NEWS

​Tragedi Komodifikasi Pendidikan: Menggugat Hegemoni AI atas Ilmu Fundamental dan Kemanusiaan

 

​Tragedi Komodifikasi Pendidikan: Menggugat Hegemoni AI atas Ilmu Fundamental dan Kemanusiaan

Oleh: Laksda Purn TNI Rosihan Arsyad 

Gelombang penutupan 1.670 program studi di China yang secara masif digantikan oleh program berbasis Kecerdasan Buatan (AI), robotika, dan otomasi industri seolah diklaim sebagai kiblat baru transformasi global. Narasi yang dibangun sangat pragmatis: dunia telah bergerak menuju Intelligence Economy, sehingga institusi pendidikan harus segera memangkas ilmu-ilmu yang dianggap usang agar relevan dengan pasar kerja.

​Namun, di balik glorifikasi efisiensi dan adaptasi teknologi ini, terselip sebuah bahaya filosofis yang sangat fundamental. Perombakan radikal tersebut menunjukkan bahwa institusi pendidikan perlahan direduksi menjadi sekadar pabrik pencetak sekrup bagi mesin industri, sambil mengabaikan esensi utamanya: memanusiakan manusia.

​Pendidikan Bukan Sekadar Balai Latihan Kerja

​Mereduksi nilai sebuah program studi hanya dari seberapa cepat lulusannya diserap oleh industri teknologi adalah bentuk miopia strategis. Pendidikan sejatinya memiliki tujuan yang jauh lebih mulia daripada sekadar transfer keterampilan mekanis (skill training). Pendidikan adalah tentang change of behavior—sebuah proses transformasi perilaku.

​Kampus dan ruang kelas adalah kawah candradimuka tempat manusia melatih daya tahan mental, keluhuran budi pekerti, etika, dan kepekaan sosial. Disiplin ilmu seperti sejarah, filsafat, seni, dan humaniora bukanlah beban masa lalu, melainkan fondasi yang memberikan kompas moral bagi peradaban. Menghapus atau menganaktirikan ilmu-ilmu ini sama dengan melahirkan generasi teknokrat yang mungkin sangat cerdas secara digital, namun lumpuh secara moral dan gagap dalam interaksi sosial.

Baca Juga  Surprise ! Surat Menteri Kebudayaan: Peluang Alih Kelola Benteng Kuto Besak 

​Teknologi bisa memecahkan masalah komputasi, tetapi kebijaksanaan dalam merespons krisis multidimensi hanya lahir dari manusia yang utuh.

​Batas Epistemologis Mesin: AI Tidak Memiliki Rasa dan Intuisi Riset

​Asumsi bahwa AI akan mengambil alih seluruh fungsi intelektual manusia berangkat dari kesesatan berpikir mengenai cara kerja teknologi itu sendiri. AI, sehebat apa pun hari ini, beroperasi di atas probabilitas statistik tanpa memiliki kesadaran, empati, atau hati nurani.

​Lebih jauh lagi, gudang pengetahuan raksasa yang membuat AI tampak cerdas saat ini adalah akumulasi dari riset, intuisi, dan eksperimen manusia selama berabad-abad. Mesin tidak melakukan riset sejati; mereka mendaur ulang data. Tanpa manusia yang terus memiliki rasa penasaran, turun ke lapangan, berinteraksi secara sosial, dan melakukan trial and error, pengetahuan akan berhenti berkembang dan AI hanya akan mengalami stagnasi. Mesin tidak akan pernah mampu menggantikan percikan kreativitas radikal dan intuisi penelitian yang secara inheren hanya dimiliki oleh manusia.

​Paradigma Pengayaan (Enrichment), Bukan Penggusuran

​Respons yang tepat terhadap disrupsi teknologi bukanlah membongkar fondasi keilmuan secara destruktif, melainkan melakukan pengayaan kurikulum. Kecerdasan Buatan seharusnya diposisikan sebagai perangkat bantu pendukung (background atau mata kuliah tambahan), bukan entitas yang mendisrupsi dan menggusur esensi disiplin ilmu utama.

​Mari kita lihat bagaimana paradigma pengayaan ini seharusnya diterapkan pada disiplin ilmu fundamental:

​Ilmu Hukum: Jika pendidikan hukum hanya berfokus pada efisiensi pemrosesan data, hukum akan terdegradasi menjadi ruang hampa. Keadilan tidak bisa diputuskan hanya bertumpu pada pasal-pasal kaku di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau Perdata. Hukum membutuhkan rasa keadilan, empati, dan penilaian atas konteks sosial manusia—hal yang mustahil dikuantifikasi oleh algoritma AI.

Baca Juga  ERA BARU: Dari Kesadaran Menuju Gerakan Perubahan

​Kedokteran: AI mungkin mampu membaca hasil CT-Scan lebih cepat, tetapi teknologi tidak bisa menggantikan sentuhan tangan seorang dokter yang menenangkan pasien, atau menimbang dilema bioetika yang kompleks terkait nyawa manusia.

​Ilmu Teknik dan Sains Fundamental: Disiplin seperti Teknik Lingkungan atau Fisika Material (yang termasuk dalam daftar jurusan yang ditutup di China) justru sangat esensial. AI ditambahkan ke dalam ilmu-ilmu ini untuk mempercepat simulasi dan optimasi desain, bukan untuk meniadakan pemahaman dasar sang insinyur terhadap hukum alam dan material.

​Peringatan Strategis untuk Indonesia

​Apa yang terjadi di China seharusnya tidak ditelan mentah-mentah sebagai sebuah best practice yang harus ditiru oleh perguruan tinggi di Indonesia. Mempersiapkan generasi masa depan untuk melek teknologi adalah keharusan, namun mengorbankan ilmu fundamental dan kemanusiaan demi mengejar kegenitan tren teknologi adalah sebuah bunuh diri peradaban.

​Pertanyaan yang harus kita ajukan hari ini bukanlah, “Jurusan apa yang harus dihapus agar sesuai dengan keinginan AI?”

​Melainkan: “Bagaimana kita memperkuat karakter, etika, dan kedalaman ilmu manusia agar tidak bisa disetir oleh mesin?” Kehebatan sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa banyak robot yang bisa mereka program, tetapi dari seberapa tangguh dan beradab manusia yang mereka hasilkan.

Yasyi Hill, 25 Mei 2026

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button