ARTIKELDARI REDAKSI

Merasa Paling Hebat dan Gemar Merendahkan Orang Lain: Penyakit Hati yang Dikecam Agama dan Dipandang Tidak Sehat 

ilmu psikologi modern pun melihat bahwa kebiasaan merendahkan orang lain bukanlah tanda kesehatan jiwa

Merasa Paling Hebat dan Gemar Merendahkan Orang Lain: Penyakit Hati yang Dikecam Agama dan Dipandang Tidak Sehat

 

Oleh: Bang Bangun Lubis – Wartawan Muslim

Di tengah kehidupan yang semakin terbuka dan serba cepat, kita sering menyaksikan orang yang gemar merendahkan sesamanya. Ada yang merasa dirinya paling pintar, paling saleh, paling benar, paling berpengalaman, atau paling berhasil.

Akibatnya, ia mudah mencemooh, menghina, mempermalukan, dan menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya.

Padahal, dalam pandangan Islam, sikap seperti itu merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Menariknya, ilmu psikologi modern pun melihat bahwa kebiasaan merendahkan orang lain bukanlah tanda kesehatan jiwa, melainkan dapat menjadi cerminan adanya masalah dalam diri seseorang.

Allah Melarang Manusia Bersikap Sombong

Allah SWT berfirman: “Dan janganlah engkau memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”(QS. Luqman: 18)

Ayat ini menunjukkan bahwa kesombongan bukan hanya tercermin dalam hati, tetapi juga dalam sikap, perkataan, dan cara memperlakukan orang lain.

Dalam ayat lain, Allah berfirman: “Janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka yang direndahkan itu lebih baik daripada mereka yang merendahkan.”(QS. Al-Hujurat: 11)

Betapa dalam pesan ayat ini. Manusia hanya melihat penampilan lahiriah, sedangkan Allah mengetahui isi hati dan kualitas ketakwaan seseorang.

Karena itu, seseorang yang kita pandang rendah hari ini bisa jadi jauh lebih mulia di sisi Allah daripada diri kita sendiri.

Allah juga berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”(QS. Al-Hujurat: 13)

Bukan kekayaan yang menjadi ukuran kemuliaan.

Bukan jabatan.

Bukan kepintaran.

Bukan keturunan.

Melainkan ketakwaan yang hanya Allah yang benar-benar mengetahuinya.

Kesombongan Adalah Penyakit Hati

Rasulullah SAW bersabda:”Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.”(HR. Muslim)

Baca Juga  Surprise ! Surat Menteri Kebudayaan: Peluang Alih Kelola Benteng Kuto Besak 

Ketika para sahabat bertanya tentang hakikat kesombongan, Rasulullah SAW menjelaskan: “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(HR. Muslim)

Hadis ini sangat jelas. Orang yang suka merendahkan manusia lain sesungguhnya sedang terjangkit penyakit kesombongan.

Padahal, kesombongan pertama kali dilakukan oleh iblis.

Allah berfirman: “Ia (iblis) berkata: Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”(QS. Al-A’raf: 12)*

Kalimat “Aku lebih baik” adalah akar kesombongan.

Dan sampai hari ini, kalimat yang sama masih sering muncul dalam berbagai bentuk:

“Aku lebih pintar.”

“Aku lebih kaya.”

“Aku lebih saleh.”

“Aku lebih berpendidikan.”

“Aku lebih berpengalaman.”

Padahal, semua kelebihan hanyalah titipan Allah yang sewaktu-waktu dapat dicabut-Nya.

Psikologi Modern Menjelaskan Hal yang Menarik

Apa yang diajarkan Islam ternyata sejalan dengan temuan psikologi modern.

Psikolog terkenal Austria, Alfred Adler, menjelaskan adanya superiority complex, yaitu kecenderungan seseorang untuk merasa lebih tinggi dari orang lain sebagai kompensasi atas perasaan rendah diri yang tersembunyi.

Dengan kata lain, orang yang terus-menerus ingin tampak hebat belum tentu memiliki jiwa yang kuat. Bisa jadi ia sedang berusaha menutupi kelemahan, ketakutan, atau rasa tidak aman (insecurity) yang ada di dalam dirinya.

Para ahli psikologi juga menjelaskan bahwa orang yang sehat secara mental tidak membutuhkan penghinaan terhadap orang lain untuk merasa berharga.

Mereka mampu menghargai keberhasilan orang lain.

Mereka tidak iri. Mereka tidak haus pujian.

Dan mereka tidak merasa terancam oleh kelebihan orang lain.

Sebaliknya, orang yang gemar menjatuhkan orang lain sering kali justru sedang berperang dengan dirinya sendiri.

Allah Tidak Menyukai Orang yang Membanggakan Diri

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”(QS. An-Nisa’: 36)

Dalam ayat lain: “Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.”(QS. An-Nahl: 23)

Artinya, kesombongan bukanlah sifat yang mendatangkan kemuliaan, melainkan sesuatu yang dibenci oleh Allah SWT.

Orang yang Menghina Sesama Bisa Bangkrut di Akhirat

Baca Juga  Direktur RHESUS Syamsu Riyadi: HIV Mengancam Pembangunan Peradaban di Sumatera Selatan

Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang bangkrut dari umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia pernah mencaci orang ini, memfitnah orang itu, dan menyakiti orang lain. Maka pahala-pahalanya diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya.”(HR. Muslim)

Betapa mengerikan.

Bisa jadi seseorang rajin beribadah, tetapi pahala amalnya habis karena lisannya yang gemar menghina dan merendahkan orang lain.

Orang Besar Selalu Rendah Hati

Semakin luas ilmu seseorang, semakin ia menyadari keterbatasannya.

Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin ia menghormati orang lain.

Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin ia merasa kecil di hadapan kebesaran-Nya.

Allah bahkan memuji hamba-hamba-Nya yang rendah hati: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu ialah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.”(QS. Al-Furqan: 63)

Kerendahan hati bukan tanda kelemahan.

Tawadhu bukan berarti rendah diri.

Justru itulah tanda kematangan iman dan kesehatan jiwa.

Jangan Suka Meremehkan Orang

Hari ini mungkin seseorang masih bergelimang dosa.

Besok ia bisa menjadi ahli ibadah.

Hari ini mungkin seseorang hidup dalam kekurangan.

Besok Allah melapangkan rezekinya.

Hari ini mungkin seseorang tidak dikenal manusia.

Tetapi bisa jadi namanya sangat harum di langit.

Karena itu, jangan pernah mengatakan, “Aku lebih baik darinya.”

Kalimat itulah yang pernah menghancurkan iblis.

Dan kalimat itulah yang sering menjadi awal kehancuran manusia.

Marilah kita lebih sibuk memperbaiki diri daripada sibuk mencari kekurangan orang lain.

Sebab orang yang sehat jiwanya tidak merasa perlu merendahkan orang lain.

Dan orang yang sehat imannya menyadari bahwa semua manusia sama-sama fakir di hadapan Allah SWT.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi kita semua. Agar ilmu yang kita miliki melahirkan kerendahan hati, agar ibadah yang kita lakukan melahirkan kasih sayang, dan agar kelebihan yang Allah titipkan tidak berubah menjadi kesombongan yang dapat menghanguskan amal-amal kita.

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah Allah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”(QS. An-Najm: 32)*

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button