SISI LAIN

Konflik Houthi-Saudia: Ketika Konflik Lokal Menjadi Pertarungan Geopolitik

Konflik Houthi-Saudi: Ketika Konflik Lokal Menjadi Pertarungan Geopolitik

 

Oleh: Ifah Rasyidah

Praktisi Pendidikan, Pemerhati Masalah Sosial dan Politik

Secara kronologis, perang saudara di Yaman dalam bentuk konflik yang berlangsung saat ini mulai mengalami eskalasi besar pada 2014. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), konflik antara Houthi, pemerintah Yaman, dan berbagai kelompok bersenjata lainnya meningkat pada pertengahan 2014. Pada September 2014, Houthi bersama pasukan yang bersekutu dengannya mengambil alih Sana’a.

Upaya politik kemudian gagal menghentikan eskalasi. Pada 26 Maret 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk melakukan intervensi setelah Presiden Abd Rabbuh Mansour Hadi, sebagai pemerintah resmi Yaman, meminta bantuan untuk mengembalikan pemerintahannya.

Saudi melihat penguatan Houthi sebagai ancaman keamanan di wilayah perbatasannya sekaligus sebagai bagian dari perluasan pengaruh Iran. Sebaliknya, Houthi memandang intervensi Saudi sebagai agresi terhadap Yaman. Konflik domestik tersebut kemudian berkembang menjadi pertarungan regional.

Perang Yaman sering dipahami secara sederhana sebagai konflik antara Houthi dan Arab Saudi. Padahal, persoalannya jauh lebih kompleks. Di dalamnya terdapat konflik politik domestik, perebutan kekuasaan, persaingan regional Saudi-Iran, kepentingan Amerika Serikat, keamanan Israel, serta pertarungan pengaruh atas jalur strategis Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb yang merupakan salah satu jalur perdagangan internasional penting.

Houthi dan Iran

Houthi memiliki akar lokal di Yaman dan berhubungan dengan tradisi Syiah Zaidiyah. Karena itu, menyebut Houthi semata-mata sebagai “sahabat Iran” berdasarkan kesamaan sektarian tentu terlalu menyederhanakan persoalan.

Namun, hubungan militer dan strategis antara Houthi dan Iran memang nyata. Sejumlah analisis, termasuk dari Council on Foreign Relations, menyebut Iran memberikan dukungan berupa senjata, pelatihan, dan intelijen kepada Houthi. Dukungan tersebut membantu meningkatkan kemampuan rudal dan drone Houthi.

Meski demikian, sejumlah analis juga membedakan Houthi dari kelompok yang sepenuhnya dikendalikan Iran. Houthi memiliki kepentingan, agenda politik, serta akar sosial sendiri di Yaman.

Dengan demikian, hubungan tersebut lebih tepat dilihat sebagai pertemuan kepentingan antara Houthi dan Iran. Houthi memperoleh kemampuan militer dan dukungan strategis, sementara Iran memperoleh mitra regional yang mampu memberikan tekanan terhadap lawan-lawannya.

Baca Juga  Jamaah Haji Reguler Kloter 4 Palembang Gelombang Pertama Mulai Melontar Jumrah di Mina

Pada September 2026, perkembangan konflik kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan kawasan. Pertukaran serangan antara Saudi dan Houthi serta ancaman terhadap infrastruktur strategis menunjukkan bahwa konflik Yaman masih memiliki potensi untuk berkembang menjadi persoalan keamanan regional.

Lalu, di Mana Posisi Saudi, Amerika Serikat dan Israel?

Arab Saudi mempunyai kepentingan langsung terhadap stabilitas Yaman. Yaman berbatasan dengan Saudi di wilayah selatan dan memiliki posisi strategis di kawasan Laut Merah.

Bagi Saudi, keberadaan kekuatan bersenjata yang bermusuhan di dekat perbatasannya merupakan ancaman keamanan. Karena itu, Saudi mendukung pemerintahan Yaman dan memimpin intervensi militer sejak 2015 dengan menjadikan Houthi sebagai lawan politik dan militer.

Namun, perang tersebut belum menghasilkan penyelesaian konkret. Sebaliknya, konflik telah menyebabkan kehancuran besar dan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.

PBB sendiri berulang kali menegaskan bahwa tidak ada solusi militer semata untuk menyelesaikan krisis Yaman. Penyelesaian politik yang melibatkan berbagai pihak di Yaman tetap menjadi jalan penting untuk mengakhiri konflik.

