Hikmah Hijrah Masa Kini
Hijrah merupakan perjuangan yang sangat berat demi menyelamatkan iman dan Islam.

Oleh: Albar Sentosa Subari
Peristiwa hijrah Rasulullah SAW bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan Islam. Keduanya meninggalkan Kota Makkah secara diam-diam, karena kaum Quraisy telah menyiapkan sejumlah pemuda pilihan untuk membunuh Rasulullah SAW.
Perjalanan yang sangat berat dan penuh risiko itu akhirnya membawa Rasulullah SAW dan Abu Bakar tiba dengan selamat di daerah Quba, yang terletak di pinggiran Yatsrib, pada hari Senin, 12 Rabiul Awal. Tidak lama kemudian, Rasulullah SAW bersama para sahabat memasuki kota Yatsrib yang kemudian dikenal dengan nama Madinah Al-Munawwarah, kota Nabi yang bercahaya.
Hijrah merupakan perjuangan yang sangat berat demi menyelamatkan iman dan Islam. Para sahabat rela mengorbankan harta benda, meninggalkan kampung halaman, bahkan mempertaruhkan nyawa mereka. Karena itulah, Allah SWT menjanjikan pahala yang sangat besar bagi orang-orang yang berhijrah di jalan-Nya.
Allah SWT berfirman:
*”Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya sebelum sampai ke tempat yang dituju, maka sungguh pahalanya telah tetap di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”* (QS. An-Nisa’: 100).
Namun demikian, Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa nilai sebuah hijrah sangat bergantung kepada niat seseorang. Beliau bersabda:
*”Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya.”* (HR. Bukhari).
Dalam konteks kehidupan masa kini, terdapat setidaknya tiga hikmah penting dari peristiwa hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW.
Pertama, Hijrah Insaniyah
Hijrah mengajarkan bahwa semua manusia memiliki derajat yang sama di hadapan Allah SWT. Harta kekayaan, pangkat, kedudukan, dan jabatan bukanlah ukuran kemuliaan seseorang. Kemuliaan manusia di sisi Allah hanya ditentukan oleh ketakwaannya.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”* (QS. Al-Hujurat: 13).
Karena itu, semangat hijrah mengajarkan kita untuk membangun kehidupan yang lebih manusiawi, saling menghormati, dan menjunjung tinggi persaudaraan sesama manusia.
Kedua, Hijrah Tsaqafiyah
Hijrah juga mengandung makna perubahan budaya dari budaya jahiliyah menuju budaya madaniyah. Rasulullah SAW datang membawa misi penyempurnaan akhlak dan peradaban.
Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Perubahan budaya yang dimaksud bukan sekadar kemajuan material, tetapi perubahan menuju masyarakat yang menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, toleransi, dan kasih sayang.
Di tengah tantangan zaman modern yang sarat dengan individualisme dan krisis moral, semangat hijrah menjadi sangat relevan untuk membangun peradaban yang lebih beradab dan bermartabat.
Ketiga, Hijrah Islamiyah
Makna hijrah yang paling mendasar adalah perubahan menuju kepasrahan total kepada Allah SWT. Hijrah berarti berpindah dari ketergantungan kepada berbagai hal selain Allah menuju kepada-Nya sebagai satu-satunya tempat bersandar.
Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perpindahan hati. Hijrah adalah upaya terus-menerus untuk memperbaiki diri, meninggalkan kebiasaan buruk, meningkatkan ibadah, memperkuat keimanan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharram, peristiwa hijrah hendaknya tidak hanya diperingati sebagai peristiwa sejarah semata. Lebih dari itu, hijrah harus dimaknai sebagai momentum untuk melakukan introspeksi dan pembaruan diri.
Dunia boleh berubah, zaman boleh berganti, tetapi semangat hijrah harus tetap hidup dalam diri setiap Muslim. Sebab, hakikat hijrah adalah perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik, lebih bermakna, dan lebih dekat kepada Allah SWT.
Wallahu a’lam bish-shawab.



