DARI REDAKSISISI LAIN

Direktur RHESUS Syamsu Riyadi: HIV Mengancam Pembangunan Peradaban di Sumatera Selatan

HIV mengancam pembangunan peradaban di Sumatera Selatan

Direktur RHESUS Syamsu Riyadi: HIV Mengancam Pembangunan Peradaban di Sumatera Selatan

 

PALEMBANG — Meningkatnya jumlah kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Sumatera Selatan mulai memunculkan kekhawatiran berbagai kalangan.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, tercatat sebanyak 319 orang terinfeksi HIV. Angka tersebut tidak hanya menjadi perhatian dari sisi kesehatan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap masa depan pembangunan manusia dan peradaban di daerah ini.

Direktur Rumah Hening Sumatera Selatan (RHESUS), Syamsu Riyadi, M.Pd, kepada Bangun Lubis, Wartawan Media ini, menilai persoalan HIV tidak cukup hanya dipandang dari perspektif medis dan statistik kesehatan semata. Menurutnya, meningkatnya kasus HIV sesungguhnya merupakan peringatan serius terhadap masa depan peradaban masyarakat Sumatera Selatan.

“HIV mengancam pembangunan peradaban di Sumatera Selatan. Ada paling tidak tiga hal yang patut dicermati secara serius,” ujar Syamsu Riyadi.

Mengancam Bonus Demografi Indonesia 2045

Menurut Syamsu Riyadi, ancaman pertama yang perlu mendapat perhatian adalah dampak HIV terhadap bonus demografi yang akan dihadapi Indonesia pada tahun 2045.

Indonesia diperkirakan akan memasuki masa bonus demografi, yakni ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan usia nonproduktif. Kondisi tersebut sesungguhnya merupakan peluang besar bagi bangsa Indonesia untuk menjadi negara maju.

Namun, menurut Syamsu, peluang tersebut dapat berubah menjadi ancaman apabila kualitas sumber daya manusia mengalami penurunan akibat berbagai persoalan, termasuk meningkatnya kasus HIV.

“HIV yang tidak terkendali dapat menurunkan kualitas pengasuhan orang tua penyintas. Karena HIV secara tidak langsung dapat menghancurkan kondisi mental penyintas dan pada akhirnya memberikan pengaruh terhadap pola pengasuhan anak,” katanya.

Menurut dia, kesehatan mental memiliki hubungan erat dengan kualitas keluarga. Tekanan psikologis yang dialami penyintas HIV dapat berdampak terhadap kehidupan rumah tangga, pendidikan anak, hingga pembentukan karakter generasi berikutnya.

Apabila persoalan tersebut tidak ditangani secara serius, maka bonus demografi yang diharapkan menjadi modal menuju Indonesia Emas 2045 justru berpotensi kehilangan kualitasnya.

Baca Juga  Pandai Berterima Kasih: Jangan Pernah Menyia-nyiakan Kebaikan Orang Lain

Karena itu, menurut Syamsu, pencegahan HIV tidak hanya berkaitan dengan menyelamatkan individu, tetapi juga merupakan upaya menjaga kualitas generasi masa depan.

Menjadi Alarm Sosial

Ancaman kedua, kata Syamsu Riyadi, adalah bahwa meningkatnya kasus HIV harus dipahami sebagai alarm sosial bagi masyarakat Sumatera Selatan.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak hanya melihat peningkatan angka HIV dari sudut pandang statistik kesehatan semata. Di balik angka-angka tersebut terdapat persoalan sosial yang lebih mendasar.

“Peningkatan angka HIV merupakan tanda adanya problem sosial. Ini menunjukkan rapuhnya nilai moral dan penerapan agama dalam kehidupan masyarakat. Lemahnya penghayatan terhadap nilai-nilai agama menjadi tantangan dalam kehidupan sosial masyarakat,” ujarnya.

Menurut Syamsu, masyarakat modern saat ini menghadapi berbagai perubahan yang sangat cepat. Kemajuan teknologi informasi, perubahan pola pergaulan, serta lemahnya kontrol sosial menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kualitas kehidupan masyarakat.

Karena itu, ia menilai bahwa upaya pencegahan HIV memerlukan keterlibatan banyak pihak, tidak hanya tenaga kesehatan. Keluarga, sekolah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemerintah harus bersama-sama memperkuat pendidikan moral dan nilai-nilai keagamaan.

Baginya, agama tidak hanya berfungsi sebagai ritual semata, tetapi juga menjadi fondasi dalam membentuk karakter dan perilaku masyarakat.

“Meningkatnya kasus HIV harus menjadi bahan introspeksi bersama. Ini bukan semata-mata persoalan medis, melainkan juga tantangan sosial yang harus diselesaikan secara kolektif,” katanya.

Tolak Ukur Krisis Pandangan Hidup

Ancaman ketiga yang disoroti Syamsu Riyadi adalah persoalan yang lebih mendasar, yakni krisis pandangan hidup.

Menurut dia, sebagian masyarakat saat ini belum memiliki tujuan hidup yang besar serta agenda-agenda besar, baik secara pribadi maupun kolektif.

“HIV adalah salah satu tolak ukur adanya krisis pandangan hidup. Sebagian masyarakat tidak memiliki tujuan hidup yang besar dan tidak memiliki agenda-agenda besar dalam kehidupan. Padahal hal ini merupakan masalah fundamental dalam peradaban sebuah bangsa,” ujarnya.

Baca Juga  Yang Kaya Semakin Kaya, Yang Miskin Semakin Miskin

Syamsu menjelaskan bahwa bangsa-bangsa besar di dunia dibangun oleh masyarakat yang memiliki cita-cita besar, visi yang jelas, dan orientasi masa depan yang kuat.

Sebaliknya, apabila masyarakat kehilangan orientasi tersebut, maka berbagai persoalan sosial akan mudah muncul dan menghambat kemajuan bangsa.

“Ketika tidak ada agenda besar dalam pikiran kolektif masyarakat, maka dapat dipastikan bangsa tersebut tidak akan maju dan tidak akan menjadi bangsa besar,” katanya.

Menurutnya, membangun peradaban tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Yang lebih penting adalah membangun manusia yang memiliki karakter, visi hidup, serta kesadaran untuk berkontribusi bagi kemajuan masyarakat.

Karena itu, ia berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersama-sama membangun optimisme dan semangat untuk melahirkan generasi yang sehat secara fisik, mental, intelektual, dan spiritual.

Memerlukan Pendekatan Menyeluruh

Kasus HIV yang mencapai 319 orang di Sumatera Selatan menunjukkan bahwa persoalan ini memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Penanganan medis tetap menjadi aspek yang sangat penting, namun penguatan keluarga, pendidikan, nilai-nilai moral, dan pembangunan karakter juga tidak kalah pentingnya.

Syamsu Riyadi menegaskan bahwa pembangunan peradaban harus dimulai dari pembangunan manusia. Sebab, kualitas manusia merupakan fondasi utama bagi kemajuan suatu daerah dan bangsa.

“Persoalan HIV harus dilihat sebagai persoalan bersama. Kita memerlukan kesadaran kolektif agar Sumatera Selatan mampu melahirkan generasi yang sehat, berkualitas, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045,” tegasnya.

Dengan demikian, meningkatnya kasus HIV tidak hanya menjadi peringatan bagi sektor kesehatan, tetapi juga menjadi alarm bagi seluruh masyarakat agar lebih serius membangun kualitas manusia, memperkuat nilai-nilai moral dan agama, serta menumbuhkan cita-cita besar dalam kehidupan bersama.

Editor:  Bangun Lubis

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button