Keterlibatan Amerika Serikat juga berkembang mengikuti kepentingan strategisnya di kawasan Timur Tengah. Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb merupakan jalur perdagangan internasional yang sangat penting. Keamanan pelayaran di kawasan tersebut mempunyai dampak terhadap kepentingan ekonomi dan keamanan global.

Amerika Serikat melakukan operasi militer terhadap target Houthi pada 12 Januari 2024 dengan alasan melindungi pelayaran dan kebebasan navigasi. Israel juga terlibat dalam dinamika konflik dengan melakukan serangan terhadap sasaran di wilayah yang dikuasai Houthi.

Dengan demikian, Yaman tidak lagi hanya menjadi arena perang internal. Konflik tersebut telah bersinggungan dengan persaingan regional dan kepentingan kekuatan-kekuatan besar. Yaman akhirnya menjadi salah satu titik penting dalam pertarungan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Membaca Konflik Yaman dari Perspektif Islam

Seorang Muslim tentu tidak cukup hanya bertanya, “Houthi membela siapa?” atau “Saudi berpihak kepada siapa?” Persoalan juga tidak seharusnya hanya dilihat dari sudut pandang Sunni dan Syiah.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: mengapa umat Islam yang memiliki akidah dan kiblat yang sama dapat terus terpecah dalam konflik kekuasaan dan kepentingan politik?

Baca Juga  Antara SWIFT, CIPS, dan Bridge: Pilihan Strategis Indonesia Menuju Kemandirian Ekonomi

Allah SWT berfirman:

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”QS. Ali Imran (3):103.

Ayat tersebut memberikan pesan yang sangat jelas mengenai pentingnya persatuan umat. Karena itu, seorang Muslim tidak seharusnya menjadikan nasionalisme, kepentingan dinasti, persaingan geopolitik, ataupun loyalitas kepada kekuatan asing sebagai ukuran utama dalam menentukan sikap terhadap sesama Muslim.

Namun, persatuan bukan berarti membenarkan seluruh tindakan suatu kelompok hanya karena kelompok tersebut dianggap bagian dari umat Islam. Setiap tindakan tetap harus dinilai berdasarkan fakta, keadilan, dan prinsip-prinsip Islam.

Dengan demikian, tindakan Houthi, Saudi, Iran, Amerika Serikat maupun Israel tidak otomatis dapat dibenarkan atau disalahkan hanya berdasarkan identitas kelompoknya. Tindakan harus dinilai berdasarkan apa yang dilakukan, siapa yang menjadi korban, serta kepentingan apa yang sedang diperjuangkan.

Ketika umat Islam tidak memiliki sistem politik yang mampu menyatukan kepentingan mereka, konflik mudah dimasuki oleh kekuatan eksternal. Negara-negara besar kemudian dapat memainkan kepentingannya melalui berbagai aktor lokal maupun regional.

Karena itu, gagasan tentang satu kepemimpinan politik bagi umat Islam dalam perspektif ideologis Islam bukan sekadar persoalan simbol persatuan atau jargon semata. Gagasan tersebut berkaitan dengan bagaimana umat memiliki otoritas politik yang mampu menjaga keamanan wilayah Muslim, melindungi rakyat, mencegah pertikaian internal, dan mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai Islam.

Persatuan politik umat juga menjadi penting agar negeri-negeri Muslim tidak terus-menerus menjadi arena perebutan pengaruh kekuatan besar.

Konflik Yaman menunjukkan bahwa ketika persatuan politik dan keamanan suatu negara rapuh, konflik lokal dapat berkembang menjadi perang yang melibatkan banyak kekuatan. Pada akhirnya, yang paling menderita bukan hanya pemerintah atau kelompok bersenjata, tetapi rakyat biasa.

Karena itu, sikap seorang Muslim semestinya diarahkan pada upaya membangun kesadaran tentang pentingnya persatuan umat, menghentikan pertikaian, melindungi rakyat, dan mendorong penyelesaian konflik berdasarkan keadilan.

Yaman memberikan pelajaran bahwa umat Islam membutuhkan persatuan dan kepemimpinan yang mampu mencegah perpecahan, sehingga negeri-negeri Muslim tidak terus menjadi papan catur bagi kepentingan kekuatan lain.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button