ESAI

Al-Qur’an Hanya Satu: Iran dan Indonesia Sama

Dalam perjalanan panjang itu, umat Islam mengenal istilah Sunni dan Syiah

Al-Qur’an Hanya Satu: Iran dan Indonesia Sama

Oleh: Khairul Jasmi – Pemimpin Redaksi Harian Singgalang, Padang

 

Awalnya beda pilihan pemimpin, lalu jadi konflik politik, kemudian berubah menjadi perbedaan pandangan agama. Barat pun masuk. Itulah sebabnya, sejarah tidak selalu pecah oleh perang. Kadang, retak oleh satu pertanyaan sederhana: Siapa yang melanjutkan langkah setelah Nabi Muhammad? Tidak ada jawaban yang benar-benar tunggal saat itu, yang ada adalah pilihan. Lalu, benih konflik dari sejarah Islam tumbuh, politik modern Inggris dan Amerika memperkerasnya.

Demikianlah sejarah mengalir ke Indonesia. Lalu, saya mendengar dan melihat sejumlah postingan, bahwa Al Qur’an Iran dan Indonesia berbeda. Tapi, simaklah ini: “Qori muda Indonesia, Muhammad Najmi Alvaro, tampil memukai di program televisi paling luas ditonton di Iran, Mafhel yang disiarkan 15 Maret 2025 di saluran 3 TV Iran. Ia membacakan Al Baqaroh ayat 23 – 26.” Youtube-nya kemudian viral, bukan karena Irannya tapi suaranya memang enak.

Jika Al Qur’an kita beda, lantas mengapa kita datang ke sana?

“Nuriyah Juara 3 MTQ Internasional di Iran, Tampil Perdana di Luar Negeri, demikian judul berita https://www.tempo.co, yang tayang 26 Februari 2024 pukul 22.36 WIB. “Juara Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional, Nuriyah Jurian Arga, meraih peringkat ketiga di ajang MTQ Internasional ke-40 yang digelar di Teheran. Juara Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional, Nuriyah Jurian Arga, meraih peringkat ketiga di ajang MTQ Internasional ke-40 yang digelar di Teheran, Iran, pada 15-21 Februari 2024. Nuriyah berkompetisi di cabang hafalan 30 juz dan hanya kalah dari Roya Fadaeli, peserta tuan rumah, yang menempati juara pertama dan Mimouni Badghi dari Nigeria di urutan dua,” tulis majalah ini.

Kalau Al Qur’an beda, untuk apa jauh-jauh pergi MTQ internasional ke sana.

Mantan gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Bajang Zainul Majdi atau akrab disapa TGB menyampaikan dukungan dan solidaritas kepada rakyat Iran dengan menemui Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi di Jakarta pada Jumat (3/4).

 

“Menyampaikan dukungan, doa, dan solidaritas kepada rakyat Iran; serta mengutuk keras serangan Zionisme atas Iran sebagai negara berdaulat,” kata Zainul Majdi, yang juga Ketua Alumni Al Azhar Indonesia, dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu, sebagaimana disiarkan LKBN Antara Sabtu, 4 April 2026 23:04 WIB. Di Instagram pribadinya, TGB memposting sebuah video, ia memposting sedang berdiri dengan dubes, kemudian meneliti Al Qur’an yanga da di tangannya. “Al Quran saudara kita ini yang Syiah ini sama persis dengn Al Qur’an kita Sunni,” kata TGB.

Kapasitas keilmuan TGB soal Al Qur’an tak diragukan lagi. Hafal oleh dia, oleh saya tidak. Mungkin juga tidak oleh pembaca. Saya, Khairul Jasmi, pada satu kesempatan belum sebulan lalu, bertemu dengan seorang guru besar Universitas PTIQ Jakarta (Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an), di Jakarta selama satu jam, beberapa menit bicara soal Al Qur’an Iran yang dalam pikiran saya tak sama dengan yang di rumah kita.

Baca Juga  Demokrasi yang Merunduk, Hukum yang Tertunduk

Jawabnya: Saya sempat berkeliling bebebarapa kota di Iran, di tiap masjid yang saya singgahi, saya minta Al Qur’an dan yang saya ambil yang sudah sering dibaca yaitu yang lusuh. Lalu, saya bawa ke Indonesia. Di kampus, saya minta mahasiswa S-2 PTIQ meneliti, memaca, mambandingkan dan mencari apa yang tidak sama dengan Al Qur’an yang kita pegang. Hasilnya? Sama, tak ada yang berbeda.”

Lalu apa yang beda? Ini: cara penulisan dan tampilan mushaf (cetakannya) bukan pada ayatnya. Sedangkan isi Al-Qur’an: sama persis, huruf, ayat dan surah tidak berubah, digunakan oleh Sunni maupun Syiah juga sama, tidak ada versi lain.

Saya tidak sependapat dan menolak, ada yang menyebut Iran kafir karena Syiah. Perbedaan berakar jauh ke belakang. Awalnya, sederhana tapi besar dampaknya, setelah Nabi tiada: Siapa yang memimpin umat setelah beliau wafat? Tidak ada wasiat politik yang eksplisit. Di sinilah muncul dua pandangan. Kelompok pertama, pemimpin dipilih melalui musyawarah akhirnya memilih Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Dari sinilah lahir kelompok yang kemudian dikenal sebagai Sunni, artinya mengikuti sunnah/tradisi nabi.

