ARTIKEL

Luruskan Pemahaman: Islam Bukan Sekadar Warisan, tetapi Pilihan yang Didasarkan pada Ilmu dan Keyakinan

Islam harus menjadi keyakinan yang tumbuh dari ilmu, perenungan, dan kesadaran

Luruskan Pemahaman: Islam Bukan Sekadar Warisan, tetapi Pilihan yang Didasarkan pada Ilmu dan Keyakinan

Oleh: Bangun Lubis – Wartawan Muslim

Banyak orang berkata, “Saya beragama Islam karena orang tua saya seorang Muslim.” Jawaban seperti ini memang tidak salah. Sebab, banyak di antara kita lahir dan dibesarkan dalam keluarga Muslim.

Namun, seorang mukmin tidak boleh berhenti pada kebanggaan karena mewarisi identitas Islam. Islam harus menjadi keyakinan yang tumbuh dari ilmu, perenungan, dan kesadaran. Seorang Muslim hendaknya mengetahui mengapa ia beriman kepada Allah, mengapa ia mengikuti Rasulullah ﷺ, dan mengapa ia meyakini bahwa Islam adalah jalan hidup yang benar.

Islam bukan agama yang dibangun di atas paksaan, mitos, atau taklid buta. Sebaliknya, Islam berkali-kali mengajak manusia menggunakan akal untuk berpikir, merenung, memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah, lalu sampai kepada keimanan yang kokoh.

Allah Ta’ala berfirman,: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.”(QS. Ali ‘Imran [3]: 19)

Menurut para mufasir, ayat ini merupakan penegasan bahwa sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad ﷺ, seluruh nabi membawa ajaran tauhid, yaitu berserah diri kepada Allah. Syariat mereka bisa berbeda pada beberapa hukum, tetapi dasar agamanya satu, yaitu Islam dalam makna berserah diri kepada Allah.

Allah juga berfirman,: “Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) darinya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.”(QS. Ali ‘Imran [3]: 85).

Ayat ini mengingatkan bahwa keselamatan bukan terletak pada nama atau status sosial, tetapi pada keimanan yang benar dan ketaatan kepada Allah. Karena itu, seorang Muslim hendaknya bertanya kepada dirinya sendiri, “Apakah saya benar-benar mengenal agama yang saya anut? Sudahkah saya mempelajari Al-Qur’an? Sudahkah saya memahami akidah, ibadah, dan akhlak yang diajarkan Rasulullah ﷺ?”

Baca Juga  Perisai Baja Nusantara: Menavigasi Smart War, C5ISR, dan Postur Daya Gentar Asimetris

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting sebagai bentuk muhasabah. Sebab, Islam bukan hanya untuk diakui, tetapi juga untuk dipelajari dan diamalkan.

Rasulullah ﷺ bersabda,: “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya tentang agama.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa salah satu tanda Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba ialah diberinya semangat untuk belajar agama. Orang yang mencintai ilmu syar’i akan semakin mengenal Rabbnya, semakin baik ibadahnya, dan semakin mulia akhlaknya.

Sebaliknya, kebodohan dalam agama sering menjadi pintu masuk bagi berbagai penyimpangan. Ada yang mudah percaya kepada ajaran yang tidak memiliki dasar, ada yang meremehkan salat, bahkan ada yang menganggap semua agama sama. Padahal Allah telah menjelaskan bahwa kebenaran telah datang melalui Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.

Allah berfirman,: “Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah…”(QS. Muhammad [47]: 19)

Perhatikanlah, Allah mendahulukan perintah untuk mengetahui sebelum memerintahkan amalan lainnya. Ini menunjukkan bahwa ilmu adalah fondasi. Amal tanpa ilmu dapat tersesat, sedangkan ilmu tanpa amal tidak akan memberi manfaat.

Imam Al-Bukhari bahkan menjadikan ayat ini sebagai dalil dalam bab *Ilmu sebelum berkata dan beramal*. Para ulama menjelaskan bahwa seseorang harus memahami ajaran agama sebelum mengajak orang lain atau mengamalkannya.

Baca Juga  Manusia di Ambang Kehampaan: Membaca Kegelisahan Zaman dengan Kesadaran Spiritual

Di zaman modern, tantangan seorang Muslim semakin besar. Berbagai ideologi, paham liberal, ateisme, materialisme, dan gaya hidup yang jauh dari nilai-nilai Islam menyebar melalui media sosial. Bila seorang Muslim tidak memiliki ilmu yang benar, ia mudah terpengaruh oleh syubhat dan keraguan.

Oleh karena itu, jadikanlah membaca Al-Qur’an sebagai kebiasaan, menghadiri majelis ilmu sebagai kebutuhan, dan mempelajari hadis Nabi ﷺ sebagai bekal hidup. Jangan merasa cukup hanya karena lahir di keluarga Muslim. Para sahabat Rasulullah ﷺ yang telah dijamin kemuliaannya pun tetap tekun belajar langsung kepada Nabi setiap hari.

Abdullah bin Mas’ud pernah berkata bahwa ilmu bukanlah banyaknya riwayat, tetapi ilmu yang melahirkan rasa takut kepada Allah. Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa tujuan ilmu bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan mengubah hati dan memperbaiki amal.

Marilah kita menjadikan Islam sebagai pilihan hidup yang sadar. Pilihan untuk bertauhid hanya kepada Allah, mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ, mencintai Al-Qur’an, menjaga salat, memperbaiki akhlak, serta terus belajar hingga akhir hayat.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang beriman dengan ilmu, beramal dengan ikhlas, istiqamah di atas jalan-Nya, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”(QS. Ali ‘Imran [3]: 8)

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button