur kata yang lembut, sikap saling menghormati, serta tidak menyakiti pasangan baik dengan ucapan maupun perbuatan.

Rumah Tangga adalah Jalan Menuju Surga

Pernikahan bukan hanya tentang kebahagiaan dunia, tetapi juga perjalanan menuju akhirat. Ketika suami bekerja mencari nafkah yang halal, ia sedang beribadah. Ketika istri menjaga rumah tangga dengan ikhlas, ia pun sedang beribadah.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang salehah.”(HR. Muslim)

Sebaliknya, seorang suami yang saleh juga merupakan nikmat besar bagi keluarganya. Rumah tangga yang dibangun di atas iman akan menjadi tempat tumbuhnya generasi yang bertakwa.

Keluarga yang harmonis tidak lahir karena harta yang melimpah atau rumah yang megah. Keharmonisan lahir dari hati yang dipenuhi iman, kesabaran, kejujuran, saling menghormati, dan komitmen menjalankan syariat Allah.

Semoga setiap suami mampu menjadi pemimpin yang adil, penyayang, dan bertanggung jawab. Semoga setiap istri menjadi pendamping yang salehah, penuh kesabaran dan ketulusan. Dan semoga Allah SWT menjadikan rumah-rumah kita sebagai rumah yang dipenuhi sakinah, mawaddah, dan rahmah, serta mengumpulkan seluruh keluarga kita kelak di surga-Nya.

Wallāhu a’lam bish-shawāb.

 

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button