ARTIKEL

1 Muharram 1448 H: Spirit Persaudaraan Muhajirin-Anshar Jadi Modal Utama Menuju Indonesia Emas 2045

1 Muharram 1448 H: Spirit Persaudaraan Muhajirin-Anshar Jadi Modal Utama Menuju Indonesia Emas 2045

Oleh: Albar Santosa Subari

Menyambut momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, refleksi atas nilai-nilai sejarah Islam dinilai menjadi instrumen penting dalam merekatkan kembali tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu peristiwa monumental yang patut menjadi cerminan bangsa adalah peristiwa dipersaudarakannya Kaum Muhajirin dan Kaum Anshar oleh Rasulullah SAW pasca-hijrah.

Hal tersebut diungkapkan oleh Pengamat Hukum dan Politik, Albar Sentosa Subari, dalam artikel rilisnya pada Selasa (16/6/2026). Menurutnya, buah dari perjalanan hijrah tersebut melahirkan pelajaran kemanusiaan yang sangat berharga, yaitu pengorbanan, pembelaan, dan sifat itsar (mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi).

“Sesungguhnya persaudaraan yang benar ini merupakan landasan pokok dan fondasi yang digunakan oleh Rasulullah SAW dalam membangun tatanan masyarakat muslim ideal. Tatanan itu tumbuh dari benih-benih ukhuwah, cinta, adil, saling sepenanggungan, dan tolong-menolong,” ujar Albar, yang juga akademisi Universitas Sriwijaya (Unsri).

Baca Juga  Antara Sunyi Perpustakaan dan Perintah “Iqra' - Membaca: Jalan Sunyi Menuju Kebangkitan Peradaban

Albar menekankan bahwa esensi persaudaraan yang dibangun Rasulullah SAW kala itu sangat inklusif karena menghapus segala sekat suku, ras, hingga status sosial. Rasulullah memandang setara antara bangsa Arab dan non-Arab, antara orang merdeka dengan budak, serta antara kelompok kaya dan miskin. Teladan nyata terlihat saat Rasulullah mempersaudarakan dirinya dengan Ali bin Abi Thalib, serta pamannya Hamzah bin Abu Muthalib yang dipersaudarakan dengan Zaid bin Haritsah, seorang budak yang dimerdekakan.

Konsekuensi Etis Pemimpin Negara

Lebih lanjut, Albar mengaitkan nilai historis tersebut dengan jati diri bangsa Indonesia dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045, atau tepat satu abad kemerdekaan RI. Ia mengingatkan kembali pesan mendalam yang termaktub dalam Alinea Ketiga Pembukaan UUD 1945, yang menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia diraih “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”.

Baca Juga  Surprise ! Surat Menteri Kebudayaan: Peluang Alih Kelola Benteng Kuto Besak 

“Pernyataan konstitusional ini memberikan konsekuensi moral dan etis yang besar bagi para pemimpin negara untuk benar-benar menyejahterakan rakyat Indonesia. Kesejahteraan harus dihadirkan secara merata, tanpa adanya jurang pemisah status sosial yang terlampau curam di tengah masyarakat,” tegasnya.

Di akhir pemaparannya, Albar mengajak seluruh elemen bangsa untuk membumikan kembali kearifan lokal yang selaras dengan nilai-nilai ukhuwah tersebut demi mewujudkan tatanan negara yang *Rahmatan lil ‘Alamin* (membawa rahmat bagi semesta alam).

“Mari kita jadikan momentum 1 Muharram 1448 H ini sebagai pijakan menuju negara yang diridai Allah SWT, dengan memegang teguh pepatah adat *’Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung’*. Selamat memperingati Tahun Baru Islam, seiring langkah kita menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button