SISI LAIN

Pertarungan “Presiden Damai” dan Pembersihan Total di Washington: Judi Politik Terakhir Donald Trump Menjelang Pemilu Paruh Waktu 2026

Pertarungan “Presiden Damai” dan Pembersihan Total di Washington: Judi Politik Terakhir Donald Trump Menjelang Pemilu Paruh Waktu 2026

Oleh: Rosihan Arsyad – Ketua Dewan Redaksi

​Di ambang Pemilu Paruh Waktu (Midterm Elections) November 2026, Washington D.C. kembali diguncang oleh drama politik paling radikal dalam sejarah modern Gedung Putih. Rencana Presiden Donald Trump untuk memecat Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Direktur CIA John Ratcliffe akibat penolakan mereka terhadap kesepakatan damai AS-Iran bukan sekadar konflik internal kabinet biasa. Ini adalah manifestasi dari perbenturan total antara doktrin politik populisme isolasionis dan doktrin keamanan nasional konvensional.

​Langkah berani ini, bila memang dilakukan, secara Paradoks ikal justru menjadi katalisator yang membalikkan peruntungan politik Trump di mata publik Amerika yang mulai jenuh dengan perang tanpa akhir (endless wars).

 

​Pembersihan Eselon Dua: Kebangkitan “Schedule F” dan Penundukan Birokrasi Karier

 

​Kabar mengenai pembersihan tidak hanya berhenti di tingkat menteri. Informasi dari lingkaran dalam Gedung Putih mengonfirmasi bahwa instrumen hukum Schedule F—sebuah perintah eksekutif yang mengubah status ribuan pegawai sipil karier (setingkat eselon dua dan tiga) menjadi pegawai penunjukan politik (political appointees)—kini siap diaktifkan secara masif di Pentagon dan Langley (Markas CIA).

​Dalam pandangan saya, langkah membersihkan lapisan birokrasi karier ini adalah target antara yang jauh lebih krusial bagi Trump ketimbang sekadar memecat Hegseth atau Ratcliffe.

 

​Pemberantasan “Deep State”: Di Pentagon (DoD) dan CIA, penolakan terhadap kesepakatan Iran bukan hanya datang dari pucuk pimpinan, melainkan berakar kuat pada ribuan analis, perwira menengah, dan ahli strategi karier. Mereka melihat pelonggaran sanksi terhadap Iran sebagai ancaman eksistensial bagi sekutu regional seperti Israel dan Arab Saudi.

 

​Doktrin “Loyalitas Mutlak”: Dengan mengganti para birokrat karier ini dengan figur-figur loyalis dari wadah pemikir sayap kanan (seperti America First Policy Institute), Trump bertujuan memastikan bahwa ke depan, tidak akan ada lagi kebocoran dokumen intelijen (leaks) atau resistensi internal yang dapat menyabotase kebijakan luar negerinya.

​Bagi para kritikus, ini adalah pelemahan terhadap meritokrasi institusi intelijen. Namun bagi pendukung Trump, ini adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan kendali pemerintahan ke tangan presiden yang dipilih secara demokratis.

Baca Juga  Kokohkan Ideologi dan Kompetensi, PDA Palembang Sukses Gelar Baitul Arqam Angkatan I bagi Kepala dan Guru TK 'Aisyiyah

 

​Paradoks Popularitas: Mengapa Publik AS Bersimpati pada Langkah Keras Trump

 

​Tindakan keras Trump ini justru memicu simpati publik dan mendongkrak kembali popularitasnya yang sempat anjlok di awal tahun 2026.

​Mengapa pemecatan dramatis terhadap pejabat pertahanan senior justru membuahkan insentif elektoral? Data jajak pendapat dan lanskap psikologi pemilih AS saat ini menunjukkan tiga alasan utama:

​1. Kelelahan Narasi Perang (War Weariness)

​Setelah inflasi domestik yang mencabik ekonomi AS sepanjang tahun 2025 dan ketegangan global di Selat Hormuz di awal 2026 yang sempat melejitkan harga minyak dunia, pemilih kelas pekerja Amerika berada pada titik nadir kenyamanan ekonomi. Narasi Trump sebagai “Presiden Damai” yang berani mendobrak lingkaran militer demi mencegah keterlibatan AS dalam perang baru di Timur Tengah sangat beresonansi dengan basis pemilih Rust Belt dan kelompok independen.