Kelompok kedua, Syiah atau pengikut Ali. Mereka berpendapat, kepemimpinan seharusnya tetap di keluarga Nabi . Maka, Ali bin Abi Thalib yang paling berhak. Dua kubu ini tak pernah berdamai. Maka, terjadi Pembantaian Karbala pada 680 M. Siapa dibantai? Cucu Nabi kita, Husein beserta keluarga dan pengikutnya oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Cucu Nabi Muhammad dibantai? Iya!

Berselisih soal tafsir penerus, tentu bukan Sunni lebih alim ketimbang Syiah. Dalam praktik ibadah misalnya, secara umum saja, shalat, puasa dan haji. Orang Iran naik hajikan? Sering bersua oleh Jemaah Indonesia di Mekkah. Perbedaannya, cara letak tangan saat shalat, di Maroko kebanyakan juga tak sama dengan kita. Cara Wuduk juga tak sama. Bahkan Ustad Somad, pernah ditegur cara berwuduk saat di Maroko, cari youtube-nya. Waktu shalat (Syiah sering menggabung). Beberapa doa dan tradisi.

Sedangkan Kitab Suci sama. Nabi sama. Rukun Islam sama. Syiah merujuk imam atau keturunan Nabi, menolak beberapa nama sahabat menerima beberapa nama sahabat . Sunni merujuk pada sahabat. Dalam Bahasa awaknya, Sunni hormati semua anggota tim, sedang Syiah yang dianggap inti yang inti dan yang lain dipertanyakan perannya. Yang paling lama Bersama Nabi siapa? Anak dan cucunya rasanya , Syahadat sama. Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, tapi pada Sebagian penganut Syiah ditambah dengan, ““Wa asyhadu anna Aliyyan waliyyullah” 

(Aku bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah). Menurut buku, tambahan itu bukan inti wajib dalam syahadat mereka sendiri.

Baca Juga  Gaduh “Indonesia Bangkrut”: Bicara Data, Jangan Cemas

Istri Nabi Besar Muhammad SAW, dihormati Syiah sebagai istri Nabi, tapi mereka memandang keliru peran beliau dalam Perang Jamal yaitu perang saudara pertama dalam sejarah Islam.

Terjadi tahun 656 M di Basra (Irak sekarang). Ini, konflik internal umat, awal pecahnya tubuh Islam.

Selisih pendapat setua sejarah di tubuh tafsir Sejarah Islam, dimainkan dengan manis oleh Inggris dan Amerika, kemudian. Inggris memetakan Kawasan Bulat Sabit atau Teluk lalu diberinya nama Timur Tengah. Benar, jika kita memandang wilayah itu dari Inggris. Salah dalam perspektif dunia. Tapi, apa hendak dikata, Inggris siapa bisa melawan, kala itu. Inggrislah yang menentukan atas-batas wilayah, bahkan membawa (kembali) penduduk Yahudi yang betebaran di dunia. Dulu Persia misalnya bukan Iran dan Irak, tapi satu kelompok suku bangsa. Saat Turki Ustamani, orang Arab boleh kemana saja di dalam imperium itu. Arab Saudi atau Saudi Arabia sebagai satu Kerajaan sama tua dengan Jam Gadang, selisih-selisih sedikitlah. Lalu, suku dan mazhab dicampur, diaduk dengan menanam bibit konflik. Irak mayoritas Syiah, kekuasaan diberikan pada Sunni.

Kemudian datang Amerika sejak tahun 2000-an atau sejak 1979. Iran diganggu, Irak diinvasi pada 2003, rezim Sunni jatuh. Negara runtuh. Kosonglah negara, memuncak konflik Sunnidan Syiah. Lalu Amerika berteman dengan Sunni. Mendaram Syiah seperti sekarang, Iran dikeroyok dan kita di sini, di Indonesia, yang jaraknya sudah kata hitung, heboh karena Sunni dan Syiah. Memang Israel itu Sunni, kata Rocky Gerung.

Suriah, Yaman dan nebara-negara lain di Timur Tengah “dipayungi” oleh Amerika, seperti tukang palak mengutip upeti. Tapi, jangan salahkan melulu Inggris dan Amerika, sebab pertengkaran isi kepala kita yang memulai sejak kepergian Nabi. Kedua negara itu hanya memperuncing dan memberi minyak bensin.

Lalu? Tak tahu saya. Jangan dituduh pula saya kafir atau Syiah, balas saja tulisan saya ini, di koran ini. Jangan pakai pakai emosi. Ngamuk-ngamuk pula. Kita adu saja tulisan sebagaimana lazimnya polemik, jika memang mesti dipolemikkan. Namanya juga tulisan. Yang ingin saya sampaikan sebenarnya adalah, selesai sengketa dalam pikiran masing-masing dengan cara menggali informasi, baca buku dan seterusnya. Suai? ***

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button