SISI LAIN

Di Balik Selimut Subuh

Cerpen Bang Bangun

Di Balik Selimut Subuh

 

Suara deru motor tua Sangkot yang memasuki halaman rumah selalu menjadi melodi yang paling dinanti oleh Masniari. Wanita berusia 51 tahun itu bergegas meninggalkan dapur, menyambut suaminya dengan senyum hangat dan segelas air putih di tangan.

Bagi Masniari, Sangkot adalah poros hidupnya. Meski penghasilan suaminya sebagai pekerja serabutan terbilang kecil dan tak menentu, Masniari tidak pernah mengeluh. Baginya, kemuliaan seorang istri bukan diukur dari seberapa tebal dompet yang dibawa pulang, melainkan dari seberapa besar rasa syukur yang mereka bawa ke atas meja makan.

“Gimana hari ini, Bang? Capai sekali kelihatannya,” tanya Masniari lembut, menyodorkan gelas.

Sangkot tersenyum letih, mengusap peluh di dahinya. “Begitulah, Dek. Cuma ada beberapa karung yang bisa Abang angkut tadi di pasar. Maaf ya, belum bisa bawa lebih banyak uang.”

“Hush, jangan ngomong begitu. Segini juga sudah berkah yang luar biasa,” sahut Masniari tulus.

Dari balik pintu kamar, Lian memperhatikan kedua orang tuanya dengan dada yang bergemuruh penuh hormat. Di usianya yang baru 19 tahun, mahasiswa semester tiga itu sudah menyaksikan bagaimana ibunya menjadi tiang pancang yang kokoh bagi keluarga mereka.

Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbangun, Masniari sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ia bekerja sebagai staf administrasi di sebuah kantor perdagangan bahan makanan pokok. Tugasnya tidak mudah; mengurus tumpukan nota dan memastikan pasokan beras hingga minyak goreng tercatat dengan benar. Gaji Masniari-lah yang selama ini menjaga dapur mereka tetap mengebul dan memastikan kuliah Lian tidak terputus di tengah jalan demi membantu ekonomi keluarga.

Baca Juga  Pilkada Berkeadilan Berbasis Otonomi Daerah

“Ibu itu perempuan paling hebat yang pernah Lian kenal,” kata Lian suatu malam, saat membantu ibunya melipat pakaian di ruang tengah.

Masniari tertawa kecil, garis-garis halus di sudut matanya mempertegas kedewasaan dan ketulusan hatinya. “Lian, dalam hidup ini, kita tidak selalu bisa memilih seberapa banyak materi yang kita punya. Tapi kita bisa memilih untuk tetap setia dan berjuang bersama. Ayahmu itu laki-laki baik. Kerjanya keras, meski hasilnya kecil. Tugas Ibu adalah melengkapi kekurangannya, bukan menuntutnya melampaui batas.”

Lian tertegun. Di zaman sekarang, sangat jarang menemukan wanita semulia ibunya. Rasa salut Lian makin membubung tinggi. Ia berjanji dalam hati akan belajar dengan giat agar segera lulus dan bisa menggantikan beban ibunya.

Keesokan harinya, Minggu pagi yang damai. Biasanya Sangkot sudah bangun untuk sekadar memanaskan mesin motor atau menyiram tanaman. Namun, hingga jarum jam menunjukkan pukul tujuh, kamar utama masih sangat sunyi.

Masniari yang baru selesai memasak nasi goreng melangkah masuk ke dalam kamar. Dilihatnya sang suami masih meringkuk di balik selimut tebal.

“Bang… Bang…, bangun. Sudah siang, ini kopi dan sarapannya sudah siap,” panggil Masniari lembut sembari menggoyang pelan bahu suaminya.

Baca Juga  Detak Jantung Menjelang Puncak Haji — Ketika Air Mata, Doa dan Harapan Bertemu di Tanah Suci

Tidak ada sahutan.

Masniari tersenyum tipis, mengira suaminya terlalu lelah karena kemarin bekerja seharian di bawah terik matahari. Ia mendekat, lalu menyentuh kening Sangkot. Seketika, senyum di wajah Masniari membeku. Kulit suaminya terasa begitu dingin.

“Bang? Bang Sangkot, jangan bercanda…” Suara Masniari mulai bergetar. Ia menepuk pipi suaminya lebih keras. Dada Sangkot tidak lagi naik-turun mengembuskan napas.

“Lian! Lian, ke sini Nak! Ayahmu, Lian!” jerit Masniari, pecah seketika dalam kepanikan.

Lian berlari kencang masuk ke kamar. Ia memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan ayahnya. Kosong. Air mata Lian langsung luruh saat menyadari sang ayah telah pergi dalam tidurnya yang paling damai.

Masniari memeluk tubuh kaku suaminya dengan erat. Tidak ada raungan histeris yang berlebihan, hanya air mata yang mengalir deras membasahi pipi. Wanita mulia itu berbisik di telinga suaminya, kalimat terakhir yang penuh dengan keikhlasan.

“Abang sudah lelah, ya? Sekarang Abang sudah bisa istirahat sepuasnya. Terima kasih sudah menjadi suami yang baik untukku, dan ayah yang hebat untuk Lian. Tugas Abang sudah selesai…”

Di kamar yang kini terasa lengang itu, Lian merangkul ibunya yang tegap memeluk takdir. Perempuan berusia 51 tahun itu kehilangan belahan jiwanya, namun ia tetap berdiri tegak, menjadi mercusuar kekuatan bagi anak laki-lakinya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button