Kata Hati Dari Seorang Perempuan.


Oleh: Albar Sentosa Subari – Kolumnis/ Mantan Dekan FH Unsri
Sebagai seorang kolumnis, saya merasakan ada sesuatu yang tersirat di hati seorang wanita yang sedang menduduki jabatan setingkat menteri.
Seperti nya kalau dilihat secara makro agak kurang ada keterkaitan satu masalah ( sebab) dengan dampak ( akibatnya).
Hari Senin malam telah terjadi kecelakaan lalulintas di wilayah Bekasi yang mengakibatkan informasi terakhir memakan korban jiwa sebanyak 16 orang meninggal. Ironisnya dari kesemuanya adalah wanita yang menumpang KRL pada posisi gerbong bagian depan.
Hal ini menjadikan pemikiran kementerian PPPA melalui seorang menteri kebetulan seorang wanita.
Dengan kasus tersebut karena sejumlah korban adalah wanita, beliau melempar kan idee kepada instansi terkait untuk masa yang akan datang: guna melindungi kaum hawa , mereka harus ditetapkan pada gerbong tengah dari KRL, mungkin logika pendeknya agar tidak menimpakan nasib wanita.
Karena beliau seorang wanita dan seorang yang memiliki tanggung jawab terhadap kaumnya ( hawa), sepintas idee itu masuk akal dan menarik untuk di analisis.
Pernyataan tersebut mendapat komentar beragam ada yang negatif seolah olah kecelakaan tersebut gara gara kaum wanita yang kebetulan di gerbong depan.
Sebagai seorang pemerhati sosial saya sebenarnya ada sedikit sependapat ( secara mikro), bahwa betul betapa sensitif nya hati seorang wanita yang memperjuangkan hak wanita.
Namun secara global yang mencari sebab akibat kecelakaan tersebut tidak ada korelasi satu dengan yang lain.
Gagasan beliau sebagai wanita dan kebetulan menjabat menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah suatu yang brilian tentunya.
Dan itu sudah sesuai dengan fungsi dan wewenang sebatas hal tersebut.
Jadi sebenarnya tidak salah idee itu.
Secara bahasa agama bahwa semua apa yang terjadi di dunia fana ini adalah sudah diatur dan sepengetahuan sang Pencipta.
Suatu kecelakaan misalnya contoh di atas kebetulan saja korban banyak perempuan karena mereka ada di gerbong depan. Bukan di gerbong belakang atau tengah.
Walaupun seandainya mereka wanita di tempat di tengah ataupun belakang tidak menjamin mereka wanita akan selamat karena peristiwa kecelakaan tergantung pada situasi dan kondisi masing masing peristiwa.
Hanya kebetulan saja korban banyak perempuan mereka posisi di muka.
Namun saya maklumi karena beliau seorang wanita naluri keibuannya yang dominan di balik suatu perasaan hati. Bukan berdasarkan rasional yang diutamakan.
Tapi, ya barangkali juga ini setidaknya ide ini mencari sebuah solusi yang bisa.menghindarkan diri dari musibah serupa berikutnya.