​2. Narasi “Satu Orang Melawan Sistem”

​Gaya komunikasi Trump berhasil membingkai Hegseth, Ratcliffe, dan birokrat Pentagon sebagai representasi dari Military-Industrial Complex (Kompleks Industri Militer) yang haus perang demi keuntungan korporasi persenjataan. Ketika Trump berkonfrontasi dengan mereka, ia kembali mendapatkan status sebagai outsider yang berjuang membela kepentingan rakyat kecil dari cengkeraman elite Washington.

​3. Stabilisasi Ekonomi Instan

​Persetujuan kerangka damai 14 poin dengan Iran langsung direspons positif oleh pasar energi. Penurunan harga minyak mentah global ke level di bawah $75 per barel memberikan napas lega bagi inflasi AS. Pemilih secara langsung mengaitkan pembersihan kabinet yang dilakukan Trump dengan penurunan harga bensin di pompa-pompa bensin mereka.

 

​Peta Risiko Politik Menjelang Midterm Elections 2026

​Pembersihan kabinet dan aparatur negara di tengah musim kampanye Midterm adalah strategi berisiko tinggi (high-risk, high-reward). Berikut adalah simulasi dampak politik yang dihadapi oleh Partai Republik (GOP) dan Demokrat:

1. Kemungkinan soliditas Internal Partai Rpublik terbelah: bisa saja kubu Tom Cotton dan Mark Rubio menarik dukungan dana kampanye atau memboikot legislasi penting di Kongres. Namun pada sisi lain, sayap populis gerakan make America Great Again terkonsolidasi penuh; kandidat-kandidat yang didukung Trump mendapatkan lonjakan enegi dari relawan di tingkat bawah.

2. Respons Partai Demokrat: Partai Demokrat bisa saja menyerang Trump dengan narasi “Otoritarianisme” dan menuduh Trump membahayakan keamanan nasional dengan melumpuhkan CIA demi kesepakatan sepihak dengan Teheran. Sebaliknya, narasi oposisi beresiko terdengar seperti pembelaan terhadap perang, yang secara historis tidak populer di kalangan pemilih muda sayap kiri dan independen.

Baca Juga  Partai Gelora Dorong Pemerintah Percepat Pengembangan Energi Nuklir

3. Keamanan Birokrasi; Terjadinya gelombang pengunduran diri massal atau sabotase informasi intelijen terselubung menjelang Pemilu yang dapat memicu krisis keamanan baru. Sebaliknya, Trump bisa membuktikan bahwa eksekutif memiliki kekuasaan penuh, membersihkan elemen pembangkang sebelum masa sidang Kongres baru akan dimulai.

 

Pandangan Analitis: Judi Terakhir yang Mengubah Aturan Main

​Jika kita melihat situasi ini secara objektif, apa yang dilakukan Trump adalah bentuk pembersihan pragmatis yang ekstrem. Sepanjang sejarah AS, presiden biasanya menghindari perombakan besar di sektor intelijen dan pertahanan tepat sebelum pemilu guna menjaga stabilitas persepsi publik. Namun, Trump bukanlah presiden biasa; ia menggunakan konflik sebagai bahan bakar politik.

​Pendapat saya mengenai pembersihan eselon dua ini adalah bahwa langkah tersebut merupakan prasyarat mutlak jika Trump ingin kesepakatan damai dengan Iran benar-benar terimplementasi. Kesepakatan internasional serumit itu akan mati di tengah jalan jika para pelaksananya di lapangan (para analis CIA dan perencana militer Pentagon) secara pasif melakukan perlawanan (passive resistance).

​Mendongkraknya popularitas Trump saat ini membuktikan bahwa strategi “Damai melalui Ketegasan Domestik” bekerja dengan baik untuk jangka pendek. Publik Amerika bersimpati karena mereka melihat seorang pemimpin yang konsisten memegang janji kampanyenya untuk membawa pulang pasukan dan memprioritaskan ekonomi dalam negeri, terlepas dari seberapa gaduh ruang sidang di Washington.

​Namun, taruhannya ada pada implementasi pasca-pemilu. Jika setelah dibersihkannya Hegseth, Ratcliffe, dan jajaran eselon dua, Iran terbukti melanggar kesepakatan nuklir tersebut di akhir tahun, Trump tidak akan memiliki siapa pun lagi untuk disalahkan kecuali dirinya sendiri. Kebijakan ini akan menjadi warisan terbesar atau justru kejatuhan terdalam bagi periode keduanya. Kita tunggu apakah Trump memang akan melakukan “pembersihan” tersebut serta apa hasil akhirnya, namun melihat sepak terjang Trump sampai saat ini yang memiliki kemampuan memanipulasi psikologi massa dan menggunakan konflik sebagai bahan bakar

 

Yasyi Hill, 18 Juni 2026

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button